google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Keterbukaan Pemimpin Melahirkan Semangat Kerja Guru dan Karyawan

Belum sempurna rasanya kalau membahas masalah pendidikan jika berbicara tentang guru, karena figur yang satu ini sangat menentukan maju mundurnya pendidikan. Dalam kondisi yang sangat bagaimanapun guru tetap memegang peran penting dalam kemajuan suatu bangsa,baik dalam hal kemajuan Iptek dan perkembangan Global.

Esensi guru tetap penting, karena peran guru tidak seluruhnya dapat digantikan dengan teknologi. Bagaimana canggihnya komputer, tetap saja bodoh karena tidak bisa diteladani, bahkan bisa menyesatkan jika penggunaannya tidak dikontrol hal inilah yang memposisikan figur guru tetap penting. Meskipun demikian, kita harus memiliki kriteria tentang guru, sebab dalam kenyataan tidak semua guru penting karena masih banyak guru yang menyesatkan perkembangan masa depan anak bangsa.

Karena pentingnya guru bergantung kepada guru itu sendiri, dan guru perlu memiliki tiga sifat yang merupakan karakter dasar guru tersebut yakni; guru itu harus kreatif, inovatif, profesional, dan menyenangkan sesuai tuntutan kurikulum saat ini dalam membentuk kompetensi karakteristik peserta didiknya.

Orrip Ate, Penulis. Saat ini mengajar di SMAN 2 Takari, Kabupaten KUpang, NTT.

Jika guru dijadikan ujung tombak untuk memajukan pendidikan serta membawakan generasi bangsa ini pada sebuah perubahan yang sangat besar! Sebuah pertanyaan yang muncul adalah,”dengan semangat kegairahan guru akan dapat didongkrak?” pertanyaan yang mengisahkan jawaban bahwa pastilah dengan gaji saja tidak mungkin.

Sudah cukup lama berlangsung bahwa pemerintah memberi kesejateraan berupa gaji kepada guru belum juga maksimal. Namun demikian seorang guru perlu tetap pada hakikatnya sebagai Pejuang Kecerdasan yang bertujuan mewujudkan pesan-pesan pendidikan sesuai dengan harapan bangsa tercinta Indonesia.

Baca Juga  Manusia Harus Menjaga Lingkungan | artikel Lambertus Djalal

Akan tetapi semua bergantunglah pada dasarnya seorang guru baik ditingkat PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan yang sederajad sudah menyadari akan perannya. Bukankah pahlawan tanda jasa sudah terlanjur disematkan pada dada. Jadi kelompok “Oemar Bakkri” ini memang sudah terbiasa dalam serba kebersahajaan,siap berjuang dan mengabdi. Satu usaha yang perlu adalah bagaimana agar dilingkungan sekolah, guru terbangkitkan gairah kerja yang stimulannya tidak berdasarkan finansial. Satu alternatif adalah disekolah mestinya mampu menciptakan situasi senasib, sepenanggung, sesuka, seduka, secara bersama-sama.

Dalam hal kerangka menuju perwujudannya, dan peran yang tampil sebagai pemandu adalah Kepala Sekolah sebab kepala sekolah yang harus menentukan merah , hijaunya sekolah bukan “gelap gulitanya sekolah “dalam kaitan sekolah bisa memajukan atau meningkatkan prestasi sekolah, itupun jika kepala sekolah juga sebagai sosok panutan yang bisa berada pada posisi sentral. Kecenderungan berpikir kita mengatakan kalau kepala sekolahnya baik maka sekolahnya pun akan baik, agar jangan seperti istilah bahwa “Ikan rusak dari Kepala”

Oleh karena itu keterbukaan merupakan bagian penting dalam memutar roda persekolahan, keterbukaan menjadikan semua warga sekolah merasa terpanggil untuk serta andil di dalamnya ada keterlibatan secara emosional bagi warga sekolah yang tata kehidupan sekolah sudah terjiwai oleh sikap keterbukaan/transparansi.baik itu dalam sisi pengelolaan sumber dana yang ada disekolah maupun hal lain menyangkut dengan lembaga itu sendiri. Keterbukaan dalam kesertaan warga sekolah akan mewujudkan sekolah yang dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang mampu menciptakan manusia sebagai insan yang mulia dan berpegang teguh pada norma dan tata aturan yang berlaku sesuai amanah UUD 1945.

