Ma Huma’, Ma Kana’, Ma Teka’: Identitas, Karakter, dan Citra dalam Pandangan Atoin Meto

Oleh: Simon Seffi

Dalam pemahaman Atoin Meto, suku Timor yang mendiami Pulau Timor bagian barat dan berbahasa dawan, ada tiga istilah yang sering disebut sepaket, yang melekat dengan salah satu prinsip integritas dan kehormatan tiap individu. Ketiganya adalah ma huma’, ma kana’, dan ma teka’.

Ketiga istilah ini sering disebut dalam satu paket oleh pengucapnya, ketika konteksnya dimaksudkan untuk menegaskan prinsip integritas dan kehormatan. Tetapi bisa jadi, istilah ini mungkin sama sekali belum pernah pembaca dengar, karena memang sulit untuk mendapatkan orang yang mengucapkannya, atau karena tidak atau belum bertemu momentum yang tepat untuk mengucapkannya, atau juga bisa jadi karena memang sama sekali telah dilupakan.

Paket kalimat dimaksud dalam versi Amfoan bisa diucapkan sebagai: “Au ama nahonis kau, ma huma’ kau. Ma huma’ kau, ma kana’ kau. Ma kana’ kau, ma teka’ kau.” Jika diterjemahkan secara literal, artinya: “Bapak saya memperanakkan saya, saya memiliki muka. Karena saya memiliki muka, saya memiliki nama. Karena saya memiliki nama, saya memiliki sebutan.”

Ma huma’ secara harafiah adalah memiliki muka atau wajah, tetapi dalam konteks diskusi mengenai integritas dan kehormatan, ma huma’ berhubungan dengan keberadaan keluarga yang menjadi asal setiap individu. Ma kana’ berarti memiliki nama, tetapi jika konteksnya berkaitan dengan integritas dan kehormatan, ma kana’ memiliki arti yang dekat dengan karakter dan pengaruh. Sementara ma teka’ berarti memiliki sebutan, tetapi pemahaman atoin meto akan merujuk pada citra seseorang jika pengucapannya dipaketkan dengan istilah ma huma’ dan ma kana’.

Dalam penerapannya, ma huma’, ma kana’, dan ma teka’ tidak hanya dikaitkan untuk menakar kapasitas tiap individu, entah dalam hubungannya dengan urusan pernikahan, kepemimpinan lokal, dan sejenisnya. Dalam konteks Atoin Meto saat ini, setiap pribadi cenderung memiliki kebanggaan pada dirinya serta keberadaan rumpun marga/klan asalnya, sebab, siapapun merasa dan memiliki kebanggaan diri bahwa “au ama nahonis kau, ma huma’ kau. Ma huma’ kau, ma kana’ kau. Ma kana’ kau, ma teka’ kau.” Misalnya dalam tutur sejarah yang masih ada dan terus diwariskan hingga hari ini, mudah didapati bahwa setiap penutur akan cenderung berusaha menonjolkan (dan kadang melebih-lebihkan) peran protagonis figur atau sosok tertentu dalam suku atau rumpun marga yang sama dengannya. Tetapi sebenarnya juga ada pengaruh baiknya, misalnya, punya kepercayaan diri yang tinggi, tidak mudah patah arang meski jatuh berulangkali, dan ketangguhan mental semacam pada siapapun yang bangga bahwa “au ama nahonis kau, ma huma’ kau. Ma huma’ kau, ma kana’ kau. Ma kana’ kau, ma teka’ kau.” Tetapi tak jarang, juga terlihat, ketika memiliki posisi dan kuasa, ada sebagian pribadi yang menjelma feodalis, juga tidak suka mendengarkan pendapat apalagi kritik meski isi kepalanya kosong karena salah memaknai prinsip “au ama nahonis kau, ma huma’ kau. Ma huma’ kau, ma kana’ kau. Ma kana’ kau, ma teka’ kau.”

Sementara itu, untuk menakar kapasitas orang tertentu yang memiliki urusan atau kepentingan tertentu dengan pihak keluarga lain atau kelompok masyarakat yang lebih besar, secara langsung, ma huma’, ma kana’, dan ma teka’ juga menjadi semacam variabel yang digunakan. Dengan indikator yang jelas tak sama antar tiap kelompok, karena tentu dipengaruhi pengalaman dan tingkat pemahaman mayoritas elit berpengaruh dalam kelompok itu, kehadiran dan keberadaan setiap pribadi yang punya kepentingan dengan keluarga atau kelompok tersebut masih sering dihubung-hubungkan dengan asalnya (ma huma’), karakter dan pengaruh positifnya (ma kana’), serta citra personalnya (ma teka’).

Atoin Meto percaya bahwa kesalahan menilai pribadi tertentu karena meniadakan alat ukur dan variabel yang sesuai dengan prinsip hidup atau filosofi atoin meto, termasuk prinsip , ma huma’, ma kana’, dan ma teka’, tak akan ada restu dari Uis Neno (Sang Pencipta), Amnasit Ahunut (leluhur), Uis Pah Ma Nifu (penguasa alam), maupun Atokos Fatu Bian, Atokos Haubi Bian, Atokos Oeli Bian (kekuatan roh-roh yang bersemayam di balik batu, pepohonan, dan mata air). Karenanya, akan muncul lisan (masalah yang diyakini sebagai tanda atau petunjuk) yang merugikan kepentingan bersama.

