google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Jawab Mimpi Masyarakat Taneotob TTS, Linus Lusi disambut hal Magis Ketika Berkunjung

Baru didirikan, 6 SMA di Kabupaten TTS Sudah dapat SK Ijin Operasional

Masyarakat dan pihak Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tentu sangat berbangga hati. Sebabnya, ternyata tak butuh waktu yang lama, 6 SMA Negeri yang baru didirikan tahun ini di 6 Kecamatan di kabupaten tersebut langsung dimandirikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Pada Minggu (29/09/2021) siang, saat Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT, Linus Lusi ditemani Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah (Dikmen) dan Kabid Kebudayaan pada Dinas PK Provinsi NTT berkunjung ke Desa Taneotob, lokasi berdirinya salah satu dari keenam SMA tersebut, Kadis Linus Lusi telah menyerahkan Surat Keputusan (SK) mengenai ijin operasional penyelenggaraan sekolah kepada pihak sekolah dari keenam SMAN tersebut.

Keenam SMAN tersebut adalah SMAN Matpunu di Kecamatan Nunbena, SMAN Salbait di Kecamatan Molo Barat, SMAN Sahan di Kecamatan Nunkolo, SMAN Fautmolo di Kecamatan Fautmolo, SMAN Sanbet di Kecamatan Amanantun Utara, dan SMAN Noebeba di Kecamatan Noebeba.

Kadis Linus Lusi disambut tarian perang yang ditarikan oleh beberapa siswa SMPN Matpunu dan SMAN Matpunu.

Camat Nunbena, To Yusmin Oematan ketika menyampaikan sambutannya mengakui, pihaknya bersama masyarakat sangat bersyukur karena perjuangan mereka untuk mendirikan keenam sekolah tersebut telah dijawab Pemprov NTT yang ikut membantu mempercepat proses pendirian dan perijinan keenam sekolah tersebut.

Oematan juga mengakui, bantuan pihak Dinas PK Provinsi NTT dibawah kepemimpinan Linus Lusi membuat proses pendirian sekolah baru terasa sangat mudah.

“Perjuangan untuk mendirikan SMA itu sebenarnya sesuatu yang luar biasa.  Sesuai cerita yang saya dengar, mulai dari tahun 2018 itu sudah ada masyarakat kami yang berupaya untuk mendirikan SMA tetapi akhirnya tidak jadi. Tetapi kehadiran bapak kadis yang sekarang ini, bisa mempercepat proses pendidirian SMA. Ini sangat kami syukuri.” aku Oematan yang, menurutnya, kebutuhan untuk mengakselerasi pembangunan sesuai jargon yang biasanya didengar oleh masyarakat memang hanya bisa dilakukan jika ada gerak dan kerja cepat seperti yang ditunjukkan Kadis Linus Lusi.

Oematan bercerita, ketika dirinya bersama pihak panitia pendiri SMAN Matpunu bertemu kali kedua dengan pihak Dinas PK Provinsi NTT, Kadis Linus Lusi yang sudah mengarahkan staf terkait untuk menindaklanjuti permohonan mereka bersama dengan 5 SMAN yang lain di Kabupaten TTS malah menanyai mereka mungkin saja sekaligus ingin membawa SK ijin operasional penyelenggaraan sekolah yang saat itu sementara menginduk pada SMAN terdekat.

“Ketika bertemu dengan pak kadis saat itu, beliau tawar, pulang mau bawa memang SK? Saya jadi bingung, proses SK ini tidak main-main, tetapi tawaran pak kadis luar biasa. Saya sampai tidak bisa berkata apa-apa, saya hanya senyum-senyum saja. Tetapi kemudian pak kadis mengarahkan staf terkait agar membuat rekomendasi untuk penyelenggaraan kegiatan sekolah. Jadi hari itu kami antar proposal, pulang langsung bawa rekomendasi, dan juga ada oleh-oleh lain dari pak kadis. Karena itu, kami sangat berterima kasih kepada bapak kadis karena begitu besar perhatiannya untuk masyarakat TTS.” ungkap Oematan.

Baca Juga  Hingga November 2020, ada 327 Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kupang

Oematan di hadapan para tetua dan masyarakat sekolah lantas berharap agar kehadiran keenam SMAN tersebut ikut memberi kontribusi dalam mengurai sejumlah persoalan di Kabupaten TTS yang selama ini dikenal karena memiliki masalah pada sektor pendidikan, yang menempatkan Kabupaten TTS pada posisi yang buruk dalam penilaian kualitas pendidikan.

