google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Pemimpin yang Egaliter VS Pemimpin Bermental Asal Bos Senang

Seorang pemimpin yang egaliter memiliki sifat (kepemimpinan) yang merangkul semua golongan dalam konteks posisi relasi dengan siapapun dalam rentang kendali kewenangan yang dimilikinya. Memberi ruang maksimal pada demokrasi (yang substansif) adalah bagian dari ciri pemimpin yang egaliter. Karenanya, keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan, dan arahan-arahannya, selalu lahir dari proses diskusi yang matang dan akomodatif terhadap perdebatan. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan selalu objektif. Derajat penerimaannya tinggi. Karena tidak saja akomodatif dalam prosesnya, tetapi mengakomodasi semua aspek yang mesti diperhitungkan berkaitan dengan akibat dari penerapan kebijakan yang dihasilkan. Kebijakan yang akomodatif karena bersandar pada analisis situasi yang komprehensif cenderung dianggap logis. Sebaliknya, jika kebijakan dibuat karena menyimpulkan situasi dan kondisi tanpa basis premis yang benar, ada resiko untuk dianggap tidak masuk akal.

Keputusan dan kebijakan yang lahir dari kesimpulan berpikir yang terburu-buru (instan) dan emosional selalu memiliki resiko untuk dianggap tidak objektif, dan juga tidak logis. Karena itu, pemimpin yang egaliter selalu melibatkan banyak kepala untuk menghasilkan keputusan dan kebijakan. Proses berpikir yang mendalam, sistematis, logis, dan objektif selalu ada dalam ruang diskusi yang egaliter. Pertengkaran-pertengkaran ide, juga perdebatan-perdebatan sengit, selalu jadi teman dalam ruang diskusi yang difasilitasi seorang pemimpin yang egaliter. Pemimpin yang egaliter selalu jadi teman diskusi dan debat bagi siapapun tanpa pandang posisi dalam relasi kekuasaan atau kewenangan.

Baca Juga  58 Calon Perangkat Desa Ujian Tulis di Kantor Kecamatan Takari

Pemimpin yang egaliter juga cenderung tidak takut pada atasan. Hormat dan santun pada atasan juga menjadi ciri dari pemimpin yang egaliter. Keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan, dan arahan atau perintah yang cenderung tidak objektif dan juga tidak logis akan dinegosiasikan secara santun dan hormat pada atasan. Tidak asal menurut. Berbarengan, hormat dan santun pada bawahan juga melekat dalam diri seorang pemimpin yang egaliter.

Pemimpin yang egaliter akan memperlakukan bawahan secara hormat dan santun sama seperti laku dan sikapnya pada atasan. Misalnya, tidak menyapa bawahan atau yang lebih rendah posisinya (sosial, ekonomi) dengan sebutan “Lu”, “buta huruf”, “monyet”, dan sapaan sejenis (catatan: Lu adalah bahasa Kupang, digunakan dalam pergaulan orang-orang tidak terdidik saat menyapa orang lain karena menganggap yang disapa memiliki derajat di bawah). Misalnya merespon pesan (WA, FB, SMS) dari bawahan dengan sangat singkat dan buruk atau bahkan tidak membalas/merespon sama sekali, tetapi membalas dengan kata-kata/diksi terpilih dalam kalimat panjang untuk atasan atau yang dianggap lebih tinggi. Juga, misalnya memiliki bahasa tubuh dan sikap yang arogan dan merendahkan pada yang dianggap lebih rendah sementara sikap dan laku pada atasan atau yang dianggap lebih tinggi seperti hendak merayap, dan menyembah, dan penuh puja-puji.

Baca Juga  Bernat Taneo: SUFa harus Cinta Kekayaan Budaya Amfoang

Pemimpin yang egaliter tidak takut berbeda pendapat dengan atasan. Juga tidak takut berdebat, jika perlu. Pemimpin yang egaliter anti pada sikap yang arogan dan intimidatif pada bawahan atau yang dianggap lebih rendah (Secara posisi/jabatan, social, ekonomi). Dengan siapa saja, dari bocil yang ‘kamomos’ hingga pejabat yang berkuasa besar, pemimpin yang egaliter akan berlaku sama santun dan hormat. Baik dalam perbuatan, perkataan, dan pikiran. Pemimpin yang egaliter tidak menghamba pada jabatan/kekuasaan dan uang sehingga tidak takut digusur/dipecat karena berbeda sikap dan kepentingan dengan pimpinannya.

Baca Juga  IRDA Audit Dana Desa di Ambada Pada November 2020

Bagi pemimpin egaliter, yang menjadi motivasi sikap dan perilakunya adalah nilai-nilai kebajikan yang berlaku universal. Posisi kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya hanya menjadi alat bagi perjuangan nilai yang dianuti. Pemimpin egaliter selalu hormat dan santun pada siapapun, tetapi sekaligus tidak takut dan gentar dengan siapapun. Karena basis sikap dan perilakunya adalah nilai. Karena pemimpin yang egaliter selalu menempatkan siapapun sebagai yang sama dan setara di hadapan Tuhan. Pemimpin egaliter adalah kebalikan dari pemimpin bermental Asal Bos Senang (ABS).

Komentar

News Feed