google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Soal Jembatan Talmanu, Daniel Kameo Minta Pemuda Amfoang Lihat Secara Perspektif

Beberapa waktu terakhir ini, kondisi jembatan Talmanu yang menjadi gerbang masuk melalui jalur darat ke wilayah Amfoang bagian pesisir makin berbahaya untuk dilewati kendaraan karena miring dan terancam roboh. Salah satu tiang penyangga di dalam alur sungai yang selama ini sudah miring dan menyebabkan jembatan ikut miring itu terancam roboh. Ketika banjir, tiang penyangga tersebut berayun dan berpotensi untuk lepas. Gelagar jembatan yang termuat di atas tiang penyangga tersebut juga terlihat mulai meregang. Dikhawatirkan ketika tiang yang sudah miring itu lepas, gelagar penyangga penampang jembatan juga ikut roboh.

Kondisi jembatan Termanu yang sudah miring.

Sejak awal Februari 2021, hantaman banjir juga menyebabkan longsor yang menggerus hampir setengah badan jalan sepanjang beberapa meter persis di ujung barat jembatan sehingga dikhawatirkan sisa badan jalan di ujung barat jembatan itu akan roboh dan amblas akibat beban kendaraan atau juga karena hantaman banjir jika meluap ketika intensitas hujan terus tinggi.

Titik di ujung barat jembatan Talmanu yang hampir putus.

Akses transportasi dari dan ke Amfoang bagian pesisir relatif terganggu saat ini. Tidak banyak kendaraan yang berani melintas. Beberapa kendaraan roda empat yang nekat melintas harus menggunakan balok atau papan penyangga yang dimuat pada ujung gelagar jembatan hingga bagian jalan yang kuat sehingga menjadi rel bagi roda di salah satu sisi kendaraan supaya roda dan beban kendaraan tidak langsung menyentuh tanah yang terancam amblas.

Kondisi jembatan yang makin berbahaya dan terancam roboh itu membuat banyak pihak berharap agar pemerintah segera melakukan perbaikan pada tahun ini (2021) sesuai rencana. Tak heran, banyak pihak seperti meradang ketika berhembus kabar beberapa waktu lalu bahwa anggaran perbaikan jembatan Talmanu akan dialihkan karena pemerintah harus memfokuskan ulang anggaran tahun 2021 untuk penanganan wabah covid-19 yang penyebarannya makin massif di NTT saat ini.

Ketika media Suara Amfoang menghubungi Maxi Nenabu, Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT pada awal Februari 2021, Nenabu memastikan bahwa anggaran untuk perbaikan Jembatan Talmanu tidak diganggu dalam agenda refocusing APBD Provinsi NTT. Nenabu juga menginformasikan bahwa pihaknya sementara mempersiapkan dokumen pengadaan berkaitan dengan perbaikan jembatan Talmanu dan proses pengadaannya akan dilakukan secepatnya.

Jerry Manafe, Wakil Bupati Kupang juga bergerak cepat meresponi permintaan sejumlah elemen pemuda dan mahasiswa agar menambah intensitas pelayaran kapal ferry ke Naikliu di kecamatan Amfoang Utara sebagai jalur alternatif selain jalur darat yang melewati jembatan Talmanu. Setelah Manfe memfasilitasi pertemuan antara sejumlah elemen pemuda dan mahasiswa Amfoang bersama pihak ASDP, perhubungan, dan sejumlah pihak terkait, saat ini, kapal ferry sudah pergi-pulang Naikliu secara rutin 2 kali setiap minggu.

Meski begitu, sejumlah pemilik armada transportasi dan pengusaha masih saja nekat melintasi jalur darat melewati jembatan Talmanu saat ini.

Baca Juga  Dinas Peternakan Kabupaten Kupang dukung Revolusi 5P dan TJPS

Ryan Maroe, salah satu pengusaha kios dan pemilik armada transportasi yang beroperasi dari dan ke Amfoang Barat Laut mengaku nekat melintasi jembatan Talmanu karena biaya angkut kendaraan pada kapal ferry yang beroperasi ke Amfoang relatif mahal sehingga barang kios yang diangkutnya harus dijual mahal jika ingin menutupi biaya operasional yang tinggi. Selain itu, alasan Ryan, jika menggunakan kapal laut, mereka tidak bisa membawa Bahan Bakar minyak (BBM) untuk melayani kebutuhan BBM masyarakat di Amfoang Barat Laut.

Ryan lantas berharap agar pemangku kepentingan dapat memberi kebijakan agar kendaraan pengangkut barang milik pengusaha yang menggunakan kapal laut ke Naikliu juga dibolehkan untuk membawa BBM, termasuk adanya semacam subsidi biaya angkut bagi kendaraan yang mengangkut bahan kebutuhan sembako sehingga tidak memengaruhi harga jual kepada masyarakat.

