google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Pagi yang Murung

Pagi yang Murung

Fajar pagi telah menghalau gulita malam. 
Ia tidak peduli pada pelukan eratnya. 
Gulita malam pun beranjak,
sambil meninggalkan selaput kedinginan.

Bayu menggoda ari. 
Bulu kuduk berdiri tak terhitung jumlahnya. 
Pori merapatkan bibir menghindari kecemasan.

Fajar tersenyum di ufuk. 
Makin lebar senyumnya,
 walau terhalang Mega bertimpukan,
 dimana bayu pun hanya mampu menyapa tanpa menyapu.
 Semuanya berlangsung dalam irama dengan nada minor. 
Pendengarnya menunjukkan wajah murung,
sementara gema lonceng gereja bertalu memanggil.

Koro’oto Pah Amarasi, 27 Februari 2022.

Baca Juga  Untukmu yang Mengajari Kami | Puisi Rudi Sabuna

Oleh: Heronimus Bani.

Komentar

News Feed