Baca Juga  Kebijakan-Kebijakan yang Kolot dan Kemunafikan Kita

Keterbukaan  dimaksud  adalah untuk menghilangkan kecurigaan antara satu dengan yang lain dan tidak terkesan ada hal-hal yang disembunyikan, akibat lebih jauh dari kondisi yang sangat posetif dan diharapkan kehadirannya disekolahnya mejadikan semua pihak terbawa dalam kondisi ingin serta didalamnya, yakni tumbuh suatu kebersamaan dan tidak mengkotak-kotakan apalagi ada yang menggangap diri lebih hebat dari yang lain. Tetapi artinya sama-sama mengalami suka duka, dalam suka duka ingin dihadapi secara bersama-sama, demikian pun dalam kedukaan.

Ada sesuatu yang berarti dalam menjalankan keterbukaan disekolah yaitu tumbuhnya kebersamaan dan suasana rasa keadilan dengan tidak mengistimewakan satu dengan yang lain, akibat rasa kebersamaan dan keadilan tersebut menyebabkan para guru dan karyawan terdorong melaksanakan pengabdian dengan penuh tanggung jawab dan penuh rasa sukacita. Wujudnya dari semua ini  ialah kesediaan untuk mengerjakan semua dengan apa pun bentuknya sesuai tupoksi masing-masing guru dan karyawan, yang secara hakikat berguna membela nama baik sekolah. Dan demikian demi pengabdian itu kadang-kadang seseorang harus berkorban baik secara tenaga, materi bahkan bekerja lembur hingga jauh diluar jam kerja dengan tanpa imbalan. Menyelesaikan sesuatu pekerjaan cukup menguras tenaga, bahan, uang harus dikeluarkan karena untuk bisa bekerja sesuatu harus ada lebih dahulu, padahal tidak bisa tanpa harus mengeluarkan uang.

Lashway, l 1995 dalam bukunya fasilitative leadersip mengatakan bahwa ; pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang mampu menciptakan keterbukaan guna meningkatkan kegairahan guru dan karyawan sebab dalam perannya sebagai leader harus mampu menjalankan hal-hal sebagai berikut;

  1. Menyampaikan informasi pendanaan sekolah secara rinci dan terbuka;
  2. Lebih banyak mengarahkan dari pada menyuruh dan memaksa;
  3. Bekerja sama dalam menjalankan tugas dan bukan berdasarkan SK atau penguasa;
  4. Menanamkan rasa kepercayaan diri kepada guru dan karyawan, bukan – menakut nakuti;
  5. Menunjukan bagaimana cara melakukan sesuatu dan bukan menunjukan bahwa ia tahu sesuatu;
  6. Menciptakan suasana harmonis, bukan suasana yang menjenukan;
  7. Bersifat memperbaiki kesalahan dan bukan menyalahkan kesalahan orang lain;
  8. Bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan bukan ogah-ogahan;
  9. Mampu mengarahkan orang lain tanpa merasa diperintah; serta;
  10. Berupaya untuk mencapai tujuan sekolah sesuai vissi dan missi lembaga pendidikan tersebut;
Baca Juga  Dinamika Perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini di Amfoang Utara

Leader/pemimpin yang menjalankan keterbukaan/transparansi adalah pemimpin yang diidolakan oleh semua lembaga pendidikan maupun lembaga pemerintah dan LSM dari sabang sampai merauke, sebab pemimpin harus menjadi teladan dan panutan bagi anak buah.

Sebagai pola panutan pemimpin adalah contoh yang siap ditiru, apa yang dilakukan oleh pemimpin akan menjadi contoh oleh anak buahnya. Terlebih kita yang hidup dinegara yang menganut pola “kebapakan” keteladanan sungguh-sungguh mempunyai pengaruh sangat besar bagi orang-orang di bawahnya.

Semoga dengan memasuki 76 tahun Indonesia merdeka para permimpin di lembaga pendidikan lebih baik lagi dalam menjalankan tugas secara tranparan demi kesejateraan dan keadilan bagi warga sekolah dan semua elemen.

 

Komentar

News Feed