google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Refleksi Pengetahuan dan Pengalaman Baru Setelah Mempelajari Pemikiran KHD

Paradigma Pembelajaran yang Tidak Sesuai Pemikiran KHD

Peserta Didik atau yang acap disebut sebagai murid atau siswa dalam pemahaman penulis dan sebagian besar guru yang merupakan produk pendidikan ‘gaya bank’ (sesuai istilah Paulo Freire, salah satu pemikir pendidikan kritis asal Brasil) merupakan pihak yang cenderung tidak tahu apa-apa sehingga harus diajari pengetahuan dan keterampilan tertentu untuk dijadikan sebagai bekalnya mengarungi kehidupan selepas dari sekolah. Dalam paradigma tersebut, guru adalah sumber segala informasi dan pengetahuan sehingga murid cenderung pasif dan menjadi subjek ketika pembelajaran berlangsung. Guru adalah sosok paling tahu dan karenanya guru menjadi pihak yang paling sibuk sepanjang kegiatan pembelajaran di kelas. Pembelajaran sepenuhnya berpusat pada guru.

Dalam kondisi ketika pembelajaran sepenuhnya berpusat pada guru, murid berada pada posisi yang kian sulit ketika latar sosial budaya, ekonomi, intelektual, bakat, minat, dan potensi mereka yang beragam seolah tidak mendapat ruang dalam pelaksanaan pembelajaran. Semuanya diseragamkan. Mereka dianggap pintar, cerdas, dan berprestasi ketika nilai-nilai pada aspek kognitif sesuai dengan yang diidealkan guru. Alat atau instrument untuk mengukur keberhasilan belajar mereka dibuat seragam. Guru menggunakan materi pembelajaran dan instrumen penilaian keberhasilan belajar yang seragam untuk menilai murid-muridnya yang latar sosial budaya, intelektual, minat, bakat, dan potensi yang beragam. Sekolah dan proses pembelajaran seolah menjadi tembok yang mengurung kreatifitas murid. Sekolah seolah penjara.

Kegelisahan terhadap posisi sekolah yang dianggap mengurung kreatifitas dan seolah menjadi penjara bagi murid mulai ditunjukkan terang-terangan. Praktik pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga mengurung inovasi dan kreatifitas dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan zaman yang makin berkembang seiring masifnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Seiring dengan itu, paradigma pendidikan yang mulai berubah menempatkan kemanusiaan dan pembudayaan nilai-nilai sebagai esensi dari pendidikan.

Utak-atik kurikulum berlangsung dan kita mendapati, filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD), Bapak Pendidikan Nasional yang menjadi Menteri Pendidikan pertama dalam sejarah kehidupan berbangsa kita, ternyata merupakan warisan pemikiran yang masih sangat relevan untuk diterapkan dalam praksis pendidikan kita saat ini. Ketika banyak pakar pendidikan baru menyodorkan filsafatnya yang menempatkan kemanusiaan sebagai roh dari pendidikan, jauh-jauh hari sebelum Negara ini dibentuk, KHD sudah berkutat dengan filsafat pendidikannya yang kini kita terima sebagai aliran pemikiran yang humanis, yang memiliki esensi pada kemanusiaan.

 

Koneksi Antar Materi dari Pemikiran KHD

Setelah mempelajari pemikiran KHD, penulis mendapati banyak hal darinya yang bisa diterapkan dalam praksis pendidikan kita saat ini. Berikut beberapa kesimpulan dan refleksi pengetahuan baru yang penulis dapatkan setelah mempelajari pemikiran KHD.

Pendidikan menurut KHD adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan dimaksudkan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

KHD menggunakan kata ‘menuntun’ karena baginya, kodrat dasar yang dibawa anak sejak lahir tidak bisa diubah oleh guru atau pendidik. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

Baca Juga  Pangkat Terakhir Parkir di Sini Saja

Karena hanya menuntun, anak mesti diberi kebebasan agar merasakan kemerdekaan lahir dan batin dalam proses pembelajaran (tidak hanya merdeka lahir dan batin sebagai pencapaian dari proses pendidikan). Dalam proses yang menjamin kemerdekaan lahir dan batin itu, pendidik mesti melihat kodrat lingkungan, dari mana anak berasal (latar sosial budaya, ekonomi, bakat, minat, dan potensi) dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan ‘sifat’ dan ‘bentuk’ lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan ‘isi’ dan ‘irama’.

KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut “Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan”.

KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

KHD memberikan gambaran ideal seorang pendidik yang bisa menjadi penuntun tumbuh kembangnya anak dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, yakni pendidik yang ‘di depan memberi teladan (Ing ngarsa sung tuladha), di tengah memberi kesempatan untuk berkarya (Ing madya mangun karsa, dan, dari belakang memberi dorongan dan arahan (Tut wuri handayani). Gambaran ideal seorang pendidik sesuai filosofi KHD, bagi penulis, sekaligus merujuk pada posisi relasi dan interaksi yang membingkai komunikasi antara pendidik dan murid.

Pendidik yang memosisikan dirinya sesuai filosofi KHD juga sekaligus dapat membentuk karakter moral dari murid. Bagi KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.

Baca Juga  Banyak Desa di Amfoang Belum Taat Asas Pengelolaan Keuangan Desa

Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan pusat pendidikan lainnya. Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antar satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, selain pendidik mesti menjadi pemberi teladan, pemberi kesempatan berkarya (fasilitator), dan pemberi motifasi, pendidik juga harus menggunakan alat yang sesuai dengan minat dan perkembangan fisik serta emosi anak. KHD menekankan pentingnya permainan sebagai alat dalam proses pembelajaran. KHD menjelaskan, permainan anak Jawa seperti: sumbar, gateng, dan unclang ang mendidik anak agar saksama (titi paritis), cekatan, menjernihkan penglihatan dan lain-lain. Kemudian juga permainan seperti: dakon, cublak-cubak suweng dan kubuk yang mendidik anak tentang pengertian perhitungan dan perkiraan (taksiran). selain itu, permainan gobag, trembung, raton, cu, geritan, obrog, panahan si, jamuran, jelungan, dan lain-lain.nya yang bersifat olahraga yang tentunya akan mendidik anak dalam hal: kekuatan dan kesehatan badan, kecekatan dan keberanian, ketajaman dalam penglihatan dan lain-lain ada juga permaianan seperti: mengutas bunga (ngronce), menyulam daun pisang atau janur, atau membuat tikar, dan pekerjaan anak lainna yang dapat menjadikan mereka memiliki sikap tertib dan teratur. KHD meyakini para pendidik termasuk orang tua yang biasa mendidik anak-anaknya bisa menggunakan permainan yang ada di sekitar mereka dalam mengembangkan metodenya sendiri dalam pembelajaran bersama anak atau murid.

Bagi penulis, roh dari filosofi pendidikan yang disodorkan KHD adalah penekanannya agar penyelenggaraan pendidikan mesti dibingkai semangat untuk ‘berhamba pada anak’ dan memandang anak dengan penuh rasa hormat. Ini juga sejalan dengan cara berpikir dalam banyak komunitas budaya termasuk di Timor, daerah penulis, meski pemikiran KHD tidak pernah dipelajari secara langsung. Karena, pemahaman hampir semua komunitas budaya yang menganggap anak sebagai generasi penerus keluarga yang harus dijaga dan dilindungi dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas, dimanifestasi pada kebiasaan menuntun anak dengan pembiasaan positif dalam rumah dengan memberi penugasan pada kegiatan atau pekerjaan tertentu, yang bertujuan untuk membentuk karakter jujur, pekerja keras, mandiri, dan bertanggung jawab.

