google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Dinamika Kosmos: Teori Kreasionisme dan Teori Evolusi

Abstrak

Teori kreasionisme dan teori evolusi merupakan persoalan fundamental dalam dinamika kosmos. Dimana kedua teori ini saling bertolak belakang satu sma lainnya. Hal ini berawal dari persoalan saat awal dan saat akhir kosmos. Dimana jika ada saat awal dan akhir maka muncul sebuah pertanyaan bahwa bagaimana kosmos mengalami dinamika? Apakah ada penggerak yang memungkinkan kosmos itu sehingga mengalami dinamika? Apakah dinamika itu berasal dari dalam kosmos itu sendiri atau diluar kosmos?

Dalam pandangan pandangan tentang keadaan kosmos ini, para ahli selalu beranggapan dan selalu meneliti tentang kapan kosmos ini berawal dan berakhir. Hal ini terbukti dengan fenomena fenomena pemikiran yang dikemukakan oleh para ahli terkait dengan kosmos ini.  sama halnya dengan teori kreasionisme dan teori evolusi yang selalu bertentangan dan atau selalu berdebat mengenai eksistensi dari kosmos ini. Hal ini dikarenakan kedua teori ini memiliki pandangan yang berbeda mengenai kosmos ini.

Para hali melihat kedua teori ini sebagai oxymoron. Dimana yang satu bertahan bertahan dengan pandangan, yang satu pun bertahan dengan pendangannya. Atau dengan kata lain masing masing mepertahankan posisinya. Namun keduanya berada dalam suatu obyek yang sama yakni kosmos. Dari kedua teori ini, ada yang berpendapat bahwa kosmos ini ada karena ada yang mencipataknya sedangkan yang satunya berpendapat bahwa kosmos ini ada karena adanya perubahan atau peralihan dari sesuatu menuju sesuatu yang kemudiaan disbut planet. Atau adanya suatu dentuman besar sehingga dari dentuman itu timbul aliran aliran kecil yang membentuk sesuatu yang kemudiaan menjadi sebuah planet.

Dari kedua pandangan ini, sampai saat ini pun belum diketahui secara pasti bahwa mana yang benar atau tepat dan mana yang salah atau keliru. Dan hal inilah yang menjadi persoalan mendasar dalam kosmos dan terutama kaitannya dengan perbedaan pandangan dari kedua teori ini.

Kata kunci: Kosmos, Kreasionisme, Evolusi

 

PENDAHULUAN

Alam semesta adalah fakta yang tak terhindarkan dalam hidup kita. Kita hidup di alam semesta baik secara mikrokosmos (jagad cilik) dan makrokosmos (jagad gedhe). Kita merangkai sejarah hidup kita dengan segala problematikanya di alam semesta.

Istho Ninu. (Penulis)

Keberadaan alam semesta ini menarik perhatian bagi para pemikir Yunani sejak awal. Para filsuf Yunani menggunakan arkhê sebagai prinsip untuk menjelaskan asal-mula alam semesta. Thales (624–546 SM) berpendapat bahwa air sebagai prinsip asal-mula alam semesta. Alasannya adalah bahwa air memenuhi sebagian besar alam sekitar. Selanjutnya, Kehidupan mengandaikan air; tanpa air tidak ada kehidupan. Anaximenes (586–526 SM) berpendapat bahwa prinsip segala sesuatu ada pada udara. Segala yang berkaitan dengan kehidupan membutuhkan udara. Tanpa udara, semua manusia akan mati. Phytagoras (570–495 SM) mengemukakan bahwa prinsip segala sesuatu berasal dari angka-angka; Angka dapat membentuk garis, ruang dan volume sebagai prinsip pertama dalam alam semesta.

Secara khusus, Anaximandros (610–540 SM) adalah filsuf yang memikirkan tentang asal-usul alam semesta dengan prinsip terakhir sebagai “to apeiron”: “yang tak terbatas”. Aperion bersifat ilahi, abadi, tak berubah dan meliputi alam semesta. Karena suatu perceraian (ekkrisis), maka dilepaskan dari apeiron itu unsur-unsur berlawanan (ta enatia): yang panas dan yang dingin, yang kering dan yang basah. Kejadian dunia berlangsung ketika yang panas membalut yang dingin, sehingga bersama-sama merupakan bola raksasa. Karena kepanasan, maka dalam yang dingin itu air mulai melepaskan diri dari tanah dan mulai berkembang juga udara atau kabut. Karena tekanan yang disebabkan oleh udara itu, bola meletus menjadi sejumlah lingkaran. Tiap-tiap lingkaran terdiri dari api yang dilingkupi dengan udara. Karena setiap lingkaran mempunyai lubang, api yang terkandung di dalamnya dapat dilihat. Itulah matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Asal-usul alam semesta ini mempunyai dua sumber penjelasan. Pertama, jika alam semesta ada, asal-usulnya berasal dari Sang Pencipta. Alam semesta diciptakan oleh Sang Pencipta. Pada bagian ini, alam semesta tidak dapat tidak berada karena diciptakan oleh Allah. Kedua, jika alam semesta ini ada, keberadaannya merupakan hasil proses alam. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama.

