google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Marilah Kita Berhamba Kepada Sang Anak

Beberapa guru mengajar baca tulis pada anak didik mereka

Berbagai pemikiran yang mewarnai penyelenggaraan pendidikan Nasional saat ini menempatkan anak bangsa pada posisi istimewa, posisi yang setara dengan guru dan orang tua sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan Nasional. Berbagai perilaku yang dianggap menyimpang dan mengangkangi fitrah anak (peserta didik) sebagai manusia yang setara dan sama berharga dengan guru maupun orang tua terus mendapat gempuran. “Merdeka Belajar” yang disodorkan Najelaa Shihab dan kawan-kawannya di Komunitas Guru Belajar yang dipopulerkan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, misalnya, merupakan salah satu dari sekian banyak konsep berpikir yang menempatkan anak bangsa dalam posisi ‘tidak lebih rendah’ dari guru. “Semua Guru Semua Murid”, “Sekolah Ramah Anak”, dan banyak jargon sejenis ikut mengiringi munculnya berbagai konsep pemikiran yang sama.

Meski begitu, tak bisa disangkali bahwa kondisi faktual penyelenggaraan pendidikan bersama anak bangsa di banyak tempat cenderung masih belum memberi posisi istimewa pada banyak dari mereka. Dalam praktik pembelajaran oleh banyak keluarga (orang tua) dan pihak sekolah, ada hak-hak tertentu anak belum terpenuhi, keunikan mereka digusur, potensi mereka tidak optimal terjamah. Yang ideal dalam konsep belum sepenuhnya mendarat pada konteks.

Banyak anak bangsa yang tidak mendapat bekal ilmu dari rumah atau keluarganya. Pola asuh yang mengekang jiwa hingga kekerasan masih dialami banyak anak bangsa saat ini. Kekerasan fisik atau mental, cedera dan pelecehan, pengabaian, dan penganiayaan serta eksploitasi merupakan bentuk kekerasan terhadap anak sesuai dokumen Convention on the Rights of the Child (1989). Tirto.id pada November 2017 pernah merilis data yang disampaikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa 73 persen lebih anak Indonesia mengalami kekerasan di rumahnya sendiri.

Tidak hanya mengalami kekerasan, nilai-nilai moral dan keagamaan yang menjadi pegangan hidup tidak diajarkan banyak orang tua kepada anak-anak. Juga, mereka tidak didampingi ketika mempelajari materi dari sekolah. Selain karena energi dan waktu banyak orang tua habis tersita untuk bertarung melawan kemiskinan agar tetap bertahan hidup, modal pendidikan orang tua yang rendah juga jadi faktor penyebab. Posisi yang istimewa bagi banyak anak bangsa jadi tidak ada dalam lingkungan keluarga.

Baca Juga  Daniel Kameo: Kemiskinan di NTT juga Tanggungjawab Gereja

Di dalam ruang sekolahan, banyak anak bangsa tidak diperlakukan istimewa. Meski kekerasan fisik sebisa mungkin dihindari karena guru takut berhadapan dengan proses hukum, kekerasan secara verbal dan psikis masih dialami banyak anak bangsa. Rilis KPAI menyebutkan dari 150 lebih kasus kekerasan di lingkungan sekolah yang aduannya diterima pihak mereka pada tahun 2019 lalu, mayoritas pelakunya adalah pihak sekolah. Sekolah juga cenderung menjadi tempat yang tidak aman bagi banyak anak bangsa karena aksi kekerasan terbanyak juga dilakukan oleh para pelajar terhadap sesama temannya. Survey International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis KPAI beberapa tahun lalu pernah menyebutkan sebanyak 80 persen lebih anak Indonesia mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Selain persoalan kekerasan di lingkungan sekolah, banyak anak bangsa juga belum menikmati akses informasi pengetahuan yang berlimpah akibat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi karena infrastruktur pendukung belum tersedia. Termasuk, banyak guru yang belum familiar dengan penggunaan TIK dalam pembelajaran sehingga merugikan peserta didiknya. Seperti rilis Federasi Serikat Guru Indonesia dan KPAI pada akhir April 2020, hanya 80 persen lebih guru yang menggunakan gawai untuk pembelajaran dalam jaringan (daring) ketika pembelajaran jarak jauh diterapkan untuk mencegah penyebaran wabah Korona saat ini. Rilis yang sama menyatakan bahwa dari 80 persen guru pengguna gawai untuk pembelajaran daring, hanya 8 persen yang benar-benar paham menggunakan gawai.