Tetapi dalam praktik saat ini, sesuai penilaian subjektiv penulis, ukuran terhadap keberadaan individu tertentu dalam kepentingannya pada momentum tertentu, terutama dalam memilih pemimpin, bisa tidak lagi dikaitkan dengan indikator yang dihubungkan dengan variabel ma huma’, ma kana’, dan ma teka’, ketika yang bersangkutan memiliki sesuatu yang bisa ditransaksikan. Akibatnya, ketika kepentingan material lebih menentukan maka prinsip ma huma’, ma kana’, dan ma teka’ jadi kehilangan daya ikatnya. Jadinya, seseorang bisa diterima dan dipercaya sebagai pemimpin, misalnya, bukan karena pertimbangan ma huma’, ma kana’, dan ma teka’, tetapi karena ia memiliki modal untuk membeli pengaruh dan penerimaan.

Akhirnya, tak hanya nilai hidup yang terkikis, tetapi juga ikut merombak struktur sosial yang dibangun tanpa fondasi integritas dan kehormatan yang kokoh. Dengar saja, ada satu dua kisah dan pengalaman yang paradoks dalam kehidupan Atoin Meto, misalnya: figur yang mengorupsi triliunan anggaran negara tetapi begitu dielu-elukan bahkan dinobatkan sebagai meo naek (pahlawan) oleh para tetua Atoin Meto untuk kemudian dipilih sebagai pemimpin karena mampu memenuhi hasrat makan daging dan minum sopi serta ketamakan pada lembaran rupiah, juga lingkungan yang dieksploitasi dan dirusak secara massif oleh keluarga Atoin Meto yang umumnya memiliki fatu kanaf (batu identitas marga) sebagai keyakinan dan pengakuan bahwa alam setara dengan manusia. Tak hanya paradoksal, juga membuat prihatin dan memalukan, ketika prinsip ma huma’, ma kana’, dan ma teka’ dikalahkan oleh kepentingan material yang sekedar memenuhi kerakusan pada daging dan sopi yang hanya terpuaskan sesaat, atau juga kerakusan pada beberapa lembar rupiah, juga kegenitan dan ketamakan untuk mendapatkan bantuan dan sumbangan rumah ibadah yang tak jarang dipimpin oleh yang hidup karena pakai nama Tuhan.

Karena itu, sudah seharusnya ma huma’, ma kana’, dan ma teka’ bukan lagi sekedar ungkapan filosofis dan bagian dari perangkat nilai yang hanya diucapkan dalam syair atau cerita masa lalu, tetapi perlu dijadikan sebagai alat untuk menguatkan kebanggaan diri secara positif, juga sebagai alat untuk menakar keberadaan seseorang, terutama yang akan dipilih untuk menjadi pemimpin. Ma huma’, ma kana’, dan ma teka’ juga harus menjadi prinsip yang menegaskan bahwa integritas dan kehormatan dibentuk oleh asal, dibangun oleh karakter, dan dipelihara oleh citra yang baik. Biar pada waktunya, tak ada lagi yang menemukan momentum untuk mengatai siapapun Atoin Meto sebagai Timor Ko’uk, Timor Bodoh, dan stigma lain semacam. Dengan begitu, secara kolektif setiap Atoin Meto bisa secara bersamaan menegaskan bahwa: “Hit ama nahonis kit, ma huma’ kit. Ma huma’ kit, ma kana’ kit. Ma kana’ kit, ma teka’ kit.

 

Catatan:

  1. Au adalah bentuk kepemilikan untuk saya. kata au selalu diikuti dengan kata benda. Misalnya: au ama (bapak saya), au ina (mama saya), au ume (rumah saya), dll.
  2. Kau adalah saya dalam posisi sebagai objek. Misalnya: fe kau (kasih saya), maim kau? (cari saya?), etun kau (ceritakan ke saya), dll.
  3. Hit adalah bentuk kepemlikan untuk kita. Kata hit selalu diikuti dengan kata benda. misalnya: Hit mo’et (perbuatan kita), hit asu (anjing kita), hit ume (rumah kita), dll.
  4. Kit adalah kita dalam posisi sebagai objek. Misalnya: Fe kit (kasih kita), dll.
  5. Mengenai kata nahonis, sebenarnya arti harafiah dari nahonis adalah melahirkan, tetapi tidak ada kata khusus dalam bahasa dawan untuk kata memperanakkan, sehingga “au ama nahonis kau” memiliki arti: bapak saya memperanakkan saya. Tentu perlu ada kajian lebih lanjut soal ini, yang bisa jadi akan bertalian dengan isu patriarkal dan feminisme, jika pembaca tertarik untuk memahami lebih lanjut mengapa bukan kata ina (mama) nahonis, tetapi ama (bapak) nahonis?.

 

 

*Penulis saat ini mengajar di SMAN 2 Fatuleu Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *