Sore yang mendung di akhir Mei 2025, ketika penulis ikut dalam rombongan kecil yang bergerak menuju hutan Tamel di seberang Desa Netemnanu, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, NTT. Kami hendak mengikuti kegiatan panen madu liar, biasanya disebut potong lebah oleh warga Amfoang, yang sudah berlangsung seminggu sebelumnya. Rombongan yang lebih besar sudah ada di hutan Tamel.
Setelah menitipkan kendaraan yang digunakan dari Oepoli di Desa Netemnanu Utara, sekira 12 kilo meter dari Desa Netemnanu, kami berjalan kaki sekira lima kilo meter menyusuri badan sungai Noel Fael, lalu mendaki sejauh sekira lima kilo meter lagi menuju dataran di kaki puncak Gunung Tamel. Melewati jalan setapak bekas jalan sapi yang tak bisa dilalui sepeda motor, kami beriringan menyibak rumpun rumput putih untuk melangkah. Rerumputan yang menjadi semak mudah terbakar di musim kemarau itu memang masih hijau dan lebat, dan kadang membuat kami harus membungkuk dan merangkak puluhan meter, juga agar tak tersangkut duri tajam yang menyamar di antara rerumputan.
Tanjakan dengan kemiringan sekira 45 derajat sepanjang beberapa kilometer itu membuat jantung dan paru-paru jadi kembang kempis. Memanggul sejumlah perlengkapan dan bekal makan minum, berulangkali kami harus berhenti. Keringat mengucur deras, napas juga ngos-ngosan.
Bersama kami juga ikut dua anggota TNI yang bertugas di Pos Angkatan Laut (POSAL) Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur. Keduanya sering dipanggil Abang Muis dan Abang Yakrel. Selain ingin terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, mereka juga penasaran untuk mengetahui proses mendapatkan madu dari lebah liar di Amfoang.

Menjelang magrib, kami tiba di lokasi penginapan. Hanya ada beberapa perempuan yang berjaga di sana. Mereka yang bertanggungjawab mengurus dan menyediakan kebutuhan makan dan minum bagi semua peserta. Semua lelaki dalam rombongan besar itu sudah bergeser ke salah satu titik lokasi panen sejak hari masih sore. Malam itu, belasan sarang lebah di salah satu pohon siap dipanen, tetapi hujan yang tiba-tiba turun membuat mereka harus kembali ke penginapan. Dahan pohon sangat licin untuk dipanjat, sehingga yang bertugas untuk memotong sarang lebah tidak mau ambil resiko. Kami lewatkan malam pertama di hutan Tamel tanpa aktivitas panen madu (potong lebah).
Madu jadi Ikon Amfoang
Hingga hari ini, Madu masih merupakan salah satu hasil hutan yang menjadi ikon Amfoang, wilayah bekas swapraja Amfoan yang terletak di ujung timur wilayah kabupaten Kupang, Propinsi NTT dan berbatasan langsung dengan negara Republik Demokrat Timor Leste.
Madu Amfoang memiliki rasa yang khas, mungkin karena sari madunya diambil dari bunga berbagai jenis tumbuhan tropis di Amfoang. Oleh masyarakat Amfoang, madu disebut onij atau oni haug (oin hau). Oni artinya gula, sedangkan haug (hau) maksudnya pohon.

Menurut pengalaman dan pemahaman masyarakat Amfoang yang diwarisi secara turun – temurun, Madu Amfoang dibagi menjadi 3 jenis menurut waktu panen dan jenis sari madunya, yaitu; oni tolo’, oni hu’el, dan oni manas.
Oni tolo’ adalah sebutan untuk madu yang dipanen pada akhir Desember hingga awal Januari. Tolo’ artinya tunas atau kuncup. Mungkin karena biasanya berbagai jenis tumbuhan mulai mengeluarkan tunas baru saat panen sehingga di sebut oni tolo’. Pada madu jenis ini, proses dimulai dari lebah bersarang hingga panen membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 1 bulan lebih. Sari madu untuk oni tolo’ berasal dari campuran segala jenis bunga, didominasi sari bunga asam dan tuba/tufel.
