Suatu kesempatan, saya tertantang ketika Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia Wilayah NTT, Lilis Sutikno berkata, “Ayoo… pak, ajak anak-anak untuk menulis, bunda akan bukukan.”
Saya bangun optimisme untuk menjawab bahwa kami siap pada waktunya. Saya mencoba merenungkan kalimat ajakan ini. “Guru saja belum menulis, apalagi para siswanya,” gumamku dalam hati. Telah berulang kali saya mengajak teman-teman guru untuk menulis namun belum menampakkan hasil.
Bagi sebagian orang, aktivitas menulis tentu tidak asing lagi bahkan menjadi bagian dari hidupnya. Menulis (dalam konteks umum) sebenarnya sudah menjadi bagian sejak kita memasuki dunia sekolah. Pada hemat saya, aktivitas menulis tidak ada hubungannya dengan bakat tetapi potensi. Jika kita menggali dan memolesnya secara baik dan berkelanjutan, maka besar kemungkinannya untuk dapat menjadi penulis yang handal. Yakinlah bahwa kita para guru pasti bisa menulis. Persoalannya, kita tidak pernah memulai dan selalu ada dalam bayang-bayang kekuatiran bahwa pastigagal. Mental tidak percaya diri harus ditepis dan dijauhkan sejauh mungkin.
Menulis pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan proses interaksi ide, pikiran, dan gagasan yang dikomunikasikan dari seseorang kepada seseorang atau sekelompok yang lain melalui media tulisan. Penulis mengomunikasikan menggunakan media/wadah tulisan untuk berkomunikasi dengan pembaca.
Oleh karena itu, maka mengacu tuntutan profesi sebagai guru profesional, guru selayaknya memiliki kemampuan untuk menulis baik untuk kepentingan penulisan buku bahan ajar, handout, laporan hasil penelitian, dan sebagainya.
Banyak buku yang menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Coba kita amati buku-buku di perpustakaan atau di toko buku. Kita bisa menghitung berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru kita di NTT. Hampir tidak ada. Jika ada, masih dapat dihitung dengan jari. Cuma beberapa saja termasuk yang mengajar di perguruan tinggi dengan sebutan dosen. Miris sekali. Jangankan buku, pada halaman surat khabar di rubrik Opini khususnya pun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.
Beberapa nama saja yang sering muncul seperti Thomas Sogen, Adrianus Ngongo, Krismanto Atamou dan yang lainnya. Merekalah para penulis yang meramaikan dunia literasi Indonesia khususnya di Provinsi NTT. Mereka giat menulis artikel pada kolom opini harian lokal terbitan NTT. Jenis tulisan seperti ini dalam kelompok tulisan ilmiah populer. Mereka merupakan satu diantara seribu guru yang pandai dan bernas menuangkan ide dan pikiran dalam tulisan.
Pertanyaan berikut yang muncul adalah, benarkah para guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti beraneka ragam. Dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, untuk membuat karya tulis guna kenaikan pangkat saja banyak yang tidak bisa. Padahal guru dituntut untuk menulis agar bisa naik pangkat. Ketidakmampuan ini melahirkan kebohongan yakni dengan cara meminta jasa orang lain mengerjakannya dan bahkan melakukan tindakan pemalsuan. Hemat saya, ini tindakan yang memalukan bahkan merendahkan kredibilitas dan maratabat guru. Seandainya dapat menulis karya tulis sendiri, hal ini merupakan suatu upaya pengembangan diri.
Menulis bagi sebagian besar guru merupakan suatu hal yang mustahil. Banyak guru yang belum bisa naik pangkat karena tidak mau atau tidak mampu menulis karya ilmiah. Padahal perkembangan teknologi dan banyaknya buku yang membahas tentang cara menulis sudah sangat mendukung. Apabila ditelusuri, ada beberapa kategori permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah, yaitu masalah motivasi, masalah kemampuan dan masalah kesempatan. Menurut Darwis Sembiring (dalam Cepi Triatna, 2008), ada empat faktor yang dapat diidentifikasi menjadi penyebab guru sulit menulis, yaitu karena kurang membaca, kurang berlatih menulis, kerancuan dalam berpikir, dan kerancuan dalam berbahasa.
Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru dari menulis. Hendi Hermawan (2006) menyebutkan beberapa keuntungan antara lain: pertama, kegiatan menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru. Rasa senang dan bangga akan memotivasi kita menulis lagi. Nah, bila guru banyak menulis maka sang guru akan sangat termotivasi dan mendapat nilai tambah karena dapat digolongkan sebagai kelompok intelektual.
Kedua, kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai oleh harefa). Jika guru mau menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti nyata seperti membaca referensi atau literatur dan juga membaca realitas sosial.
Ketiga, percaya atau tidak, menulis dapat memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang biasanya menulis dalam media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga bisa memiliki banyak penggemar kalau ia mau menulis.
Keempat, tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah income (pendapatan). Bagi guru, menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi. Kelima, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik guru. Dengan menulis guru bisa menambah angka kredit. Betapa sayangnya kalau guru malas atau tidak bisa menulis.
Dylan Thomas mengatakan, “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan”. Cepi Triatna (2008) lebih lanjut menambahkan bahwa dengan menulis guru akan mendapatkan manfaat. Pertama, menulis menjadi media untuk menuangkan ide, gagasan dan pemikiran akan berbagai hal, khususnya terkait dengan tugas dan fungsinya sebagai tenaga pendidik.
Kedua, menulis merupakan media untuk mengembangkan kemampuan guru dalam memecahkan masalah. Ketiga, menulis bermanfaat untuk kelancaran kenaikan pangkat. Keempat, menulis bermanfaat untuk pengembangan materi atau bahan ajar dalam mata pelajaran yang diembannya. Kelima, tulisan guru akan menjadi investasi bagi dirinya untuk kepentingan akhirat. Dengan menulis ia yakin telah berbuat kebaikan. Keenam, menulis akan mengikat pengetahuan yang dimiliki oleh penulis itu sendiri. Ketujuh, menulis merupakan bagian pertanggungjawaban profesi terhadap stakeholdernya. Kedelapan, menulis juga dapat menghantarkan penulisnya sebagai jutawan. Kesembilan, menulis akan menghantarkan penulisnya sebagai seseorang yang terkenal.
Kunci keberhasilan guru dalam dan untuk dapat menulis yakni berlatih menulis, kemudian menulis dan menulis. Tidak ada hal lain kecuali menulis. Tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukankah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis?
Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, berlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Teringat ucapan populer Bapak Thomas Sogen (salah satu penulis produktif NTT), bahwa dengan menulis akan mendapatkan poin dan koin. Poin yakni reward berupa angka kredit sementara koin ya, apalagi kalau bukan uang. Honorarium atau royalti dari menulis tersebut. Semoga menulis merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi para guru. ***
Penulis: Arnaldo Samuel Ola
Editor: Heronimus Bani