 

Masyarakat Desa Taneotob Senang, Mimpi Mereka Terjawab

Danial Oematan, salah satu guru muda di SMPN Matpunu yang berada di Desa Taneotob kepada media ini pada Minggu (19/09/2021) sore mengaku sangat senang dan bersyukur karena mimpi masyarakat Desa Taneotob untuk memiliki SMA akhirnya terjawab. SMAN Matpunu yang lokasinya persis di belakang lokasi SMPN Matpunu adalah salah satu dari enam SMAN yang baru didirikan tahun ini, dan kini telah mengantongi SK Ijin Operasional penyelenggaraan sekolah.

“Selama ini para tetua pada berbagai kesempatan selalu menyampaikan permintaan mereka agar kami memiliki satu SMA. Akhirnya, mimpi kami terjawab tahun ini. SMAN Matpunu sudah ada saat ini. kami sangat senang.” ungkap Oematan.

Oematan bercerita, selama ini lulusan dari SMP tempatnya mengajar harus berjalan kaki sejauh belasan kilometer dan melewati 4 sungai besar yang menyulitkan dan berbahaya saat musim hujan, jika mereka ingin melanjutkan sekolahnya ke SMA sehingga banyak dari lulusan SMP di desa mereka yang memilih tidak melanjutkan sekolah.

Karena tahun ini sudah ada SMA, kata Oematan, anak-anak yang sudah tamat SMP dari tahun lalu juga telah mendaftar di SMAN Matpunu bersama beberapa temannya yang tamat tahun ini.

Yang dialami Oematan juga tergambar pada raut dan ekspresi para tetua dan masyarakat serta anak-anak sekolah yang menyambut Kadis Linus Lusi dan rombongan.

Beberapa Pelajar SMAN Matpunu menari di depan Kadis linus Lusi sebelum menyuguhkan sirih pinang.

Opa Tefnai memimpin belasan lelaki dan perempuan tua melakukan natoni, tutur adat untuk menyampaikan pesan dan perasaan menggunakan bahasa daerah yang arkais. Perasaan senang atas keberadaan sekolah serta penerimaan yang tulus terhadap kehadiran Kadis Linus Lusi diutarakan menggunakan bahasa yang halus dan indah.

Sorak senang dan tepuk tangan yang terus memenuhi halaman SMPN Matpunu ketika Kadis Linus Lusi menyampaikan sepatah dua katanya jelas menggambarkan euforia yang dialami masyarakat Taneotob.

 

Kadis Lusi Gelar Pembelajaran Perdana Bersama Siswa SMAN Matpunu

Kadis Linus Lusi setelah meninjau beberapa ruang kelas sederhana milik SMAN Matpunu langsung mengarahkan para peserta didiknya untuk mengikuti pembelajaran perdana setelah SK Ijin Operasional penyelenggaraan sekolah dibawa olehnya untuk diserahkan kepada pihak sekolah.

Baca Juga  Organis Vokal Grup Kaum Bapak GDI Lasiana tutup Usia
Pembelajaran perdana setelah ada SK Ijin Operasional sekolah.

Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, Kadis Linus Lusi memberikan kesempatan kepada Camat Nunbena, Kabid Dikmen, dan Kabid Dikbud untuk berturut-turut memberikan motivasi kepada para peserta didik.

Menutup sesi pembelajaran perdana tersebut, Kadis Linus mengajukan empat pertanyaan kepada mereka. Berturut-turut Kadis Linus Lusi mengajukan pertanyaan, siapa nama Gubernur NTT, siapa nama Bupati TTS, siapa nama Camat Nunbena, dan siapa nama Kadis PK Provinsi NTT sebagai pertanyaan terakhir.

 

Linus Lusi: Mimpi Besar Masyarakat Bertemu Momentum yang Tepat Ketika VBL menjadi Gubernur

Kadis Linus Lusi setelah menyerahkan SK Ijin Operasional penyelenggaraan sekolah kepada perwakilan pihak sekolah dari keenam SMAN tersebut menjelaskan, ketika delegasi dari masyarakat bertemu dirinya pada awal September di Kantor Dinas PK Provinsi NTT, dirinya menawarkan kepada camat Nunbena apakah SK yang dibutuhkan hendak dibawa atau tidak saat itu sebab, baginya, tawaran tersebut merupakan sebuah jawaban reaktif yang muncul dari dirinya untuk menghapus air mata masyarakat yang menunggu kehadiran sebuah SMA kurang lebih selama 63 tahun sejak Provinsi NTT terbentuk.

Kadis Linus Lusi menyampaikan sepatah dua kata dan arahannya setelah SK Ijin Operasional diserahkan kepada pihak sekolah.

Kadis Linus mengakui, beberapa waktu sebelumnya memang dibutuhkan waktu selama 3 hingga 4 tahun untuk mendapatkan ijin operasional penyelenggaraan sebuah sekolah sehingga bagi dirinya, proses untuk pendirian sebuah sekolah mesti dipercepat agar perkembangan sektor pendidikan di NTT menyamai provinsi lain yang sudah lebih baik saat ini.

