google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Esau OEmatan: Madu Amfoang Harus dijual Mahal

Esau OEmatan, Kepala SMAN 1 Amfoang Barat Laut (Smansa Ambal) kepada sejumlah pengurus OSIS Smansa Ambal yang mengikuti kegiatan pelatihan menulis bersama pihak Media Suara Amfoang pada Jumat (01/10/2021) pagi menyatakan, harga jual madu amfoang harus mahal karena selain memiliki kualitas yang bagus, proses untuk mendapatkannya juga terbilang sulit dan sangat beresiko.

Karena itu, menurut OEmatan, agar proses mendapatkan madu berkualitas dari lebah liar yang terbilang sulit dan beresiko itu diketahui sehingga madu amfoang tidak dibeli murah, harus ada yang menceritakannya melalui tulisan supaya dibaca dan diketahui oleh banyak pihak.

“Banyak pihak yang menyukai madu amfoang karena lezat dan berkualitas. Sayangnya, mereka cenderung membeli dengan harga yang relatif murah karena banyak dari mereka yang tidak tahu kalau kita harus bertaruh nyawa untuk mendapatkan madu. Karena itu, ini tugas bagi anak-anak untuk menuliskannya agar diketahui banyak pihak.” kata OEmatan yang juga mengharapkan supaya anak didiknya serius belajar menulis agar salah satu tujuannya adalah mengenalkan nilai-nilai lokal Amfoang melalui tulisan, termasuk mengenai proses pemanenan madu dari lebah liar yang dianggap sebagai feto apoi mone, saudari perempuan yang keluar dari rumah, sesuai pemahaman orang Timor dan masyarakat Amfoang secara khusus.

 

Lebah, saudari perempuan orang Timor

Dalam struktur sosial dan kebiasaan budaya orang Timor yang sering mengidentifikasi dirinya sebagai atoin meto atau atoin pah meto (orang – orang di wilayah yang kering), lebah adalah saudari perempuan yang sering hanya disapa sebagai feot naij oleh orang Amfoang dan Fatuleu misalnya, atau juga disebut orang Fatuleu sebagai feto’ apoe mone, saudari perempuan yang berada di luar rumah.

Dalam siklus waktu yang teratur, dikemas dalam berbagai upacara dan tata cara yang sakral dan kental aura magis, sedikitnya atoin meto berinteraksi dengan feot naij selama tiga kali dalam setahun. Urut – urutan interaksi tersebut adalah seik nuku atau seik hu’e nof, polok teno’ dan terakhir adalah heli oni’  yang dilakukan sepaket dengan tateut nisif. Berikut adalah penjelasan tahapan – tahapan tersebut.

Seik nuku/seik hu’e nof

Penulis kesulitan untuk menguraikan makna dari kata seik nuku atau seik hu’e nof. Seik nuku adalah istilah yang digunakan di wilayah Fatuleu. Di wilayah Amfoang, seik hu’e nof adalah istilah untuk menggambarkan tahapan yang sama. Meski begitu, tata upacara dan maksud yang terkandung dari penyelenggaraan upacaranya sama.

Seik nuku atau seik hu’e nof adalah upacara yang dilakukan dikisaran akhir bulan Januari hingga awal Februari untuk mengundang feot naij agar datang dan membuat sarang di wilayah ulayat pengundang. Tetua dan peserta yang terlibat dalam upacara harus mengorbankan seekor babi jantan berwarna hitam (fafi khaos) atau ayam jantan yang warna bulunya tak beragam. Darah binatang kurban dibiarkan menetesi bumi dan dagingnya hanya boleh dibakar/dipanggang tanpa bumbu selain garam. Daging binatang kurban harus habis dimakan di tempat upacara. Tak boleh dibawa pulang.

Dalam upacara, tetua akan mengundang feot naij menggunakan syair yang arkaik. Nuansa sakral terasa pada momen ini. Berikut, beberapa penggal syair dari suku adat Elan, Boy, tuname Nenomana di wilayah Fatuleu Barat saat melakukan seik nuku.

