google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Warga Silu Resah, Ada Pembalakan Liar oleh Oknum Berseragam Tentara

Masyarakat Desa silu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang  yang sebagian wilayahnya masuk dalam kawasan hutan Diklat Sisimeni Sanam akhir-akhir ini resah dan gelisah. Pasalnya, selama hampir dua bulan terakhir ini telah terjadi aksi penebangan kayu jati secara liar di wilayah tersebut oleh oknum tertentu.

Sesuai informasi yang disampaikan kepada media ini pada Minggu (22/08/2021) sore, aksi penebangan terjadi pada malam hari dan hasil penebangannya langung diangkut. Mereka beraksi dari malam hari hingga pagi dini hari.

Salah satu warga yang ingin namanya dianonimkan menyatakan, setelah penebangan yang terjadi di wilayah perbatasan dusun tiga dan Dusun empat dan termasuk dalam wilayah Hutan Diklat, aksi penebangan malah merambah ke pohon jati milik sejumlah warga setempat.

Warga tersebut mengakui, mereka tidak berani menegur karena ada oknum tertentu yang berseragam tentara.

Baca Juga  144 Peserta Ikut Seleksi PPPK di Lokasi TUK SMAN 2 Takari

“Kami tidak berani menanyakan kepada mereka. Ada oknum berseragam tentara” katanya.

Salah satu Aparat Desa Silu yang dikonfirmasi media ini pada Minggu (22/08/2021) sore membenarkan bahwa telah terjadi penebangan liar tersebut. Dirinya juga membenarkan keberadaan oknum  tertentu yang berseragam TNI.

Roni Nguru, salah satu anggota Polisi Hutan wilayah Fatuleu yang dikonfirmasi media ini pada Minggu (22/08/2021) sore membenarkan, memang ada kejadian seperti yang di laporkan masyarakt.

Dirinya mengaku, penelusuran yang dilakukan pihak mereka terkait hal tersebut berhadapan dengan beberapa kendala serius. Roni menduga ada ‘pemain besar’ yang membekingi aksi pembalakan liar tersebut.

Roni menjelaskan, Pihak Kehutanan dan tim mereka sudah bekerja keras sehingga sampai dengan saat ini sudah ada penangkapan terhadap beberapa kontainer yang mengangkut kayu jati ketika melintasi wilayah Naibonat.

“Beberapa kali kami juga lakukan penyergapan, tetapi  tim Kehutanan gagal menangkap mereka karena  diduga informasi aksi sudah lebih dulu bocor.” kata Roni.

Baca Juga  Kukuhkan Pengurus SUFa Amfoang Tengah, Camat Bureni Ajak Kolaborasi

Roni juga beralasan, kerja keras para petugas untuk menangkap para pelaku terkendala pada kurangnya personil dan juga pertimbangan pada masalah Keamanan pihak mereka.

Salah satu tukang sensor dari Desa Oebola yang menurut informasi juga terlibat dan menjadikan rumahnya sebagai tempat penampungan sementara ketika di konfirmasi media ini pada Minggu (22/08/2021) sore menyatakan, dirinya membeli kayu dari masyarakat dan tidak masuk dalam wilayah Hutan Diklat.

Ketika ditanyai soal kelengkapan dokumen penebangan kayu, dirinya mengakui memiliki surat dari Desa. Ketika diminta menunjukan kelengkapan dokumen tersebut, yang bersangkutan malah berkilah tidak pernah menebang kayu di wilayah Desa Silu.

Hingga  berita ini dipublikasi, Kepala Desa Silu belum bisa di mintai informasi terkait kejadian penebangan hutan secara ilegal karena masih dalam keadaan berduka.

Baca Juga  Rayakan Hardiknas 2021, SUFa Akan Kukuhkan Pengurus Kecamatan Ambada

***

Perlu diketahui, hutan Diklat Sisimeni Sanam merupakan suatu areal hutan yang diperuntukan sebagai sarana dan prasarana praktek dalam rangka mendukung kegiatan diklat kehutanan serta sebagai laboratorium alam untuk mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi (Iptek) di bidang kehutanan.

Dari beberapa sumber disebutkan, kawasan Hutan Diklat Sisimeni sanam (RTK.185) Pulau Timor secara keseluruhan telah disahkan sebagai kawasan hutan tetap pada tanggal 25 September 1982 oleh Menteri Pertanian u.b. Direktur Jendral Kehutanan dengan fungsi sebagai hutan produksi terbatas, sehingga kawasan hutan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum.

Kawasan hutan tersebut telah ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Diklat Sisimeni sanam melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 367/Menhut-II/2009 dengan luas ± 2.973,20 ha dan panjang 37,94 km. (Benyamin Banoe)

 

Komentar

News Feed