google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

P5 Bertema Kewirausahaan di SMAN 1 Fatuleu dimulai, Minyak Kelapa Buatan Murid Laris Terjual

Sejumlah 282 murid kelas X dari 8 kelas di SMAN 1 Fatuleu, Kabupaten Kupang mulai melaksanakan kegiatan bertema kewirausahaan berupa pembuatan minyak kelapa sebagai bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Sabtu (16/09/2022).

Oleh pihak sekolah dan panitia P5 yang diketuai Aurelius Usa Naing, S.Si.,MM., para murid di tiap kelas dibagi dalam 3 kelompok, sehingga ada 24 kelompok murid. Masing-masing kelompok didampingi 1 orang guru.

Setiap murid membawa 2 butir kelapa. Kebutuhan kayu api, peralatan memasak, alat untuk memeras santan dan minyak juga ditangani oleh tiap kelompok. Sementara mesin parut kelapa (mol) disiapkan oleh panitia bekerja sama dengan masyarakat yang memiliki usaha mol kelapa.

“Kami datangkan yang punya usaha mol kelapa agar murid tidak repot mencari di luar kompleks sekolah. Menghindari resiko buruk yang bisa saja terjadi ketika mereka harus sibuk dan berkeliaran mencari mol kelapa .” alasan Aurelius.

Dalam proses pembuatan minyak kelapa, para murid dalam tiap kelompak bekerja secara mandiri. Mereka hanya dipantau dan diawasi oleh guru pendamping.

Bertempat di halaman sekolah, mereka berbagi tugas dan bekerja. Ada yang menyiapkan tungku dan kayu bakar, sebagian yang lain mengambil daging kelapa untuk dimol (parut menggunakan mesin) lalu diperas untuk diambil santannya. Bahkan ada yang bertugas membalur sabun colek pada pantat tacu yang akan digunakan agar mudah dibersihkan nantinya. Mereka juga saling membantu ketika santan dimasak. Bergantian, mereka terus mengaduk minyak yang mulai terbentuk hingga matang.

Hingga siang hari, setelah bekerja sekira 3,5 jam, minyak kelapa yang sudah jadi mereka kemas dalam botol plastik yang telah disiapkan. Masing-masing kelompok menghasilkan minyak antara 1,5 hingga 2,5 liter. Sekira 50 liter minyak kelapa terkumpul dari hasil kerja seluruh kelompok.

Oleh panitia P5, setelah berdiskusi dengan murid koordinator di masing-masing kelompok, minyak kelapa hasil kerja mereka langsung dijual hari itu juga. Padahal pihak sekolah sebenarnya berencana menyimpan minyak tersebut untuk dipamerkan dengan produk lain hasil kewirausahaan murid pada beberapa waktu mendatang.  Dikhawatirkan kualitas minyak kelapa akan menurun jika lama disimpan. Minyak kelapa akan dibuat lagi menjelang pameran.

Baca Juga  Masalah Perekrutan Guru Kontrak Provinsi NTT Harus dituntaskan

Minyak kelapa yang sudah jadi itu dijual seharga Rp.20 ribu untuk setiap botol berukuran 650 ml. Kepala SMAN 1 Fatuleu, Drs. Ambrosius Pan, M.Pd., adalah pembeli pertama yang memborong beberapa botol sekaligus. Beberapa guru ikut membeli. Sejumlah murid juga ikut membeli sesuai pesanan orang tua mereka. Minyak kelapa hasil kerja para murid laris terjual.

Hasil P5 dan Vokasi Akademik Akan dipamerkan

Drs. Ambrosius Pan, M.Pd., Kepala SMAN 1 Fatuleu menyampaikan, P5 merupakan kegiatan kokurikuler yang berkaitan dengan usaha pihak sekolah dalam membentuk kompetensi dan karakter para murid sesuai dengan profil pelajar Pancasila sehingga pihaknya berencana akan melaksanakan P5 dalam 8 tema, diantaranya; Kearifan Lokal, Iman dan Ketaqwaan, Bhineka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raga, Suasana Demokrasi, dan Kewirausahaan.

Sesuai rencana, kata Ambrosius, pihaknya berusaha untuk melaksanakan 6 hingga 8 tema kegiatan P5 pada setiap hari Sabtu dengan melibatkan para Calon Guru Penggerak (CGP) di sekolahnya sebagai motivator.

Ambrosius menjelaskan, saat ini pihak panitia dan sekolah masih fokus pada pelaksanaan kegiatan bertema kewirausahaan karena mereka berencana kegiatan kewirausahaan yang dilakukan oleh murid harus sampai pada pameran produk kewirausahaan kepada warga sekolah dan tokoh masyarakat serta pihak terkait di sekitar lingkungan sekolah.

“Nanti setelah pelaksanaan kegiatan bertema kewirausahaan ini telah memiliki hasil untuk dipamerkan dan kami sudah evaluasi secara bersama, baru kami desain rencana kegiatan dan bentuk panitia untuk P5 dengan tema yang lain.” jelas Ambrosius.

Ambrosius juga menjelaskan, kegiatan P5 bertema kewirausahaan yang mereka laksanakan juga akan diintegrasikan dengan beberapa kegiatan vokasi akademik yang sudah mereka jalankan selama ini yakni penanaman 300 pohon pisang, 300 pohon terong, serta tanaman hortikultura dan sayuran yang semuanya ada di dalam kompleks sekolah.