Au haman ko, au hoen koben feot naij (aku menyapa kamu, aku telah mengundangmu saudari)

Maok ho umlam ho bale muits am babnain (dari rumahmu dari tempatmu di Mutis am Babnain)

Auman muti’ mek susu’ sole’ loi’ na’o (datanglah bersama anak – anak, remaja, para pekerja)

Ho umlam ho bale ho tiulnam ho o’af (rumahmu hutanmu kandangmu)

Es a meuk am hubane (ada pada meuk am hubane)

Es le an tek-tekam nak oin anak-nakat a meuk am hubani (yang sering disebut sebut bahwa lebah bersarang-sarang di meuk am hubane)

Dalam mindset atoin meto, gunung mutis adalah sentrum segala sumber kehidupan sehingga feot naij juga harus diundang dari sana agar datang bersarang untuk memberi madu dan lilin. Serentak, atoin meto juga bertanggungjawab menyiapkan kebutuhan sang saudari. Dalam keseluruhan syair pada upacara yang sama, juga ada penggalan yang menyatakan kesiapan itu. Mek pup muit am pup molo’ adalah penggal syair yang menyatakan kesiapan atoin meto menyediakan bunga tanaman atau pohon. Pup muit atau Pup muti’ 1  yang artinya puncak yang berwarna putih mendekati maksud untuk menggambarkan bunga berwarna putih dari berbagai tanaman atau pohon yang mengandung nektar untuk diambil feot naij. Kebanyakan tetua akan merujukkan maksud dari pup muti pada bunga pohon Eucalyptus atau disebut hu’e dalam bahasa atoin meto. Pup molo diantaranya juga merujuk pada bunga dari pohon kabesak/pilang (Acacia leucophloea).

Selesai melakukan upacara seik nuku atau seik hu’e nof, peserta akan kembali mengerjakan ladang atau sawah sambil menunggu waktu untuk mengambil (panen) pemberian feot naij. Saat itu, atoin meto juga menanam atau menyiapkan ane metan (padi/beras hitam) yang akan digunakan dalam upacara berikutnya.

Polok teno’

Lagi – lagi, penulis sulit mengurai makna dari kata polok teno’. Beberapa tetua yang dihubungi memberi tafsir yang beragam dan tidak konsisten. Ini jadi catatan yang membuat miris karena memang bahasa baku atoin meto yang arkaik dan cenderung menyembunyikan makna asli telah tergusur. Upacara Polok teno’ dilakukan pada kisaran bulan April sebagai upacara pembuka untuk melakukan pemanenan madu. Sebelum polok teno’ dilakukan, atoin meto tak boleh memanen madu lebah yang ada di hutan ulayatnya. Ada ketentuan kolektif yang mengatur soal itu. Pelanggar akan mendapatkan sanksi dan denda adat sesuai kesepakatan. Diyakini, pelanggar juga akan mendapat sanksi dari alam dan leluhur berupa kecelakaan saat panen atau berkurangnya sarang lebah pada periode panen di waktu mendatang. Jadi, polok teno’ menjadi semacam upacara pembuka pertanda datangnya waktu panen madu lebah (heli oni’). Pada tahap ini, juga ada binatang yang dikurbankan. Saat ini, Polok teno’ dilakukan oleh masing – masing sub suku dalam wilayah masing – masing eks swapraja. Dari tutur beberapa tetua, dulu, ritual seik nuku dan polok teno dilakukan bersama dalam wilayah kerajaan. Hanya heli oni’ dan tateut nisif yang dilakukan masing – masing pemilik ulayat saat proses panen.

Baca Juga  Ira Sobeukum Minta Pemprov NTT Bijaksana Soal Anggaran Perbaikan Jembatan Talmanu

  

Heli oni’ dan Tateut Nisif

Setelah polok teno dalam satu wilayah adat selesai dilakukan, masing – masing pemilik lahan ulayat mulai melakukan pemanenan madu lebah di wilayahnya masing. Waktu panen diatur oleh masing – masing pemilik hutan ulayat, tetapi diperkirakan agar madu yang akan diambil berada dalam kondisi ideal untuk dipanen.