Menanggapi permintaan Ryan Maroe, Jerry Manafe berjanji akan mengomunikasikannnya dengan pihak terkait di Pemerintah Provinsi NTT. Senada, Agustinus Lobo, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi NTT kepada Suara Amfoang pada Selasa (23/02/2021) berjanji akan menyampaikan informasi sesuai keluhan Ryan Maroe dalam rapat kerja bersama pihak Dinas Perhubungan Provinsi NTT.

Daniel Kameo: Pemuda Amfoang Jangan Terkesan Menuntut, Tapi minta Pengertian dan Perhatian.

Profesor Daniel D. Kameo, PhD, salah satu tokoh masyarakat Amfoang yang juga saat ini menjabat staf khusus Gubernur NTT bagian Ekonomi mengapresiasi upaya yang sudah dilakukan oleh para pemuda dan mahasiswa asal Amfoang.

“Apa yang adik-adik lakukan itu sudah benar, yaitu dengan menghubungi mereka yang punya kewenangan untuk membuat keputusan.” ungkap Kameo kepada Suara Amfoang pada Rabu (24/02/2021) sore.

Kameo juga mengingatkan para pemuda agar ke depan, apapun yang disampaikan kepada pemangku kepentingan harus sesuai dengan fakta dan dilakukan dengan cara yang sopan.

“Sampaikan sesuatu tidak dengan kesan menuntut, tapi kita minta pengertian dan perhatian. Untuk perhatian, kita sampaikan data dan fakta seperti sebenarnya agar hati pemangku kepentingan tergerak sehingga memengaruhi pengambilan keputusan. Untuk pengertian, kita yang memberi, dengan memberi data dan informasi, tidak usah dibesar-besarkan, tapi juga tidak ada yang disembunyikan.” kata Kameo.

Menurut Kameo, banyak pihak memang prihatin dengan kondisi jembatan Talmanu dan jalur transportasi dari dan ke Amfoang saat ini, tapi juga harus dimaklumi bahwa di berbagai bagian Indonesia saat ini ada yang mengalami kondisi yang lebih parah sehingga tidak perlu meminta seolah-olah hanya kita sendiri yang tidak mendapat perhatian.

“Lihat saja saat ini, di saat yang bersamaan, di seluruh pelosok Indonesia, bahkan di Ibukota pun ada yang berteriak karena bencana banjir. Karena itu, kalau cuma orang Amfoang yang mengalami kondisi begitu, oke kita ‘perang’, kita tuntut. Tapi ini kondisinya menyeluruh dan masuk kategori kondisi atau bencana alam. Lihat saja di ibukota Negara sekalipun ada puluhan ribu orang mengungsi karena rumahnya terendam banjir.” kata Kameo.

Baca Juga  Linus Lusi: OSIS adalah Laboratorium Kepemimpinan di Sekolah

Kameo lantas menyesalkan dan meminta para pemuda Amfoang tidak meniru sikap pihak tertentu yang mencaci maki pemimpinnya karena merasa tidak diperhatikan.

“Itu di ibukota Negara, banyak pihak juga berteriak di sana, gubernurnya dicaci maki habis-habisan. Tapi, itu tidak menolong. Kamu caci maki gubernur, kamu dapat apa? Kita berdosa karena mulut kita kasar, imbalannya tidak ada.” sesal Kameo.

Bagi Kameo, jika kita mendatangi pemimpin tertentu dengan sikap yang baik ketika ingin menyampaikan aspirasi, pemimpin juga manusiawi sehingga meskipun dirinya tidak suka, tetapi sebagai manusia pasti hatinya tergerak untuk mengambil keputusan.

“Begitu pemuda menggeruduk DPRD dan Bupati secara demonstratif misalnya, bagus juga, tetapi yang jelas simpati tidak akan didapat. Mungkin dapat perhatian, tetapi simpati tidak. Tetapi kalau kita datang dengan sikap baik-baik, dengan komunikasi yang baik, pasti pemimpinnya simpati, tersentuh. Bahkan tidak bisa tidur. Kecuali jika kita dizolimi, kita dianaktirikan, boleh datang secara demonstratif.” kata Kameo.

Kameo kembali mengingatkan para pemuda mengenai pendekatan dalam mengomunikasikan aspirasinya dengan lebih dulu mendekati yang memiliki kewenangan untuk membuat keputusan sebelum mencari alternatif lain.

”Kalau saya bupati, kalian dekati gubernur baru gubernur telepon saya, pasti saya juga tersinggung. Kecuali datang ke Bupati, tidak ada tanggapan, baru ke gubernur.” contoh Kameo.

Sebab menurut Kameo, setiap orang secara alami suka dihormati sehingga jika didatangi dengan tekanan, orang baik sekalipun bisa menjadi orang yang bersikap buruk.

“Manusia itu kalau dihormati, tidak usah disanjung-sanjung, dihormati saja, akan keluar unsur kemanusiaannya seperti prihatin dan simpati.” kata Kameo.