“Kalau untuk urus ijin operasional butuh waktu 3 hingga 4 tahun, masyarakat harus pergi dan pulang, pergi dan pulang, kapan sektor pendidikan di Kabupaten TTS atau di bagian lain pulau Timor, Sumba, Flores, Alor dan daerah pelosok lainnya bisa maju?” tanya Kadis Linus.

Kadis Linus menambahkan, sesungguhnya kehadiran 6 SMAN tersebut merupakan mimpi besar masyarakat yang selama ini hanya menunggu momen untuk terwujud, dan momentumnya tepat ketika Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menjabat sehingga dirinya mengharapkan agar masyarakat terus mendukung pendidikan bagi anak-anak mereka.

“Bapak Gubernur NTT memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan SDM sebab jalan satu-satunya menuju perubahan hidup hanya lewat sektor pendidikan sehingga saya harap anak-anak kita terus didukung. Acara adat boleh bertubi-tubi, kegiatan budaya boleh dikembangkan, tetapi harus diiringi dengan pendidikan.” kata Kadis Linus yang juga mengharapkan agar masyarakat TTS mendukung kerja Pemrpov dibawah kepemimpinan Gubernur VBL saat ini agar pendidikan yang mengiringi sektor pariwisata sebagai lokomotif utama pembangunan di NTT dapat berkembang optimal.

Baca Juga  15 Lulusan SMA/SMK di Kabupaten Kupang Dapat Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi Tahun Ini

Kadis Linus pada kesempatan tersebut juga mengharapkan agar pihak sekolah dapat mempersiapkan anak-anak mereka yang memiliki potensi untuk menjadi atlit untuk dikirim ke Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) di Kota Kupang agar dibina secara professional.

“Saya lihat tadi anak-anak ini menari, tulang mereka itu tulang atletik. Saya tahu karena saya belajar soal itu. Mereka punya potensi untuk menjadi atlit olahraga lari jarak jauh, lari cepat, tolak peluru, dan beladiri. Maka saya minta, guru olahraga coba desain bersama kepala sekolah SMP, SD, bentuk klub olahraga untuk pembinaan sejak dini, sehingga anak SMP yang tamat dari sini, kita siap tampung di SKO. Bimbing mereka baik-baik, kalau ada yang memiliki potensi, silahkan beri nama, tahun depan mereka sekolah di SKO.” pinta Kadis Linus.

 

Linus Lusi disambut Kejadian Magis 

Ada kejadian alam yang ganjil ketika iring-iringan mobil rombongan Kadis Linus Lusi hampir memasuki wilayah Desa Taneotob. Beberapa meter sebelum rombongan yang menumpang 7 mobil itu mencapai noebaki, kali kecil yang menjadi batas alam antara wilayah Kabupaten TTS dan Kabupaten Kupang, muncul pusaran angin seperti puting beliung yang bergerak cepat menuju mobil yang ditumpangi Kadis Linus Lusi.

Seperti yang penulis saksikan, kebetulan penulis duduk bersisian dengan Kadis Linus Lusi, pusaran angin tersebut seperti meraup dedaunan eukaliptus kering yang berserakan di samping kanan mobil, lalu berputar dan bergerak cepat, dan seperti datangnya yang tiba-tiba, pusaran angin itu langsung berhenti setelah sempat melingkupi mobil yang kami tumpangi.

Karena pusaran angin itu tidak keras, dedaunan kering yang menimpa mobil terasa seperti sengaja ditaburkan. Selama beberapa saat, keheningan dalam mobil ikut menegaskan aura magis yang sempat penulis rasakan. Kadis Linus Lusi juga mungkin merasakan hal yang sama, sehingga beliau lantas menyeletuk, “Dulu ada meo di kampung yang akan kita kunjungi yang kekuatannya adalah angin.”

“Pasti leluhur di kampung yang akan kita kunjungi cukup senang karena anak cucu mereka akhirnya punya SMA.” jawab penulis.

Karena Kadis Linus Lusi dan beberapa anggota rombongan masih berfoto di dalam kali noebaki, perjalanan baru dilanjutkan belasan menit kemudian.

Kadis Linus memilih berjalan kaki memasuki wilayah Desa Taneotob, sambil menunggu mobil yang ditumpainya mendekat. Penulis dan salah satu kawan juga ikut berjalan kaki. Tiba-tiba, seperti sebelumnya, pusaran angin itu muncul. Berpusar cepat selama beberapa detik, pusaran angin setinggi rumah itu kemudian menghilang setelah bergerak cepat ke arah pusat Desa Taneotob, seolah mengajak Kadis Linus Lusi dan rombongan untuk memasuki kampung.

Komentar

News Feed