Oni hu’el dipanen pada akhir Mei hingga akhir Juni. Sari madunya berasal dari kayu putih (Eucalyptus sp) yang disebut hu’el dalam bahasa Amfoang dan campuran sari dari berbagai jenis rumput. Berdasarkan pengalaman para pemanen/pemotong yang disebut ahelit (e bunyi elang), jika dipanen tepat waktu, penghasil madunya didominasi oleh sari bunga pohon hu’el sehingga rasanya sangat manis dan kandungan airnya sangat sedikit sehingga madunya kental dan agak pekat. Madu jenis ini juga memiliki aroma yang wangi dan khas. Jika dipanen terlambat, oni hu’el sudah tidak memiliki aroma wangi dan tidak terlalu kental. Lebah membutuhkan waktu 3 hingga 4 bulan dimulai dari waktu bersarang hingga menghasilkan madu jenis ini (oni hu’el).
Sedangkan oni manas dipanen pada pertengahan bulan September hingga awal bulan Oktober. Rasa madu jenis ini agak asam karena sari madunya dominan diambil dari sari bunga pohon kusambi. Madu jenis ini lebih encer dibanding oni tolo dan oni hu’el. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan madu dihitung dari saat lebah mulai bersarang hanya 1 bulan, sebab lebah pekerja mengambil sari madu pada siang dan malam hari saat bulan bersinar.
Hanya oni hu’el yang paling kental, aromanya wangi dan rasanya lebih lezat dibanding 2 jenis yang lain. Hasil penelitian beberapa pihak menunjukkan bahwa kandungan air dalam madu amfoang hanya sekitar 16–17 % dan debu 0,6 %. Padahal, standar ekspor madu dunia tidak boleh lebih dari 18 % kandungan air dan 1 % kadar debu. Sehingga, Madu hutan yang berasal dari Amfoang diakui sebagai madu yang kualitasnya sangat baik menurut standar ekspor dunia.
Pohon yang biasa dihinggapi lebah disebut Pohon Fanik. Jenis pohon fanik yang biasa dihinggapi lebah, dalam bahasa setempat, antara lain pohon bonak, besak, nekug, nunuh, nekel/kapuk hutan, nisa, angkaij, aklaog, dan hu’el (kayu putih). Tidak semua pohon dari jenis pohon ini dihinggapi lebah. Hanya di lokasi tertentu saja. Di pohon kayu putih (hu’el) biasanya paling banyak hanya ada 2 sarang lebah. Lebah lebih banyak bersarang di pohon Nisa, Nekel, dan Nunuh. Bisa sampai 50 sarang atau lebih tergantung dari besar pohonnya.
Peralatan Panen Madu
Dalam kegiatan memanen madu, terdapat sejumlah peralatan penting yang digunakan oleh para pemanen. Salah satu alat utama adalah lug atau nug, yang berfungsi untuk mengasapi lebah agar menjauh dari sarangnya sebelum sarang tersebut dipotong atau diambil. Alat ini terbuat dari sabut kelapa yang diikat bersama batang rumput suf muti atau jenis rerumputan lainnya. Bentuknya memanjang lebih dari satu meter, dengan diameter seukuran lengan orang dewasa. Di kedua ujungnya diikat tali agar bisa dipanggul oleh ahelit saat memanjat atau merayap di dahan pohon.
Peralatan penting lainnya adalah pisau potong, yang digunakan untuk memotong sarang lebah dari tempatnya menempel. Setelah itu, sarang lebah ditampung dalam kola onij, yaitu sejenis bakul tradisional yang awalnya terbuat dari anyaman dan dilengkapi tali di empat titik. Kini, kola onij telah diganti dengan ember plastik yang diberi tali. Ember ini berfungsi menampung sarang lebah yang akan diturunkan ke bawah, dan juga bisa digunakan untuk mengirim kembali lug atau nug cadangan kepada ahelit jika api dari alat sebelumnya telah padam.

Selain itu, tali digunakan untuk menurunkan kola onij yang berisi sarang lebah ke bawah melalui sistem katrol manual yang disebut a’nono. Tali ini menjadi bagian penting dalam proses pemanenan karena memungkinkan pengangkutan sarang lebah secara aman dari atas pohon ke tanah.
