google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Warga Amfoang Suka Gotong Royong, Modal Bagi Pembangunan di Desa

Gotong Royong atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Amfoang sejak dulu hingga saat ini. Mengerjakan rumah, kebun, pesta adat dan perkawinan, kematian, dan kegiatan lain semacam biasanya dilakukan secara bersama-sama.

Mersi Haryati Radja (Penulis, Bendahara Pengurus Wilayah Solidaritas Pemuda Amfoang).

Umumnya setiap individu merasa harus ikut terlibat dalam kerja-kerja bersama semacam karena dirinya juga akan memiliki pekerjaan atau hajatan yang sama. Makanya dalam kehidupan sosial masyarakat Amfoang saat ini, ketika ada pekerjaan yang manfaatnya akan dinikmati bersama, setiap warga akan terlibat secara sukarela.

Minggu lalu, aksi terpuji ditunjukkan oleh warga di Desa Saukibe di Kecamatan Amfoang Barat Laut. Secara swadaya, mereka bergotong royong bersama pemangku kepentingan di desa mengerjakan perbaikan salah satu jembatan yang hampir ambruk dihantam banjir. Keberadaan jembatan tersebut sangat vital karena menghubungkan akses masyarakat ke desa lain dan kota kecamatan termasuk ke Kota Kabupaten, ke pasar dan fasilitas publik lainnya.

Baca Juga  Kepala Sekolah Ribet dan Rumit Masalahmu
Aksi gotong royong warga Desa Saukibe di Kecamatan Amfoang Barat Laut dalam memperbaiki jembatan yang hampir putus akibat banjir.

Di waktu yang hampir bersamaan, sejumlah masyarakat Amfoang Barat Laut dan Amfoang Utara juga bahu-membahu bergotong royong membantu sejumlah petugas PLN (Perusahaan Listrik Negara) memancang puluhan tiang listrik untuk mengganti puluhan tiang yang roboh akibat erosi di sepanjang jalur hutan Afoan yang menghubungkan wilayah Amfoang Utara dan Amfoang Barat Laut. Saat ini, listrik sudah kembali menyala.

Warga di Amfoang Barat Laut dan Amfoang Utara bergotong royong membantu petugas PLN memancang puluhan tiang listrik pengganti tiang listrik yang roboh akibat longsor.

Tentu masih banyak aksi kerja bersama secara sukarela yang dilakukan oleh warga di tempat lain di Amfoang tetapi tidak sempat terekspose. Warga Amfoang memang masih mengakrabi kebiasaan bergotong royong.

Baca Juga  Invisible Power, Daya Gedor yang tak Kasat Mata

Di musim hujan, ada banyak fasilitas publik yang rusak dihantam banjir, erosi, dan longsor. Juga ada banyak musibah yang dialami banyak warga di Amfoang. Kerja bersama di tingkat warga sangat dibutuhkan. Tidak semua hal yang selalu harus dikerjakan oleh pemerintah. Jika sumberdaya yang dimiliki masyarakat memungkinkan untuk menyelesaikan masalah yang ada, kerja gotong royong memang sangat dibutuhkan.

Salah satu kunci untuk melestarikan budaya gotong royong juga ada pada pemimpin lokal. Yakinkan warga mengenai pentingnya bekerjasama, ikut merencanakan kegiatan, terlibat saat gotong royong, dan yang paling penting tidak berorientasi pada uang. Hari-hari ini sudah banyak kegiatan pembangunan di desa yang sebenarnya bisa dilakukan secara gotong royong tetapi dibuat seolah proyek sehingga ikut menumpulkan semangat bergotong royong tidak sedikit masyarakat. Saling curiga akibat pemanfaatan sumberdaya desa yang tertutup juga mematikan semangat bergotong royong.

Baca Juga  SUFa Ambal Tantang Direktur BUMDES Oelfatu 'buka-bukaan'

Aksi gotong royong yang dilakukan oleh warga di Amfoang Barat Laut, Amfoang Utara, dan di wilayah Amfoang yang lain menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Amfoang yang siap untuk bergotong royong. Tinggal bagaimana para pemimpin lokal mengelola semangat dan kesukarelaan warga untuk bergotong royong sebagai modal dalam kegiatan pembangunan.

 

 

 

Komentar

News Feed