Sebelum heli oni’ dilakukan, peserta mempersiapkan berbagai peralatan dan bahan yang dibutuhkan. Antara lain: 1) Lug/nug, merupakan alat yang digunakan untuk mengasapi lebah agar lari meninggalkan sarangnya sebelum dipotong/diambil. Lug/nug dibuat dari sabut kelapa yang diikat bercampur dengan batang rumput suf muti atau batang rerumputan lainnya. Lug/nug dibentuk memanjang lebih dari 1 meter dengan diameter rata – rata sebesar paha orang dewasa. Tali diikat di kedua ujung lug/nug agar dipanggul ahelet (pemotong/pemanen) saat naik ke pohon. 2) Pisau potong. 3) Kola onij, sejenis bakul yang dipasangi tali di 4 titik. Sekarang sudah ganti dengan ember yang dipasangi tali. Digunakan untuk menampung sarang lebah yang akan diturunkan. Juga digunakan untuk mengirimkan lug/nug kepada ahelet jika lug/nug yang digunakan di atas pohon sudah habis terbakar. 4) Tali, digunakan untuk menurunkan kola onij yang berisi sarang lebah. Biasa aktifitas ini disebut a’nono (sistem katrol manual). 5) Anabat, tali kecil yang digunakan untuk mengikat oni mauf, bagian sarang lebah yang berisi larva.

Sementara yang lainnya menyiapkan peralatan potong/panen, ada kelompok lain yang ditugaskan memasang tangga dan membersihkan rerumputan di sekitar pohon fanik (pohon yang ada sarang lebahnya). Diyakini, orang pertama yang memasang tangga hingga mendekati dahan utama pohon biasanya menjadi figur penting yang dapat mempengaruhi komunikasi dengan feot naij saat proses heli oni’ berlangsung. Di Fatuleu, figur ini disebut meo nakaf. Di Amfoang, juga disebut meo oni’. Figur yang melakukan basan, syair adat, sebelum para ahelet naik ke atas pohon juga menjadi figur kunci. Ahelet (e dibaca bunyi seperti mengucapkan kata ‘elang’) juga dituntut tidak boleh menyimpan masalah, kebusukan hati, dan hal sejenis lainnya yang berkaitan dengan hubungannya dengan sesama. Feot naij menginginkan kemurnian hati. Jika pemasang tangga termasuk yang basan memiliki hati yang tidak baik, misalnya suka selingkuh, suka mencuri, atau sementara menyimpan kepahitan hati dengan sesama saudara, feot naij di atas pohon tidak akan ramah. Sengatannya akan terasa menyakitkan, hingga meresap ke dalam sum – sum dan tidak akan cepat berlalu rasa sakitnya. Bahkan, khusus ahelet yang hatinya tidak baik, selain sengatannya menyakitkan, resiko kecelakaan hingga meninggal tidak akan jauh darinya. Karena itu, heli oni’ dianggap sebagai ritual yang sakral. Sebab, feot naij menuntut kemurnian hati. Feot naij juga tidak suka wewangian. Ahelet dilarang menggunakan sabun mandi ketika mandi selama beberapa hari sebelum heli oni’. Wewangian seperti parfum atau minyak rambut juga menjadi barang pemali buat ahelet.

Bukan berarti feot naij tidak akan menyengat sama sekali jika ahelet memiliki hati yang murni. sengatan feot naij tetap dirasakan para ahelet. Hanya, dirasa tidak menyakitkan jika dibanding dengan yang hatinya tidak bersih terutama pada lelaki yang memiliki selingkuhan. Selain itu, rasa sakitnya tidak akan bertahan lama. Kadang – kadang, bahkan ada ahelet yang merindukan sengatan lebah karena menurutnya, badan menjadi lebih segar setelah itu.

Saat pemasangan tangga akan dimulai, meo nakaf akan melagukan nel, syair yang dinyanyikan, sebagai sapaan yang berisi pujian sekaligus ucapan permisi pada feot naij. Berikut, salah satu syair nel yang biasanya dinyanyikan meo nakaf di wilayah Fatuleu Barat.

Bi el ob fait hen nup-nup

Nanup-nuput he lal nit besi

Nanup-nuput he lal nin fat

sementara tangga dipasang, semua yang terlibat tak boleh bersuara. Komunikasi antara meo nakaf dengan peserta yang berada di bawah pohon, misalnya untuk menyorong tali pengikat, dilakukan dengan isyarat.

