google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Onen An Olif, Ritual Menggantung Ari-ari Bayi

Nunuh an olif adalah istilah yang digunakan masyarakat pedalaman Amfoang (suku Timor) untuk menggambarkan pohon beringin tempat an olif (ari-ari) digantungkan.

Zhindi Klali, penulis. Saat ini duduk di kelas X SMAN 1 Amfoang Utara.

Setiap ada wanita yang melahirkan, masyarakat setempat akan mengadakan onen an olif (salah satu upacara adat yang terdapat di daerah Amfoang).

Upacara adat tersebut akan di adakan empat hari setelah an me (bayi) lahir ke dunia, dengan tujuan untuk mendoakan an olif seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

Menurut kepercayaan, onen an olif dilakukan agar kelak Sang bayi tumbuh menjadi anak yang terampil menenun dan menggulung benang (bagi bayi perempuan) dan pandai bekerja di ladang (bagi bayi laki-laki).

Oleh sebab itu, para tetua atau orang-orang terpilih yang dipercaya untuk pergi menggantungkan an olif (ari-ari) akan membawa beberapa perlengkapan.

Perlengkapan yang dibawa tergantung jenis kelamin bayi pemilik an olif yang akan digantungkan pada hau nunuh (pohon beringin).

Untuk bayi perempuan, para wanita bersama seseorang pria akan berbondong-bondong pergi ke hau nunuh (pohon beringin) tempat digantungkannya ana’i tepas (periuk tanah). Di dalam ana’i tepas tersebut terdapat an olif dan an usaf (tali pusar) yang telah di taburi abu ra’o (tanah bekas pembakaran).

Baca Juga  Rumah Warganya Tertimpa Longsor, Kades Nuataus Yakin akan dibantu Pemerintah

Di dalam ana’i tepas, akan dimasukan kapas, ikel dan sutij (alat-alat yang biasa digunakan untuk memutar benang).
Abu ra’o berfungsi sebagai penghilang bau saat an olif dan an usaf mulai membusuk.

Seorang perempuan akan dipilih untuk menggendong ana’i tepas tersebut. Perempuan yang dipilih haruslah seseorang yang baik budinya, ringan tangan (rajin bekerja), pandai menenun dan memutar benang agar kelak sifat tersebut dapat menurun pada Sang bayi.

Setelah tiba di tempat tujuan, ritual onen an olif akan dilangsungkan. Seseorang laki-laki akan naik ke atas pohon dan menggantungkan ana’i tepas di salah satu ranting hau nunuh (pohon beringin), diiringi lagu ‘Bi Feto Nonij’ dan tarian Bonet.

Sementara menunggu, para wanita yang menunggu di bawah pohon akan berpura-pura tertidur pulas.

Saat selesai menggantungkan ana’i tepas, sang pemanjat akan turun dan mulai berteriak membangunkan para wanita yang berpura-pura tidur tadi.

“Fen…fen.., fen labahat ije him tupam fin. Fenat an singke.” Arti teriakan Sang pemanjat tersebut adalah: “Bangun..bangun…, bangun karena kalian tertidur. Bangun karena hari sudah pagi.”

Baca Juga  Sejumlah Guru di Kabupaten Kupang Pertanyakan Alasan Pemotongan Gaji, Imanuel Buan Mengakui Ada Kekeliruan

Semua yang sengaja tertidur tadi akan bergegas bangun dan mulai memutar benang.

Ritual upacara adat selesai. Setelah itu mereka berdoa dan kembali ke rumah.

Lain halnya dengan bayi laki-laki, perlengkapan yang dibawa berupa kapak dan parang. Di sana setelah seorang laki-laki naik ke pohon nunuh, lagu Nem’nuke mulai dinyanyikan seiring dengan itu tarian bonet dilakukan.

Mereka yang menunggu di bawah pohon akan berpura-pura tidur. Sama halnya dengan bayi perempuan, ketika sang pemanjat turun dan berteriak memanggil mereka, semua yang tertidur akan bergegas mengambil parang dan kapak kemudian mulai bekerja, berlagak seperti seseorang yang hendak menebang pohon dan ingin membuka kebun baru.

Dalam proses upacara adat, terdapat beberapa pamali yang harus di jalani. Pamali merupakan bahasa sehari-hari atoni Timol (orang Timor).

Pamali tersebut akan mulai dilakukan setelah proses persalinan dan pemotongan pusar selesai. Pamali tersebut di bedakan berdasarkan nonot (marga).

Misalnya pamali untuk nonot tabelak adalah sang Ibu hanya boleh memakan nasi tanpa lauk apa pun. Bahkan kurus dan garam pun tidak boleh dicampurkan pada nasi.

Baca Juga  Guru di SMPN 13 Takari Siap Terima Honor BOS Tahap 1

Para bat’unug (leluhur) meyakini bahwa dengan melakukan pamali tersebut, maka tali pusar Si bayi tidak akan mengalami infeksi.

Konon, menurut pengakuan para warga, ketika kita melewati nunuh an olif, terkadang kita akan mendengar suara tangisan bayi yang diduga berasal dari an olif (ari-ari) yang digantungkan.

Menurut mitos yang beredar, an olif kerap datang bermain bersama sang bayi di alam mimpi. Hal tersebut ditandai dengan tawa sang bayi yang terbahak-bahak ketika sedang tertidur pulas.

Onen an olif merupakan salah satu tradisi turun-temurun yang kini telah langka kita temukan di masyarakat Amfoang (Suku Timor).

Seiring dengan berjalannya zaman, onen an olif ini jarang dilakukan oleh masyarakat setempat. Ketika seorang Ibu melahirkan biasanya an olif dan an usaf langsung dikubur di tanah.

Sebagian warga masih melakukan tradisi tersebut, namun mereka hanya memasukan jarum, benang, belpoin dan buku. Kemudian langsung di kubur tanpa melakukan ritual onen an olif lagi.

Komentar

News Feed