Baca Juga  Wow! Mom's Cafe di Pantai Warna Warni Raih Rp 200 Juta/Bulan

Berdasarkan teleskop Hubble, alam semesta lahir berkisar 13-15 milyar tahun yang lalu, sementara bumi baru terbentuk sekitar 3-4 juta tahun yang lalu. Dalam evolusi alam semesta, Sang Pencipta tidak dibicarakan sebagai penyebab dari alam semesta. Yang dibicarakan dalam evolusi adalah proses berlangsungnya alam semesta sebagai proses alam. Dua pendekatan ini menjelaskan tentang asal-usul alam semesta yang berbeda. Pendekatan penciptaan diidentikkan dengan keyakinan iman dan pendekatan evolusi disamakan dengan pengetahuan ilmiah. Seringkali kedua pendekatan ini saling bertentangan.

Secara sederhana diakatakan bahwa situasi kosmos menjadi persoalan dasar bagi para ahli dan para ilmuwan yang menaruh perhatian pada kosmos dan berbicara atau membahas tentang kosmos. Atau dengan kata lain situasi kosmos menjadi persoalan mendasar bagi para ahli dan para ilmuwan alam. Dimana mereka selalu mempertanyakan bagaimana dinamika kosmos ini sehingga kosmos dapat dikatakan berawal dan berakhir. Pertanyaan ini menjadi fokus utama mereka untuk mencari dan membuktikan secara benar dan pasti bagaimana sehingga dapat dikatakan bahwa kosmos ini berawal dan berakhir. Untuk itu, ada dua teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan tersebut. Kedua teori itu ialah teori kreasionisme dan teori evolusi.

Pertama, teori kreasionisme (penciptaan). Teori ini menjelaskan bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah. Bahwasannya kosmos atau alam termasuk organisme di dalamnya itu semua diciptakan oleh Tuhan. Kedua, teori evolusi. Teori ini menjelaskan bahwa segala seuatu terjadi karena adanya perkembangan dari tahap yang sederhana menuju tahap yang lebih kompleks.

Dari kedua pandangan ini, dinamika kosmos berada pada suatu posisi yang dimana bergantung  pada pembuktian dari  masing masing penemuan dari para pemikir kosmos ini. Bahwasannya apabila mereka mengatakan bahwa karena adanya sesuatu yang menciptakan dan adanya perkembangan atau perubahan maka distulah letak dinamika dari kosmos ini.

Berbicara mengenai eksistensi alam semesta, kita dapat menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan dengan Teorema Penciptaan yang berpangkal dari Allah sebagai Pencipta. Kedua, pendekatan dengan Teori Evolusi alam semesta yang berpangkal dari alam sebagai ciptaan. Pada bagian selanjutnya, kita akan membahasnya satu-persatu.

 

PEMBAHASAN

Teori Kreasionisme (penciptaan)

Jika kisah penciptaan merupakan kisah antara ciptaan dan Pencipta, hal ini berarti ciptaan harus dapat dibuktikan dan Pencipta juga harus dapat dibuktikan. Tentang ciptaan sebagai akibat tindakan Pencipta, kita dapat memberikan buktinya; buktinya adalah bahwa dunia ini ada sebagai ciptaan. Tetapi, tentang Pencipta sebagai pelaku yang menciptakan, kita tidak dapat membuktikan secara langsung sebagai objek pengalaman yang dapat diobservasi sebagaimana halnya objek inderawi.

Dengan demikian, Sang Pencipta dunia tidak dapat diverivikasi, tidak dapat dibuktikan sebagai objek inderawi; Allah tidak dapat dilihat, didengar, dicium, dicecap, dan diraba. Adanya Sang Pencipta hanya dapat didemonstrasikan. Usaha mendemonstrasikan adanya Allah sebagai Sang Pencipta dapat dilakukan melalui lima jalan dari St. Thomas Aquinas untuk mengetahui bahwa Allah benar-benar ada (quinque viae ad deum).

Jalan pertama adalah gerak, bahwa segala sesuatu bergerak, setiap gerakan pasti ada yang menggerakkan, namun pasti ada sesuatu yang menggerakkan sesuatu yang lain, namun tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain, Dialah Allah; Jalan kedua adalah sebab akibat, bahwa setiap akibat mempunyai sebabnya, namun ada penyebab yang tidak diakibatkan, Dialah sebab pertama, Allah; Jalan ketiga adalah keniscayaan, bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa ada dan ada yang bisa tidak ada (contohnya adalah benda-benda yang dahulu ada ternyata ada yang musnah, namun ada juga yang dulu tidak ada ternyata sekarang ada), namun ada yang selalu ada (niscaya) Dialah Allah; Jalan keempat adalah pembuktian berdasarkan derajat atau gradus melalui perbandingan, bahwa dari sifat-sifat yang ada di dunia (yang baik-baik) ternyata ada yang paling baik yang tidak ada tandingannya (sifat Allah yang serba maha) Dialah Allah; Jalan kelima adalah penyelenggaraan, bahwa segala ciptaan berakal budi mempunyai tujuan yang terarah menuju yang terbaik, semua itu pastilah ada yang mengaturnya, Dialah Allah.

Kisah penciptaan sebagai teori kreasionisme diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik. Pertama, Allah mencipta dari ketiadaan. Allah dalam mencipta tidak membutuhkan sesuatu yang ada lebih dahulu dan tidak membutuhkan bantuan apa pun. Ciptaan itu pun tidak mengalir secara paksa dari substansi ilahi. Allah mencipta dengan bebas dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Allah sendiri menciptakan alam semesta secara bebas, langsung, dan tanpa bantuan apa pun; Karena itu, tidak ada makhluk yang mempunyai kekuasaan tak terbatas yang perlu untuk “mencipta” dalam arti kata yang sebenarnya; artinya, menghasilkan sesuatu yang sama sekali belum ada, dan memberi kepadanya keberadaan, memanggilnya “dari ketiadaan ke dalam keberadaan” (ex nihilo nihil existit). Kedua, alam semesta menerima keberadaanya dari Sang Pencipta.

Baca Juga  Linus Lusi Lepas 42 Guru dan Kepala SMK Studi Tiru ke Bogor

Allah sebagai Pencipta disebut sebagai “Yang Pertama” dan “Yang Terakhir”. Sebutan ini mau mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berada di dalam Allah. Allah menjadi penyebab keberadaan alam semesta dan seluruh alam semesta tertuju kepada Allah. Terutama kehidupan manusia sebagai makhluk ciptaan tertinggi yang masa depannya mendapatkan finalitasnya di dalam Allah. Ketiga, Allah menciptakan alam semesta demi kemuliaan-Nya; “Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah”. Penjelasannya adalah Allah menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya, melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya”. Allah tidak mempunyai alasan lain untuk mencipta selain cinta-Nya dan kebaikan-Nya.

Teori kreasionisme menurut Kitab Kejadian, hanya berlangsung enam hari Kisah ini dituangkan dalam Kejadian 1:1-3123 dan seluruh kisah penciptaan yang berlangsung enam hari ditutup dengan: “Maka, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam” (Kej 1:31). Inilah urutan kisah penciptaan dalam kitab Kejadian yang diakui oleh para kreasionis.  Allah adalah Pelaku dari seluruh karya penciptaan. St. Atanasius menegaskan: “Kita percaya hanya satu Allah yang menciptakan, Allah mahakuasa, pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan, yang berasal dari dirinya sendiri berada”.

Dengan menyatakan bahwa Allah adalah Pelaku penciptaan, seluruh alam semesta ini ada bukan karena “peristiwa kebetulan” dan juga bukan karena “kekuatannya sendiri” (alam semesta ada karena berasal dari dirinya sendiri). Tak pernah ada ciptaan yang berasal dari ketiadaan, selain Allah yang melakukannya. Allah tidak membutuhkan bahan apa pun dalam karya penciptaan-Nya. Hal ini menyatakan bahwa Allah Mahakuasa dan Mahapencipta. Tentang waktu penciptaan, waktu yang dibutuhkan dalam karya penciptaan adalah enam hari. Dengan menyatakan waktu penciptaan, kita dapat mengatakan bahwa segala yang diciptakan masuk ke dalam wilayah waktu. Penciptaan dan waktu adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Segala yang tercipta bereksistensi dalam waktu dan ruang.