Suku dawan di daerah Timor NTT, memiliki filosofi “Nekmes Ma Ansaomes” suatu ajakan kepada semua pihak agar turut serta dalam pembangunan termasuk usaha pendidikan anak dalam semangat “Matob Mafit” (bergandengan tangan). Dalam praktik keseharian, orang tua yang ada pada suku Dawan melakukan hal- hal yang sebenarnya sejalan dengan pemikiran KHD, antara lain; 1) memiliki Neksalit atau impian. Dalam kondisi apapun, meski makan ubi rebus dan nasi jagung, orang tua mempunyai mimpi agar anaknya kelak menjadi ‘orang’, sehingga para orang tua di Timor menekankan pembentukan karakter jujur, pekerja keras, mandiri, dan bertanggung jawab kepada anak sejak usia dini. 2) Mepukait atau usaha, sebagai cara orang tua di Timor membentuk karakter anak yaitu membentuk pembiasaan- pembiasaan positif dalam rumah, misalnya anak perempuan memasak, anak laki-laki mencari kayu api dan juga kegiatan yang dilakukan secara bersama seperti membersihkan halaman rumah. 3) Fainekat atau nasihat yang disampaikan saat makan bersama, yakni orang tua membuka ruang komunikasi dan diskusi dan juga memberi nasihat dan pencerahan kepada anak-anaknya. 4) Kuma atau motivasi. Orang tua memberi motivasi kepada anak- anaknya agar bertumbuh menjadi generasi penerus yang berkarakter, pekerja keras, mandiri, bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur.

Baca Juga  Penentu Tinggi-Rendahnya Garis Kemiskinan di NTT

 

Perubahan Pemikiran dan Perilaku Setelah Mempelajari Pemikiran KHD

Setelah mempelajari filsafat pendidikan yang digagas KHD, ada beberapa perubahan dalam pemikiran yang penulis alami. Mulai dari cara melihat dan menempatkan murid sehingga memengaruhi pola interaksi hingga cara penulis menempatkan diri dalam relasi dan interaksi, termasuk, cara penulis memberikan penilaian atau mengukur keberhasilan belajar dari setiap murid.

Penulis percaya, setiap murid datang ke kelas dengan latar sosial budaya, ekonomi, minat, bakat, dan potensi yang berbeda-beda. Setiap murid punya latar intelektual yang berbeda. Setiap murid punya potensi kecerdasan yang berbeda. Seperti analogi yang digunakan KHD, pendidik yang hanya bisa menuntun tumbuh kembang anak sama seperti seorang petani, sehingga tidak bisa merawat tanaman padi seperti merawat jagung atau sebaliknya. Karena itu, setiap anak yang modal kecerdasan (sesuai teori kecerdasan jamak), modal gaya belajar (audiotori, visual, kinestetik), dan kodrat alam yang beragam tidak boleh mendapat perlakuan yang seragam dalam kegiatan pembelajaran.

Penulis berusaha untuk tidak menyeragamkan anak-anak atau murid yang beragam kodrat alam dan modal intelektualnya dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Murid yang nilai kognitifnya rendah tidak boleh dianggap sebagai murid yang bodoh dan berpotensi tidak sukses dalam hidupnya. Guru harus mendampinginya, menemukan bakat, minat dan potensinya, lantas mengembangkannya. Pengalaman penulis, banyak anak yang nilai matematikanya ‘nol’ tetapi memiliki kemampuan melaut, memperbaiki mesin, bertukang, dan ketrampilan lain yang memungkinkannya mendapatkan banyak uang.

Ketika penulis memahami kondisi murid, relatif ada jaminan dalam kemerdekaan belajar ketika pembelajaran berlangsung. Murid tidak akan merasa terbeban, pembelajaran berlangsung tanpa ancaman (sanksi, hukuman, olok-olok, dan kekerasan lainnya), dan guru maksimal menempatkan dirinya sebagai pemberi teladan, pemberi kesempatan untuk berkarya, serta pemberi motifasi atau semangat.

Dengan suasana pembelajaran yang demikian, pesan belajar diharapkan sampai dan diterima oleh murid. Tidak hanya tumbuh kembang anak yang bisa dituntun dalam suasana pembelajaran yang didasari pengertian atas kodrat alam anak dan sarat jaminan rasa aman, tetapi karakter anak yang sesuai dengan karakter pelajar Pancasila bisa dibentuk. Seperti kata Thomas Lickona dalam Educating for character, sikap guru yang santun dan penuh hormat kepada anak adalah pelajaran moral yang pertama dan utama. Dengan begitu, pendidikan sebagai usaha membudidayakan nilai jadi tercapai. Semoga…

Komentar

News Feed