google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Ditulis Sebagai Terduga Pelaku Pencuri, Kornelius Tafetin Minta Media Bijaksana

Kornelius Tafetin, pria sepuh warga dusun 1 Desa Tuakau di Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang meminta pihak tertentu yang melaporkannya ke polisi, termasuk yang menuliskan namanya di media online tertentu sebagai terduga pelaku pencurian babi, agar lebih bijaksana dan berpikiran positif ketika berbuat dan menuliskan sesuatu sehingga tidak terjebak dalam penilaian dan perilaku yang cenderung keliru dan merugikan pihak tertentu, termasuk dirinya.

“Kasihan, saya yang sudah tua dan sakit-sakitan ini harus dilaporkan ke polisi, sampai terburu-buru ditulis di media oleh pihak tertentu sebagai terduga pelaku pencurian babi, sementara anak-anak muda yang pintar dan potensial itu terlalu buru-buru dan tidak mau memberi ruang pada saya untuk menjelaskan duduk perkara menurut versi saya, sehingga mengimbangi cerita yang hanya berasal dari satu sisi yang lain dan cenderung tidak objektif serta tidak adil.” keluh Tafetin ketika menjelaskan duduk perkara yang membuat dirinya dilaporkan ke polisi pada akhir Maret 2021 hingga kemudian ditulis oleh media online tertentu pada Senin (17/05/2021) lalu sebagai terduga pelaku pencuri babi.

Kepada media ini pada Rabu (19/05/2021) sore, Tafetin yang sementara sakit dan mengaku shock akibat pemberitaan yang menyudutkan dirinya menjelaskan kronologis kejadian yang berujung pada proses hukum dan pemberitaan yang dinilainya tak adil itu, menggunakan bahasa daerah (dawan) yang fasih dan sesekali diselipi pesan dan nasehat yang sarat dengan kebijaksanaan.

Tafetin bercerita, kebun milik mereka yang tidak jauh dari lokasi rumahnya sering dimasuki dan dirusak babi. Awalnya, mereka mengira kebun tersebut dirusak oleh babi hutan karena tidak pernah melihat atau mendapati babi yang masuk dan merusak itu.

“Sebelum tanggal 24 Maret 2021, kebun saya sudah empat kali dimasuki babi yang merusak tanaman padi dan menghabiskan hampir semua jagung dan singkong yang ada di dalam kebun tersebut.” ceritanya.

Pada tanggal 24 Maret 2021, lanjut Tafetin, dua kerabatnya atas nama Yusuf Nenobahan dan Titus Abanat yang kebetulan sementara membantu menuai padi di kebun miliknya itu melihat seekor babi dalam rumpun padi yang akan dituai. Babi yang masuk itu bukan babi hutan atau babi liar. Mereka menduga babi tersebut merupakan peliharaan milik warga tertentu yang sengaja dilepas untuk bebas berkeliaran. Tafetin juga bercerita, sejak beberapa waktu terakhir ini memang ada beberapa warga di sekitar mereka yang merasa terganggu karena ada babi peliharaan milik warga tertentu yang terkesan sengaja dibiarkan bebas berkeliaran meski sering merusak tanaman milik warga lainnya.

Keduanya, cerita Tafetin, mencoba mengusir babi tersebut agar keluar melalui lubang pada pagar yang menjadi jalan masuknya.

“Mungkin karena terdesak setelah tidak menemukan jalan keluar, babi tersebut malah mencoba mengejar dan menyerang kedua kerabat kami sehingga oleh salah satunya, babi tersebut diparang hingga mati.” cerita Tafetin.

Tafetin melanjutkan, kedua kerabatnya itu kemudian melaporkan kejadian tersebut pada dirinya yang berada di rumah. Dirinya memang tidak ikut ke kebun hari itu karena sementara sakit.