Panen dimulai ketika masing – masing ahelet mulai menaiki pohon. Meo nakaf mendapat giliran pertama. Begitu menaiki tangga, meo nakaf melagukan nel yang sama dengan saat pemasangan tangga dilakukan. Para ahelet yang mengikuti meo nakaf juga melagukan nel. Bersamaan, mereka bisa menyahuti nel meo nakaf dengan penggal syair nel yang sama atau yang beda isinya. Diantaranya seperti yang dilagukan ahelet dari suku adat Elan, Boy, tuname Nenomana di Fatuleu Barat yang disebut elnam boij dalam syair nel berikut ini:

Baca Juga  Aniaya dan Ancam Tembak Warga, Kapolsek RBD Masuk Sel

Hau keon besi tol tauk tuaf

Ain hen tokot nanaes kau kah

Ne ainam aman lo tuanem usin

Tuanem usin nit lo elnam boij

 Di atas pohon (selain ahelet, juga ada anonot, petugas yang khusus untuk menurunkan oni mauf dan oni nakaf untuk diterima oleh yang bertugas di bawah pohon), masing – masing ahelet mulai berjalan atau merayapi dahan pohon yang ada sarang lebahnya. Biasanya, setiap ahelet akan memastikan kelenturan pohon dengan cara menekuk ranting sebesar lengannya sebelum mulai bergerak ke arah sarang lebah. Jika ranting tersebut patah, ahelet tidak akan berani merayap hingga ujung dahan yang kecil. Selain itu, goyangan dahan juga diperhatikan. Ketika dahan bergoyang naik turun saat ahelet bergerak mendekati ujung, artinya dahan yang dilewati tidak lentur dan gampang patah. Jika demikian, sarang lebah yang ada di ujung dahan akan dibiarkan. Sebaliknya, jika dahan bergerak kiri kanan, kelenturannya tidak diragukan sehingga sarang yang terletak diujung dahan juga akan dipanen.
Ahelet akan memulai mengasapi lebah dari sarang pertama yang dilaluinya. Sarang lebah diasapi satu persatu dimulai dari yang paling dekat cabang utama hingga ujung dahan. Lebah akan meninggalkan sarangnya begitu diasapi. Setelah semua sarang lebah dalam dahannya telah diasapi, ahelet mulai melakukan pemotongan sarang lebah.

Umumnya, sarang lebah berukuran paling kurang sekitar 80 cm x 50 cm. Bagian sarang lebah yang biasa dipotong ada 2 bagian, yakni oni mauf dan oni nakaf. Oni mauf merupakan bagian yang berisi larva lebah, terletak dibagian bawah. Jika larva dalam oni mauf sudah tua, dibuang saja. Jika larvanya masih kecil seperti ulat, akan diambil untuk dimakan.

Oni nakaf sendiri merupakan bagian sarang lebah yang berisi madu. setelah madunya diperas habis, sisanya digunakan untuk diolah sebagai lilin. Ada bagian tertentu di oni nakaf yang disebut palel, merupakan tampungan sari makanan yang belum terpakai sehingga belum ada madunya. Bagian ini biasanya dibuang. Palel sendiri adalah kumpulan sari makanan yang menjadi makanan lebah. Jika palelnya habis, madu yang sudah dihasilkan akan dimakan kembali oleh lebah hingga madunya habis dan lebah akan terbang/berpindah ke tempat lain. Makanya lebah mesti dipanen sebelum palelnya habis.

Pemotongan dimulai dari sarang yang paling ujung atau paling terakhir diasapi. Oni mauf yang akan dipotong lebih dahulu, kemudian digulung untuk diikat menggunakan tali kecil. Setelah oni mauf dipotong dan digantung didekat oni nakaf, kola onij akan diikat menggunakan simpul tertentu tepat di bawah oni nakaf yang mengandung madu. Oni nakaf segera dipotong dan ditampung di kola onij. Begitu selesai, tali kola onij yang terikat di dahan dan terhubung dengan tali utama ditarik oleh ahelet menuju sarang lebah berikut hingga sarang terakhir di dekat cabang utama. Lalu, kola onij ditarik menuju anonot untuk diturunkan menggunakan tali dan kola onij besar atau ember besar pada yang bertugas di bawah pohon. Kadang – kadang, oni mauf dari semua sarang di dahan yang sama dipotong lebih dulu dan diantar ke anonot baru oni nakaf dipotong. Tetapi khusus pemotongan oni nakaf, harus selalu dimulai dari sarang diujung dahan hingga yang dekat dengan cabang utama. Ini dimaksudkan agar ahelet tidak melewati dahan yang sudah terlumuri madu sebab sangat licin. Ahelet yang biasanya lebih tahu teknisnya seperti apa.