Peralatan terakhir yang tak kalah penting adalah anabat, yakni tali kecil yang digunakan untuk mengikat oni mauf, yaitu bagian sarang lebah yang mengandung larva. Pengikatan ini berguna untuk menjaga bagian sarang tetap utuh dan memudahkan penanganan saat proses panen berlangsung.
Biasanya, sementara yang lainnya menyiapkan peralatan potong/panen, ada kelompok lain yang ditugaskan memasang tangga dan membersihkan rerumputan di sekitar pohon fanik. Dulu, sebelum agama dikenal, semua akan berkumpul dan melakukan ritual adat sebelum tangga dipasang.
Lebah Sebagai Saudari Perempuan
Lebah dianggap sebagai feto naij (saudari perempuan) atau feto apoi mone, saudari perempuan yang berada di luar rumah. Dalam pemahaman orang Timor (atoin meto) yang masih terlihat dari isi syair tertentu dalam ritual yang berhubungan dengan lebah, setiap atoin meto harus menyediakan kebutuhan bagi saudari perempuannya berupa nektar yang ada di pepohonan. Dalam beberapa syair ketika atoin meto di Amfoang melakukan ritual untuk mengajak lebah bersarang di hutan ulayat mereka, ada penggal syair yang berbunyi “an mu’i pup muti am pup molo,” yang artinya merujuk pada kesiapan atoin meto untuk menyediakan bunga-bunga tanaman atau pepohonan yang mengandung nektar.
Lebah dinilai sebagai saudari perempuan yang sensitif dan menuntuk kemurnian hati setiap atoin meto yang berinteraksi dengannya. Ada semacam kepercayaan, orang pertama yang memasang tangga hingga mendekati dahan utama pohon biasanya menjadi figur penting yang dapat mempengaruhi komunikasi dengan lebah saat proses pemotongan/panen madu berlangsung. Selain Dia, orang yang akan melakukan basan, syair adat, sebelum para ahelit naik ke atas pohon juga menjadi figur kunci. Ahelit juga dituntut tidak boleh menyimpan masalah, kebusukan hati, dan hal sejenis lainnya yang berkaitan dengan hubungannya dengan sesama. Keyakinan semacam ini masih tetap mengakar, sebab hingga saat ini, lebah masih dianggap sebagai saudari perempuan, feto naij/feot naij, dalam kehidupan sosial masyarakat Amfoang yang menginginkan kemurnian hati.
Jika pemasang tangga termasuk yang basan memiliki hati yang tidak baik, misalnya suka selingkuh, suka mencuri, atau sementara menyimpan kepahitan hati dengan sesama saudara, feot naij di atas pohon tidak akan ramah. Sengatannya akan terasa menyakitkan, hingga meresap ke dalam daging dan tidak akan cepat berlalu rasa sakitnya. Bahkan, khusus ahelit yang hatinya tidak baik, selain sengatannya menyakitkan, resiko kecelakaan hingga meninggal tidak akan jauh darinya. Ada semacam lelucon yang masih ada hingga saat ini, jika ada ahelit yang enggan untuk naik pada musim panen lebah, bisa jadi Dia punya selingkuhan.

Karena itu, heli onij (panen madu) dianggap sebagai ritual yang sakral. Sebab, feot naij menuntut kemurnian hati. Feot naij juga tidak suka wewangian. Makanya ahelit dilarang menggunakan sabun mandi ketika mandi selama beberapa hari sebelum heli onij. Wewangian seperti parfum atau minyak rambut juga menjadi barang pemali buat ahelit.
Bukan berarti feot naij tidak akan menyengat sama sekali jika ahelit memiliki hati yang murni. sengatan feot naij tetap dirasakan para ahelit. Hanya, dirasa tidak menyakitkan jika dibanding dengan yang hatinya tidak bersih terutama pada lelaki yang memiliki selingkuhan. Selain itu, rasa sakitnya tidak akan bertahan lama. Kadang– kadang, bahkan ada ahelit yang merindukan sengatan lebah karena badan menjadi lebih segar setelah itu.
Proses Panen Madu
Proses Panen (Heli Onij) dimulai ketika masing – masing ahelit mulai menaiki pohon. Yang mengikat tangga mendapat giliran pertama. Di atas pohon, selain ahelit (pemotong/pemanen), juga ada anonot, petugas yang khusus untuk menurunkan oni mauf dan oni nakaf untuk diterima oleh yang bertugas di bawah pohon.