Baca Juga  Pemuda Amfoang Patungan Uang untuk Bantu IRDA Audit Masalah Dana Desa

“Saya lalu arahkan mereka agar kedua telinga dan ekor babi tersebut dipotong dan diamankan karena sesuai kebiasaan kami, telinga yang memiliki tanda hetis itu akan ditunjukkan kepada warga ketika pemilik kebun berusaha mencari pemilik babi, atau sebaliknya, akan ditunjukkan saat yang diduga sebagai pemiliknya mencari dan menanyakan keberadaan ternaknya yang hilang. Kami berniat mencari pemiliknya pada esok pagi karena hari sudah malam saat itu.” jelas Tafetin.

Sesuai penjelasan Tafetin, dalam kebiasaan atoin meto (orang Timor) yang sudah berlaku turun-temurun, jika hewan peliharaan milik orang tertentu yang memiliki tanda hetis (potongan dengan pola tertentu sebagai tanda milik keluarga tertentu) di telinga tidak sengaja atau terpaksa dibunuh ketika masuk dan merusak tanaman di kebun, telinga tersebut akan disimpan untuk ditunjukkan ketika mencari pemiliknya atau sebaliknya ketika ada yang mencari hewannya yang hilang. Pemilik hewan memang harus ditemukan karena kedua belah pihak mesti duduk bersama untuk membahas ganti rugi yang harus diterima atau dibayarkan kepada pemilik kebun jika kerugian yang dideritanya relatif besar atau melebihi keuntungan dari konsekuensi jika memiliki hewan perusak sebagai denda. Biasanya, Tafetin menjelaskan, hewan yang terbunuh itu bisa dibagi dua jika pemiliknya telah diketahui sebelum daging hewan tersebut diolah.

“Nah, pagi hari setelah tanggal 24, saya arahkan keduanya untuk berpencar, masing-masing membawa satu daun telinga dari babi yang sudah dibunuh itu. Yang satunya ke arah timur, satunya ke barat. Sebelum keduanya bergegas, sudah ada yang datang dengan gelagat seperti mencari sesuatu karena mereka lebih dulu ke kebun yang dimasuki babi tersebut sebelum kembali mendatangi kami di rumah. Kami informasikan pada mereka soal babi yang terbunuh termasuk menunjukkan daun telinganya yang kami amankan, mereka akui babi yang sudah dibakar itu milik mereka.” cerita Tafetin.

Tafetin menambahkan, anak kandungnya yang kebetulan menjabat sebagai kepala desa Tuakau dan tinggal di rumah yang bersebelahan dengan rumahnya juga ada saat dirinya didatangi pemilik babi, tetapi terburu-buru untuk menyelesaikan sesuatu urusan di kantor kecamatan sehingga ketika dirinya menawarkan pada pemilik babi agar mereka ‘duduk bersama’ saat itu untuk menyelesaikan masalah tersebut, pemilik babi menolak dengan alasan sebaiknya menunggu agar kepala desa juga ikut ‘duduk bersama’ sehingga persoalan tersebut tidak dibahas berulang-ulang. Mereka kemudian bersepakat akan duduk bersama hari itu saat kepala desa kembali dari kantor kecamatan. Sesuai kebiasaan, kepala desa memang harus ikut ‘duduk bersama’ ketika suatu persoalan ingin dibicarakan dan diniatkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

“Siangnya, begitu kepala desa kembali dari kantor kecamatan, saya langsung minta tolong ketua RT setempat untuk menyampaikan informasi pada mereka bahwa kami sudah bisa ‘duduk bersama’. Mereka tidak datang saat itu. Ternyata beberapa waktu kemudian mereka sudah laporkan masalah tersebut ke pihak kepolisian. Pada tanggal 26 Maret 2021, sudah ada personil polisi yang turun lihat kebun tempat babi tersebut masuk merusak dan terbunuh. Pada tanggal 29 Maret 2021, saya juga dipanggil bersama kedua kerabat tersebut untuk memberikan keterangan kepada pihak Polsek Camplong. Ternyata saya juga ikut dilaporkan sebagai pencuri babi…

Baca Juga  Sekilas Tentang Upacara Adat Hole di Sabu Raijua

…Setelah itu, kami sudah lebih dari lima kali melakukan pendekatan untuk ‘duduk bersama’ tetapi pihak pelapor tidak mau meskipun saya bersedia untuk membayar ganti rugi babi yang harganya sekitar 2 hingga 3 jutaan itu tanpa memperhitungkan kerugian yang saya alami. Saya pasrah saja ikuti proses yang ada. Umur-umur, saya yang begini tua dan tidak pernah membuat rugi siapapun ternyata dilaporkan sebagai pencuri karena anak-anak saya terpaksa harus membunuh babi yang masuk merusak di kebun kami.” keluh Tafetin yang matanya terus berkaca ketika bercerita.

Melalui media ini, Tafetin kemudian mendesak para anggota BPD dan Pemerintah Desa Tuakau agar secepatnya menetapkan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur mengenai penertiban ternak peliharaan masyarakat sehingga tidak perlu lagi ada warga lain yang menjadi korban seperti dirinya.

“Saya harapkan Perdes secepatnya dibuat karena ada pihak tertentu, termasuk yang melaporkan saya sebagai pencuri ternak, yang saat ini selalu membiarkan hewan peliharaannya bebas berkeliaran dan berpotensi merusak tanaman milik warga lain. Tanaman yang tidak bergerak ke mana-mana yang harus kita pagari, sementara hewan dibiarkan bebas berkeliaran. Jangan sampai ke depan ada banyak orang tua seperti saya yang sudah sakit-sakitan tapi harus berurusan dengan polisi karena masalah yang sama.” harap Tafetin.

Media Harus Objektif dan Bijaksana

Menanggapi adanya pemberitaan mengenai Kornelius Tafetin sebagai pelaku pencurian babi sehingga yang bersangkutan sempat shock dan tertekan hingga sakit karena seumur hidup namanya belum pernah dipublikasikan dengan cara demikian, salah satu kerabat Kornelius Tafetin yang ingin namanya dianonimkan itu meminta agar peristiwa yang dialami kakek mereka bisa dijadikan sebagai pelajaran oleh para pemuda yang aktif mengelola media.

Menurutnya, media seharusnya tidak terburu-buru memberitakan persoalan yang menimpa kakek mereka hanya berdasar pada keterangan sepihak dari pelapor didukung keterangan yang tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari pihak kepolisian kepada pihak pelapor sebelum mengonfirmasi penjelasan versi kakek mereka sebagai terlapor.

Yang disesalinya, proses hukum belum sampai pada tahap penyidikan dan keterangan serta pengakuan dari Yusuf Nenobahan serta Titus Abanat mengenai keterlibatan mereka berdua juga telah disampaikan kepada pihak kepolisian yang juga diketahui oleh pelapor yang menghubungi media tertentu tetapi isi pemberitaan dalam media online tersebut hanya menyebutkan kakek mereka seorang diri sehingga terkesan sangat tendensius dan seolah hanya dimaksudkan untuk memojokkan kakek mereka.

“Perilaku semacam ini yang biasanya merusak citra pekerja media. Memang sehari kemudian ada ruang yang diberikan agar keluarga bisa klarifikasi. Tapi, bagi saya, media harusnya bijaksana. Mestinya konfirmasi dengan pihak terkait supaya berimbang. Jangan berlindung pada alasan akan ada ruang untuk klarifikasi sehingga asal beritakan baru konfirmasi. Karena ini bukan suatu masalah yang sangat urgen untuk segera dipublikasi sebab menyangkut kepentingan banyak orang sehingga konfirmasi kepada pihak terkait baru dilakukan kemudian. Apalagi ini berkaitan dengan kepentingan orang tua yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan. Syukur tidak terjadi sesuatu yang membahayakan pada kakek kami.” ungkapnya.

Baca Juga  NU Minta Pesantren Tak Terprovokasi Teror Orang Gila

Lebih lanjut dirinya mengharapkan agar pengalaman yang menimpa kakeknya bisa dijadikan sebagai pelajaran oleh banyak anak muda yang saat ini sementara aktif mengelola media berita agar tidak terburu-buru dan lebih objektif memberitakan sesuatu sehingga tidak merugikan pihak tertentu yang sebenarnya secara tidak langsung ikut memengaruhi citra dan penilaian terhadap kualitas media dan personal terkait di media tersebut.

Perlu diketahui, pada Senin (17/05/2021) lalu, salah satu media berita online dalam pemberitaannya yang berjudul ‘Diduga Pelaku Kasus Pencurian Ternak di Desa Tuakau adalah Ayah dari Kades Tuakau’ menulis Kornelius Tafetin yang diinisialkan sebagai KT, yang merupakan ayah kandung dari Kepala Desa Tuakau, Yaret Tafetin sebagai terduga pelaku pencurian ternak.

Berikut merupakan isi pemberitaan yang penulis salin dari isi berita tersebut. Karena pertimbangan tertentu, beberapa hal disamarkan oleh media ini. Berikut isi berita tersebut.

OELAMASI-**** *** (disamarkan oleh suara amfoang), Kasus pencurian ternak yang terjadi di desa Tuakau kec. Fatuleu Barat di duga pelaku adalah KT, yang juga ayah dari Kades Tuakau Kec. Fatuleu Barat.

Sesuai dengan Laporan Polisi Nomor, LP/B/14/III/2021/Polsek Fatuleu/Polres Kupang, tanggal 26 Maret 2021, dengan pelapor/Korban L**** *******k (Sengaja disamarkar oleh Suara Amfoang), bahwa terjadi Kehilangan ternak (babi) yang di duga pelaku adalah KT,  yang juga ayah dari kades Tuatuka, Kec. Fatuleu Barat.

L**** *******k (Sengaja disamarkan oleh Suara Amfoang) ketika menemui media ini di bilangan oesapa Kota Kupang, senin 17/05/2021 mengatakan bahwa, kronologis kejadian di awali pada hari rabu, 24/03/2021, saya keluarkan hewan (babi) 2 ekor dari kandang untuk mencari makan di luar dan pada sore hari hanya  satu ekor yang kembali ke kandang, akhirnya saya melakukan pencarian ternak babi tersebut.

Dan saya menemukan ada sekelompok orang lagi bakar babi di Kebun milik bapak KT,  sehingga saya melaporkan ke RT.02, dan RT 03, Selanjutnya ketua RT menemui KT, untuk mempertanyakan hal tersebut, dan ternyata babi tersebut milik L**** *******k (Sengaja disamarkan oleh Suara Amfoang) dibuktikan dengan Potongan tanda di telinga (budaya orang NTT untuk mengetahui pemilik ternak ada tanda pada potongan telinga.)

Kasus tersebut sempat berjalan di tempat, karena belum di proses di polsek Fatuleu, akhirnya korban dengan bantuan DPD LP2TRI NTT mengadu ke Polda NTT, Akhirnya kasus tersebut di lanjutkan.

Sesuai SP2HP yang sempat di peroleh media ini, bahwa kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan penyidik sudah memeriksa semua terlapor, dan dalam poin selanjutnya kasus ini menunggu dilakukan gelar perkara untuk di naikan dari tahap Penyelidikan ke Penyidikan, bunyi surat SP2HP dengan nomor:SP2HP/12/V/2021/Polsek Fatuleu, tanggal,05/05/2021.

Sampai berita ini diturunkan Kapolsek Fatuleu, IPTU Marthen Lasiko, belum berhasil di konfirmasi.

 

 

 

Komentar

News Feed