Ada pohon tertentu yang lebih cocok heli onij dilakukan pagi hari atau bulan terang. Biasanya ini diketahui berdasarkan pengalaman. Jika dipotong pada pagi hari, ada satu petugas lagi yang namanya Ana’ Lu Bokog atau pemegang lug induk. Lug yang dipegang olehnya adalah lug yang paling besar yang diameternya setengah meter dan memiliki panjang satu meter lebih. Dia hanya duduk di dahan yang diperkirakan terletak di tengah – tengah pohon dan memudahkan pengaturan asap agar asapnya menyebar seimbang diantara ahelet.

Di bawah pohon, oni mauf yang diterima akan dikumpulkan untuk dibagi – bagi setelah heli oni’ selesai. Sedangkan oni nakaf akan diremas kuat, seperti meremas santan dari kelapa, sehingga madunya keluar. Proses meremas dilakukan dalam ember. Madu yang tertampung dalam ember kemudian dimasukkan dalam botol atau jerigen yang ada. Ampas dari oni nakaf bisa diolah lebih lanjut menjadi lilin.

Sementara heli oni’ berlangsung, lantunan syair nel terus memenuhi langit. Nel dinyanyikan dengan irama dan ritme tertentu, hampir seperti meratapi mayat. Melengking lembut tetapi sarat nuansa magis. Tak sedikit tetua yang kemudian menangis tersedu – sedu ketika nel yang dilagukan mengulik hati. Ini adalah nel jenis oe on’. isi syair nel oe on’ sarat dengan puja – puji dan rayuan kepada lebah sebagai feot naij agar lebah tidak berpindah tempat dan kembali pada musim panen/potong kali berikut. Ada juga rayuan agar lebah tidak menyengat para ahelet. Penggal syairnya antara lain,  “feto, mutap mufani ho suni ho kenat, hai hem painoet ko”. Artinya, “saudariku, sarungkan kembali senjatamu, kami akan mengurusmu,”

Baca Juga  GMKI Kefamenanu Nilai Isi Surat Pemberitahuan Unimor tidak Logis

Selain oe on’, juga ada nel masi’uf yang dilagukan dengan maksud lain. Isi syairnya berisi saling olok dan saling sindir antar ahelet ataupun antara ahelet dengan orang yang berada di bawah pohon. Misalnya ada ahelet yang ingin mengolok – olok rekannya yang tidak bisa naik pohon, maka dia melantunkan nel masi’uf. Diantaranya seperti syair nel berikut ini:

Bi feot naij tupa lae hau tuna (si saudari tidur menggantung di atas pohon)

Nabia noka pui aknam nejan (berteman burung puyuh yang merayapi tanah)

Atau:

Sin ben nao, kakaes utte menas (waktu pergi, dibekali maksimal)

Natbol nemat, nanoen bek-bek (kembali pulang, tak bawa apa – apa)

 Nel terus berlangsung hingga heli oni’ selesai. Saat turun dari pohon, meo nakaf harus turun belakangan setelah sarang lebah yang paling besar (disebut apao eno’ atau apao nesu yang berarti penjaga gerbang atau penjaga pintu), biasanya ada di dahan utama dipanen terakhir sebagai penutup olehnya.