Masing– asing ahelit mulai berjalan atau merayapi dahan pohon yang ada sarang lebahnya.
Biasanya, setiap ahelit akan memastikan kelenturan pohon dengan cara menekuk ranting sebesar lengannya sebelum mulai bergerak ke arah sarang lebah. Jika ranting tersebut patah, ahelit tidak akan berani merayap hingga ujung dahan yang kecil. Selain itu, goyangan dahan juga diperhatikan ahelit. Ketika dahan bergoyang atas bawah saat ahelit bergerak mendekati ujung, artinya dahan yang dilewati tidak lentur dan gampang patah. Jika demikian, sarang lebah yang ada di ujung dahan akan dibiarkan. Sebaliknya, jika dahan bergerak kiri kanan, kelenturannya tidak diragukan sehingga sarang yang terletak diujung dahan juga akan dipanen.

Ahelit akan memulai mengasapi lebah dari sarang pertama yang dilaluinya. Sarang lebah diasapi satu persatu dimulai dari yang paling dekat cabang utama hingga ujung dahan. Lebah akan meninggalkan sarangnya begitu diasapi. Setelah semua sarang lebah dalam dahannya telah diasapi, ahelit mulai melakukan pemotongan sarang lebah.
Umumnya, sarang lebah berukuran paling kurang sekitar 80 cm x 50 cm. Bagian sarang lebah yang biasa dipotong ada 2 bagian, yakni oni mauf dan oni nakaf. Oni mauf merupakan bagian yang berisi larva lebah, terletak dibagian bawah. Jika larva dalam oni mauf sudah tua, dibuang saja. Jika larvanya masih kecil seperti ulat, akan diambil untuk dimakan.
Oni nakaf sendiri merupakan bagian sarang lebah yang berisi madu. setelah madunya diperas habis, sisanya digunakan untuk diolah sebagai lilin. Ada bagian tertentu di oni nakaf yang disebut palel, merupakan tampungan sari makanan yang belum terpakai sehingga belum ada madunya. Bagian ini biasanya dibuang. Palel sendiri adalah kumpulan sari makanan yang menjadi makanan lebah. Jika palel-nya habis, madu yang sudah dihasilkan akan dimakan kembali oleh lebah hingga madunya habis dan lebah akan terbang/berpindah ke tempat lain. Makanya lebah mesti dipanen sebelum palel-nya habis.
Pemotongan dimulai dari sarang yang paling ujung atau paling terakhir diasapi. Oni mauf yang akan dipotong lebih dahulu, kemudian digulung untuk diikat menggunakan tali kecil. Setelah oni mauf dipotong dan digantung didekat oni nakaf, kola onij akan diikat menggunakan simpul tertentu tepat di bawah oni nakaf yang mengandung madu. Oni nakaf segera dipotong dan ditampung di kola onij. Begitu selesai, tali kola onij yang terikat di dahan dan terhubung dengan tali utama ditarik oleh ahelit menuju sarang lebah berikut hingga sarang terakhir di dekat cabang utama. Lalu, kola onij ditarik menuju anonot untuk diturunkan menggunakan tali dan kola onij besar atau ember besar pada yang bertugas di bawah pohon. Kadang – kadang, oni mauf dari semua sarang di dahan yang sama dipotong lebih dulu dan diantar ke anonot baru oni nakaf dipotong. Tetapi khusus pemotongan oni nakaf, harus selalu dimulai dari sarang diujung dahan hingga yang dekat dengan cabang utama. Ini dimaksudkan agar ahelit tidak melewati dahan yang sudah terlumuri madu sebab sangat licin. Ahelit yang biasanya lebih tahu teknisnya seperti apa.
Ada pohon tertentu yang lebih cocok heli onij dilakukan pagi hari atau bulan terang. Biasanya ini diketahui berdasarkan pengalaman. Jika dipotong pada pagi hari, ada satu petugas lagi yang namanya Ana’ Lu Bokog atau pemegang lug induk. Lug yang dipegang olehnya adalah lug yang paling besar yang diameternya setengah meter dan memiliki panjang hingga lebih satu meter. Dia hanya duduk di dahan yang diperkirakan terletak di tengah-tengah pohon dan memudahkan pengaturan asap agar asapnya menyebar seimbang diantara ahelit.
Di bawah pohon, oni mauf yang diterima akan dikumpulkan untuk dibagi – bagi setelah heli onij selesai. Sedangkan oni nakaf akan diremas kuat, seperti meremas santan dari kelapa, sehingga madunya keluar. Proses meremas dilakukan dalam ember. Madu yang tertampung dalam ember kemudian dimasukkan dalam botol atau jerigen yang ada. Ampas dari oni nakaf bisa diolah lebih lanjut menjadi lilin.
Nel, Syair Panen Madu di Amfoang
Sejak ahelit mulai menaiki pohon tadi, lantunan syair yang disebut nel sudah memenuhi langit malam. Nel dinyanyikan dengan irama dan ritme tertentu, hampir seperti rap tetapi lebih lambat dan intonasi suaranya mendayu – dayu.
Nel yang dinyanyikan dalam proses heli onij dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan isi syair dan tujuannya. Yakni nel masi’uf jika isi syairnya berisi saling olok dan saling sindir antar ahelit ataupun antara ahelit dengan yang di bawah pohon. Misalnya ada ahelit yang ingin mengolok–olok rekannya yang tidak bisa naik pohon, maka dia melantunkan nel masi’uf.
Jenis nel yang lain adalah nel oe oni. Isi syairnya berupa puja – puji kepada lebah sebagai feot naij agar lebah tidak berpindah tempat dan kembali pada musim panen/potong kali berikut. Saat mengikuti proses panen madu pada akhir Mei 2025, semua ahelit yang terlibat ternyata tidak bisa melantunkan syair nel. Karena itu, dalam sebuah kesempatan diskusi pada awal Juni 2025 bersama pak guru Marchus Yepson Maus, S.Pd.,Gr., salah satu tokoh muda Amfoang yang cukup fasih memahami adat dan budaya atoin meto Amfoang, penulis diberi beberapa syair nel yang biasa dilantunkan saat proses panen madu.

Pak guru Marchus sesuai penjelasannya membagi syair nel yang dilantunkan dalam tiga jenis nel, yakni nel yang dilantunkan oleh ahelit, nel yang dilantunkan oleh peserta yang berada di bawah pohon ketika ahelit sementara memanen madu, dan juga nel yang dilantunkan oleh semua peserta.
Berikut beberapa contoh syair nel seperti yang disampaikan pak guru Marchus.
Oh…. Oh ….Eh ….Oh ….Ton Neu Ton
Bi Molo Kait Bi Metan
In Tupat, Al He Hal Koe Besi Oh….
Nel tersebut dilantunkan oleh semua peserta ketika tiba di pohon tempat proses panen madu akan dilakukan.
Oh…Oh …Eh ..Oh…Lo Nupu-nupu….
Lo Nup Ba Ne….
Oh Taija Ne…..He Mafutu Oh….
Nel yang ini dilantunkan oleh ahelit saat proses heli onij berlangsung.
Oh…Oh…Eh..Oh…Lo Meoga Ki
Oh….Oh…Eh…Oh…Lo Muni Baun…
In Silit, La Loi oni oh….
Oh …Oh…Eh…Oh….Labah-labah.
Nel yang ini dilantunkan oleh yang berada di bawah pohon saat proses heli onij berlangsung.
Oh…Oh…Eh…Oh…
Fe Usoni Oh…Lo Haeka Lo Nimak….Oh
Nel oleh ahelit.
Oh…Oh…Eh…Oh…
Kola Ij, Nao Tik-tika oh….oh…eh…oh…
Bi Met Ana, nanaenah besi Papan oh….
Nel oleh ahelit.
Oh…oh…Eh…oh…Lo Bi feto oh….
Lo Kabi Nonij, Lo Him Na, E oh….
Nel yang dilantunkan oleh yang di bawah pohon.
Oh…oh….eh…oh…Bi Feto…Oni Nakaf
Oh….oh….oh….KA Nonij, Lapeoga oh….
Oh…oh….eh…oh…
Lo Nupu-nupu
Lo ksiti-ksiti oh…
Nel oleh ahelit.
Oh….oh…eh….oh….Lo Meoga Ki
Nao hen tok-tok Bi kolog Balan oh….
Nel yang dilantunkan oleh yang di bawah pohon.
Oh….oh…oh….
Hae Nam Niman….
Naki on Tekel oh….
Nel yang dilantunkan oleh yang di bawah pohon.
Oh….Oh….eh…oh…
Lo tebe oh….
Umam Ka mok meog…
Palelit mekug oh….
Nel oleh ahelit.
Oh…oh…eh….oh…Lo tebe Onan,
elak tanij natfek, het Sanu tok mele oh….
Nel yang dilantunkan oleh yang di bawah pohon.
Oh….Oh….Eh….oh…
Kam sae manat, aknam puija oh….
Nel oleh ahelit, bisa dikategorikan sebagai nel masi’uf karena isinya menyindir peserta yang berada di bawah pohon.
Oh….oh….eh…oh….
Tebe Onan oh….
Kola katfekog, …..Tok Ti mele oh….
Nel yang dilantunkan oleh yang di bawah pohon untuk membalas sindiran dari ahelit.
Oh…oh….eh…oh…
Tebe Onan oh….
Kalo He Onan….At Nek mese oh….
Nel oleh ahelit.
Oh…oh…eh…oh….lomeoga Ki
Nel yang dilantunkan oleh yang di bawah pohon.
Oh…..oh….eh…oh…Tebe Onan….Hit Lo Meoga Ki…..oh….
Nel oleh ahelit.
Oh….Oh….Eh….Oh….
Lo Meoga Kit
Hit Ok-oke Lo Meoga Kit oh….
Nel yang dilantunkan oleh semua, baik ahelit maupun yang di bawah pohon.
Bagi siapapun atoin meto yang pernah mengikuti proses panen madu, lantunan nel dalam gelap malam juga akan mengulik hati. Nel yang dimaksudkan untuk mengimbangi rasa sakit akibat sengatan lebah sekaligus membangkitkan moral ahelit bahwa proses heli onij yang sementara dilakukan merupakan ritual yang sakral dan terhormat juga bisa membuat haru jika maknanya diresapi secara mendalam.
Nel bukan sekadar hiburan di tengah heningnya malam hutan, tetapi sekaligus ekspresi setiap atoin meto dalam menjaga kehormatan dan menyampaikan pesan secara simbolik. Dalam nada dan syair nel, tersimpan pemahaman bahwa lebah bukan sekadar penghasil madu, tetapi saudari perempuan (feto apoi mone atau feot naij) dari setiap atoin meto yang harus dihargai, dipuji, dan diperlakukan penuh hormat. Di saat sengatan terasa di kulit dan aroma asap lug memenuhi udara, nel menjadi semacam doa yang menguatkan hati dan menenteramkan pikiran.
Heli Onij, Tugas Budaya Atoin Meto
Heli onij tak hanya soal memanjat pohon fanik dan mengambil madu yang ada pada setiap sarang lebah, tetapi seharusnya lekat dengan tata hidup atoin meto yang mesti diwariskan turun-temurun.
Dalam setiap prosesnya mulai dari menyiapkan lug, memasang tangga, melantunkan syair nel, hingga memeras madu, terbaca setiap ekspresi untuk menghormati leluhur, alam yang menyediakan kehidupan, dan kepada lebah yang dianggap sebagai saudari perempuan.
Setiap kali syair nel dilantunkan, bukan hanya lebah yang dipuja-puji atau dirayu, tetapi juga kepada para leluhur yang telah lebih dahulu memanjat pohon yang sama, menyusuri dahan yang sama, dan merapalkan mantra yang kini diganti doa yang sama agar heli onij berjalan baik.
Ketika pepohonan tetap dijaga dan tidak ditebang sembarangan untuk menyediakan nektar bagi lebah sebagai saudari perempuan, ketika ahelit tetap menjaga kemurnian hati, heli onij adalah ekspresi kesetiaan pada tugas budaya atoin meto. Panen madu adalah tugas budaya bagi setiap atoin meto.
*Penulis, Simon Seffi saat ini mengajar di SMAN 2 Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, NTT.