Baca Juga  Sinode GMIT Lapor Masalah Terkait Pendeta MM di Amabi Oefeto Timur Ke Polisi

Ambrosius menambahkan, ada guru di sekolah mereka yang pernah bersama murid-muridnya berhasil membuat jus kelor dan beberapa makanan olahan  lainnya sehingga dirinya juga mendorong pihak panitia P5 agar pembuatan produk berbahan lokal seperti itu juga masuk dalam kegiatan kewirausahaan.

Ambrosius menyampaikan, dirinya bersama dengan panitia P5 dan para guru berencana untuk menggelar pameran pada bulan mendatang agar hasil kerja dari program vokasi akademik dan kegiatan kewirausahaan bisa dipamerkan kepada warga sekolah serta tokoh masyarakat dan pihak terkait di sekitar lingkungan sekolah.

Ada Pemetaan Aset Sekolah dan Studi Tiru ke Sekolah Lain

Senada dengan Ambrosius, Aurelius Usa Naing, S.Si.,MM., Ketua Panitia P5 Tema Kewirausahaan juga menyampaikan, pihak sekolah berencana akan melaksanakan 6 hingga 8 tema dalam pelaksaan P5 di SMAN 1 Fatuleu pada setiap hari Sabtu tetapi saat ini mereka masih harus fokus pada pelaksanaan P5 tema pertama.

“Kita sudah punya rencana, hanya belum didiskusikan secara matang. Makanya kita fokus pada tema kewirausahaan dulu karena kita giring untuk sampai pada pameran hasil. Nanti setelah itu kita evaluasi, baru bangun pikiran bersama untuk tema berikut.” kata Aurelius.

Mengenai sumber daya dan produk pada kegiatan kewirausahaan, Aurelius menyampaikan, pihaknya mengarahkan para murid untuk membuat minyak kelapa karena disesuaikan dengan potensi lokal yang ada di sekitar sekolah.  Karena itu Aurelius juga berencana akan bekerjasama dengan guru kimia di SMAN 1 Fatuleu untuk membuat minyak kelapa murni (VCO, Virgin Coconut Oil) pada kegiatan mendatang.

Selain memanfaatkan potensi lokal yang berlimpah, tambah Aurelius, beberapa bahan pangan lokal dan sayuran juga telah dimiliki oleh sekolah sehingga akan diintegrasikan dalam pelaksanaan kegiatan kewirausahaan bersama para murid.

Aurelius juga menjelaskan, sebelumnya, pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap berbagai asset/sumber daya yang dimiliki oleh sekolah yang diharapkan dapat menunjang keberhasilan pelaksanaan P5 termasuk diantaranya adalah menjalin kerja sama dengan pihak masyarakat yang memiliki usaha mol kelapa sehingga selain para murid dimudahkan, masyarakat yang terlibat juga ikut senang dan mendukung kegiatan sekolah.

Baca Juga  Linus Lusi: OSIS adalah Laboratorium Kepemimpinan di Sekolah

Aurelius  menambahkan, bahkan dirinya yang merupakan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bagian Kurikulum bersama Wakasek Bagian Kesiswaan dan salah satu guru yang menjadi anggota pada bagian kurikulum telah melakukan studi tiru pada awal tahun pembelajaran 2022/2023 ke salah satu sekolah penggerak di Kota Kupang untuk belajar mengenai pelaksanaan P5.

Terkait pelaksanaan P5 yang baru mulai dilaksanakan, Aurelius mengakui, seperti yang diagendakan Pemerintah, pelaksanaan P5 di SMAN 1 Fatuleu dilandaskan pada upaya membentuk pelajar yang memiliki profil pancasila.

“Dari 6 dimensi pada profil pelajar pancasila, kita angkat elemen penting dari beberapa dimensi sebagai tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini, antara lain kejujuran, kerja sama, kerativitas, mandiri, inovasi, serta saling menolong dan empati pada teman, misalnya saling membantu ketika teman membawa barang yang berat, dan beberapa nilai penting lainnya.” kata Aurelius.

Aurelius memberi contoh, para murid yang harus saling bersikap dengan baik dan santun ketika bekerja sama dan berkomunikasi dengan temannya saat proses pembuatan minyak kelapa merupakan bagian dari sikap spiritual yang ingin dibentuk.

Keberadaan guru yang sifatnya hanya mendampingi dan memantau para murid yang bekerja secara mandiri mulai dari penyiapan alat dan bahan hingga proses pembuatan, bagi Aurelius, merupakan bagian dari upaya membentuk karakter murid dari dimensi mandiri dan kreatif.

“Anak-anak yang berdiskusi dan saling berargumen sejak dari perencanaan hingga pembuatan itu juga bagian dari dimensi bernalar kritis yang ingin kita bentuk.” contoh Aurelius.

Intinya, bagi Aurelius, keterlibatan anak-anak dalam berproses mengikuti desain kegiatan yang sudah direncanakan itulah yang dilihat dan dinilai. Proses pembentukan nilai-nilai yang menjadi bagian dari dimensi profil pelajar pancasila yang sebenarnya menjadi inti dari kegiatan kewirausahaan dan berbagai kegiatan P5 di sekolah.

“Yang pasti, kita berusaha agar prosesnya bagus. Tentu hasil tidak akan menghianati proses.” tutup Aurelius.

Komentar

News Feed