Begitu meo nakaf menjejaki tanah, tetua yang sudah menunggu segera melumeri nasi yang dimasak dari beras hitam (disebut mnahat aen metan) menggunakan madu yang diperas dari oni nakaf yang pertama kali diturunkan. Menggunakan tangan, tetua tersebut meraup campuran nasi yang masih panas dan madu, lalu mendekati pohon fanik dan menegadahkan tangannya ke atas pohon. Kepulan nasi hitam bercampur madu dimaknai sebagai upaya menguatkan kembali gigi dari feot naij. Prosesi ini disebut tatetu nisif. Dengan hikmad dan sarat nuansa sakral, tetua mengucapkan syair yang arkaik. Berikut, beberapa penggal syair tatetu nisif  yang dituturkan untuk mengangkat kembali kekuatan feot naij sekaligus mengingatkan feot naij agar kembali pada tahun mendatang. Begini bunyi penggal syairnya;

Usaeb ufani ko kinim len

He tonin tet mumnau he um

Mek pup muit am pup molo

Hai mek sip’ am kaem na’u

Setelah tateut nisif selesai dilakukan, tetua yang sama akan menyuapi nasi hitam pada para ahelet termasuk meo nakaf. Tanpa menggunakan sendok, ahelet disuapi nasi hitam langsung dari tangan tetua tersebut. Setelah itu, pemberian feot naij dibagi secara adil oleh tetua pemilik ulayat.

Membalas pemberian feot naij

Anggapan lebah sebagai feto’ (saudari perempuan) menarasikan keintimiman relasi antara atoin meto dan lebah. Relasi intim yang terbangun karena pemberian sang saudari yang begitu berharga bagi atoin meto. Tak hanya madu untuk menemani berbagai daging buruan santapan atoin meto, sesuai kalimat oni nak muit am lu’ abal – abalut dalam penggal syair adat orang Amfoang (maknanya mendekati maksud bahwa madu dari sarang yang bagus dan daging yang lesat), lilin untuk membuat benang pintal menjadi licin dan mengkilap selain untuk menerangi malam – malam atoin meto juga diberikan feot naij. Jauh sebelum kedatangan kolonial, madu dan lilin yang dihasilkan dari hutan – hutan tropis di wilayah Timor menjadi komoditi unggulan selain cendana dan gaharu dalam hubungan perdagangan dengan bangsa asing. Senjata api satu peluru yang kini disebut senapan tumbuk, alat – alat pertanian seperti linggis dan mata cangkul, parang, berbagai barang berbahan perak, dan beberapa perkakas lainnya dalam kehidupan orang Timor saat itu juga didapat dengan membarter madu dan lilin pemberian feot naij.

Lebih dari narasi yang demikian, relasi intim atoin meto bersama feot naij juga sekaligus mensyaratkan hubungan yang mutual. Menikmati pemberian feot naij tanpa balasan yang setimpal dari atoin meto adalah dosa besar dalam relasi yang dibingkai nuansa sakral dalam berbagai komunikasi dan upacara untuk saling berhubungan.

Karena itu, mestinya, dalam konteks atoin meto, menjaga lestarinya hutan tropis yang menyediakan pup muit am pup molo’ sebagai sumber nektar bagi feot naij, saudari perempuannya, adalah bentuk hubungan mutual yang bertanggungjawab. Bentuk hubungan yang tidak makan untung sendiri. Bukankah, lebih dari sekedar madu dan lilin, feot naij juga membantu penyerbukan berbagai tanaman produktif yang ditanam oleh atoin meto? Dengan begitu, memastikan ketersediaan pup muit am pup molo’ dengan cara menjaga perilaku bertani dan pemanfaatan hasil hutan yang bertanggungjawab terhadap pelestarian dan keberlanjutan hutan tropis Timor akan membuat feot naij memberi banyak hadiah bagi atoin meto. Bukan hanya madu dan lilin yang berlimpah, hasil panen dari ladang, sawah, dan kebun juga akan berlimpah.

 

Keterangan:

1 Pup dari kata Pupun yang berarti puncak dan muit adalah pertukaran bunyi dari kata muti yang berarti putih. Bahasa atoin meto atau dawan juga mengenal hukum pertukaran bunyi atau peluluhan huruf dalam kata. Misalnya: kolo yang berarti burung (kata benda) yang dilekatkan dengan keterangan soal warna, misalnya muti (putih) akan disebut kol muti (burung berwarna putih) dalam pengucapan. Huruf terakhir dari kata benda mengalami peluluhan. Jika disandingkan dengan benda lain yang lengkap dengan keterangan sifat, misalnya burung berwarna hitam (kol metan), kata sifat pada benda yang pertama mengalami pertukaran huruf. Misalnya, burung putih dan burung hitam akan disebut kol muit am kol metan.

 

News Feed