Baca Juga  Anggota BPD terpilih di Amfoang Timur Bisa dilantik November 2020

Hal seperti ini dianggap merugikan anak bangsa. Apalagi, masih banyak daerah pelosok yang belum diterangi listrik dan tidak memiliki akses pada signal seluler.

Buruknya kualitas sarana prasarana dasar pendukung pembelajaran juga masih diakrabi banyak anak bangsa. CNN Indonesia merilis, ada 141 ribu lebih ruang kelas yang rusak berat pada tahun 2019. Pembelajaran berkualitas juga belum dinikmati banyak anak bangsa karena sekolahnya kekurangan guru akibat penempatan dan penyebaran guru yang belum merata. Apalagi, guru yang berstatus honorer masih menikmati gaji yang relatif kecil. Belum lagi, banyak anak bangsa kekurangan sumber belajar karena penggunaan sumberdaya sekolah dimanipulasi untuk kepentingan sempit pihak-pihak tertentu.

Makin rumit persoalan pendidikan anak bangsa ketika mengenai konten, cara penyampaian, hingga evaluasinya juga ditelisik. Apalagi jika disandingkan dengan meningkatnya gejala degradasi moral banyak anak bangsa, yang dianggap sebagai akumulasi dari proses yang cenderung mendewakan aspek kognitif dan berorientasi pada kepentingan pasar, masalah seolah makin kompleks, makin pelik, dan tak berujung.

Tetapi, meski pelik, dituding belum memihak serta belum adil bagi banyak anak bangsa, pendidikan mesti terus hadir untuk kepentingan bangsa. Bukan karena pendidikan memang harus ada agar tenaga kerja murah selalu tersedia bagi kepentingan kapitalisme, atau karena pendidikan itu sendiri adalah komoditas, pendidikan harus ada karena manusia bisa menjadi manusia hanya melalui pendidikan seperti kata Imanuel Kant. Tentu saja, arah pendidikan kita mesti diorientasikan agar memihak pada kemanusiaan.

Hemat penulis, anak bangsa yang toleran dan menghargai setiap perbedaan sehingga dapat hidup dan bekerjasama serta berkolaborasi dengan setiap orang, bertanggungjawab terhadap lingkungan dan ekologi, kreatif dan inovatif mengelola kekayaan sektoral bangsa, berpikir kritis sehingga memiliki kesadaran kritis untuk berlawan dengan segala macam praktik KKN adalah produk dari pendidikan yang membuat manusia menjadi manusia.

Baca Juga  Katekese Spiritualitas Masa Adven | Renungan Katolik

Karena itu, hemat penulis, meski keberadaan sarana dan prasarana pendukung belum atau sudah memadai, infrastruktur TIK pendukung pembelajaran telah terpenuhi atau masih jadi barang mahal, interaksi yang hangat bersama anak dalam kegiatan pembelajaran di lingkungan sekolah dan keluarga adalah dasar paling utama dari proses pendidikan yang memiliki orientasi untuk membuat manusia menjadi manusia. Interaksi yang hangat bersama anak adalah faktor paling pertama dan utama dalam penyelenggaraan pendidikan yang menempatkan anak bangsa dalam posisi istimewa.

Hak paling dasar yang dibutuhkan setiap anak bangsa dalam setiap aktititas pembelajaran adalah perasaan aman dan nyaman. Saat setiap anak bangsa merasa aman dan nyaman, segala potensi yang dimilikinya mudah dikembangkan. Hanya guru di sekolah dan orang tua di rumah yang bisa menjamin rasa aman pada setiap anak bangsa, menempatkan mereka pada posisi yang istimewa.

Sudah menjadi kodrat bahwa setiap anak hanya bisa dibimbing, dilatih, dan dididik oleh orang dewasa yakni orang tua dan guru sesuai pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai dasar ‘kodrat alam’ dari lima dasar perguruan taman siswa yang disebutnya sebagai ‘panca darma’. Karena sudah kodratnya bahwa hanya orang dewasa yang dapat mengurusi pendidikan setiap anak, semboyan yang lahir dari pemikiran tokoh pendidikan Indonesia yang tanggal kelahirannya, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional ini dapat membingkai semangat setiap yang memangku kepentingan pendidikan anak bangsa untuk menempatkan anak bangsa dalam posisi istimewa. Semboyan, “Marilah Kita Berhamba Kepada Sang Anak” juga dapat menjadi semacam roh yang membingkai interaksi guru dan orang tua dalam pembelajaran bersama setiap anak bangsa. Semoga.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Komentar

News Feed