Karena itu Kameo juga mengingatkan para pemuda bahwa kondisi transportasi ke Amfoang saat ini sudah bertahun-tahun dialami masyarakat sehingga dirinya berharap hubungan komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan tetap terjaga.

“Jadi, semua pihak sudah tahu kondisi jembatan Talmanu yang darurat saat ini. Saya sudah komunikasi dengan pak Gubernur, dengan kepala dinas terkait, dengan DPRD. Pihak terkait sudah tahu dan ini merupakan langkah maju karena puluhan tahun ini kita sudah rasakan, sekarang kita bersabar saja. Sekarang ini, kalau pemerintah bilang tahun depan ada anggaran untuk bangun jembatan baru ya sudah, kita sabar lagi kali ini, kita menderita lagi 1 tahun karena dari pada anggaran yang sudah disiapkan kita pakai rehab lalu mubazir, lebih baik tunggu bangun jembatan baru saja.” kata Kameo.

Menurut Kameo, masyarakat Amfoang tentu memahami kondisi saat ini ketika pandemi covid-19 yang tidak diharapkan mengacaukan seluruh agenda pembangunan yang ada sehingga masyarakat bisa bersabar.

Baca Juga  Jalan Aspal Tembus Naikliu, Warga Berterimakasih pada VBL
Pemuda Mesti Lihat Persoalan Secara Perspektif

Profesor Daniel D. Kameo, PhD mengharapkan agar pemuda melihat suatu persoalan secara perspektif, secara menyeluruh, sehingga tidak dianggap sebagai orang yang tidak mengerti.

Prof. Daniel D. Kameo, PhD.

Karena ketika kita memiliki perspektif, jelas Kameo, sesuatu akan dikomunikasikan secara efektif sehingga pesannya sampai tanpa terdistorsi sebab pihak yang mendengar akan memahami kerinduan, aspirasi, dan keinginan yang disampaikan.

“Sebab distorsi komunikasi itu bisa dari teknik atau cara kita menyampaikannya, dan juga dari tatanan yang kita berikan. Kalau kamu datang teriak-teriak, saya kaget, saya tidak dengar apa yang kamu omong. Malah, saya balas teriak. Pesanmu tidak sampai ke saya, dan kita kehilangan banyak waktu, energi, pertemanan, dan sebagainya rusak tanpa ada imbalan apa-apa. Ruginya saja yang kita dapat, untungnya tidak.” jelas Kameo.

Menurut Kameo, aspek tatanan yang memengaruhi distorsi komunikasi berkaitan dengan sesuatu hal yang mesti dilihat secara komprehensif, juga dalam perspektif.

“Misalnya untuk konteks jembatan Talmanu dan kondisi transportasi ke Amfoang, pertama, kita lihat, masalah ini bukan soal kita tidak diperhatikan. Ini bukan masalah khas kita sebab banyak daerah lain di Indonesia, di provinsi NTT yang sama seperti kita, bahkan ada yang kondisinya lebih parah. Ada daerah-daerah kepulauan di NTT yang terisolasi selama gelombang tinggi saat musim hujan. Sementara kita masih memiliki pilihan untuk berhenti di pinggir kali, begitu banjirnya surut kita bisa lewat. Kita bisa lewat Lelogama dan Timau baru jalan kaki. Masih ada alternatif untuk kita.” jelas Kameo.

Kameo menambahkan, perspektif yang dimaksud olehnya juga berarti harus berimbang dalam melihat sesuatu.

“Suatu masalah juga harus diperhatikan secara relatif. Kalau kita omong Amfoang, ada Amfoang Selatan dan Amfoang Tengah yang dulu juga sangat terisolasi tetapi sekarang terbuka lebar. Tidak ada yang puji-puji pemerintah karena jalan aspal yang mulus di jurusan Bokong-Lelogama. Yang kita omong kalau ada bagian kecil yang retak atau lubang. Ini kurang perspektif.” kata Kameo.

Karena itu, Kameo mengharapkan agar persoalan yang berkaitan dengan kondisi jembatan Talmanu dan transportasi ke Amfoang  didudukkan dalam perspektif sehingga adil dan fair.

“Soal jembatan Talmanu, kita sabar saja karena gara-gara covid-19, rusak acara kita. Tetapi sekali lagi kita lihat dalam perspektif, ini bencana dunia sehingga kita jangan mengeluh. 7,5 milyar manusia di bumi ini mengalami hal yang sama. Itu maksud saya kita dudukkan dalam perspektif supaya kita tidak merasa bahwa kita sendiri yang alami. Dengan begitu kita nyaman, kita bisa terima itu. Kalau tidak, pikiran-pikiran negatif merongrong dan menggerogoti energi positif kita dan kita tidak bisa bikin apa-apa.” harap Kameo.

Komentar

News Feed