 

Teori Evolusi

Evolusi kosmologis dijelaskan oleh Teori Big Bang. Sebagai evolusi kosmologis, alam semesta bermula dengan materi padat dengan tenaga yang mahadahsyat. Materi itu meledak dengan sangat dahsyat sehingga gumpalan-gumpalan gas dan debu menjauh dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ledakan ini terlempar ke segala penjuru. Ledakan purba yang mahadahsyat ini disebut dengan Ledakan Besar (Big Bang). Inilah permulaan alam semesta dan dengan ini dimulai juga waktu. Sebelum ada Ledakan Besar belum ada waktu, dan keadaan ini disebut sebagai singularitaS.  Singularitas merupakan momentum ketika suhu, kerapatan, dan kelengkungan alam semesta semuanya bernilai tak terhingga. Dengan kata lain, singularitas adalah kenyataan yang tidak bisa diukur dan tidak diatur oleh hukum alam.

Singularitas merupakan penyebab terjadinya dua wilayah. Pertama, singularitas merupakan awalmula yang berkembang dalam alam semesta (the present expansion of the universe). Dengan ini, singularitas pada umumnya dianggap sebagai awal-usul alam semesta. Kedua, singularitas merupakan ledakan partikelpartikel dari konsentrasi masa yang menjadi cikal-bakal bintang-bintang dalam alam raya (high-mass concentration such as burnt-out stars). Dalam Teori Big Bang, kita mendapatkan pengetahuan tentang awal mula terjadinya alam semesta yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian.

Stephen Hawking menjelaskan bahwa satu detik setelah peristiwa Big Bang, temperatur berkisar 10 milyar derajat Celcius. Pada saat itu alam semesta memuat foton, elektron, neutron, proton, dan neutron. Kebanyakan elektron dan antielektron (positron) saling membinasakan diri dan menciptakan foton (bagian elementer terkecil dari sinar). Kirakira seratus detik kemudian, temperatur jatuh ke 1 milyar derajat saja. Proton dan neutron menyatukan diri menjadi inti atom hidrogen berat (deuterium), lalu terbina inti atom helium dan inti dari beberapa unsur kimiawi lebih berat seperti lithium. Beberapa jam saja setelah Big Bang, terbentuklah zat helium dan unsur-unsur kimiawi lain. Dengan turunnya temperatur ke beberapa ribuan derajat Celcius, elektron-elektron dan intiinti atom menyatukan diri – karena daya tarik-menarik masing-masing – menjadi atom-atom. Dengan demikian, kita sampai pada kekuatan inti dari alam semesta.

Baca Juga  Dulu dan Sekarang

Evolusi alam semesta bertitik tolak dari peristiwa Big Bang yang terus berproses. Berdasarkan Big Bang, alam semesta terus berkembang (the expansion of universe). Alam semesta terus melakukan ekspansinya dalam jagad raya ini. Stephen Hawking menegaskan: “Penemuan bahwa alam semesta yang mengembang adalah salah satu revolusi intelektual terbesar pada abad kedua puluh”. Berkaitan dengan ekspansi alam semesta, Alexander Friedmann (1922) adalah orang pertama yang menyatakan bahwa alam semesta terus berekspansi yang berasal dari sebuah ledakan sebagai titik tolaknya. Setelah itu, Edwin Hubble (1929) menemukan hubungan antara perubahan sinar merah dalam spektrum dari bintang, galaksi, atau gugusan galaksi dengan jarak dari objek-objek tersebut.

Perkembangan alam semesta diwarnai dengan kelahiran bintangbintang baru. Di alam semesta terdapat ketegangan besar antara daya gravitasi sebagai daya tarik dan daya sentrifugal sebagai daya ekspansi. Gravitasi memperlambat perluasan alam semesta dan memadatkan energi. Inilah saat kelahiran galaksi yang berputar. Jika suatu bintang memadatkan diri sedemikian dahsyat hingga meledak, terbentuklah bintang baru yang disebut supernova. Menurut pengamatan para ahli astrofisika, hampir setiap detik muncul satu supernova baru dalam alam semesta, sedangkan erupsi sinar gamma disaksikan satu kali sehari.

Akhirnya, berkaitan dengan evolusi alam semesta, Stephen Hawking mengajukan pertanyaan-pertanyaan fundamental: “Mengapa ada sesuatu, bukan ketiadaan? Mengapa ada hukum alam tertentu, bukan yang lain?” Menanyakan siapa yang menciptakan alam semesta itu masuk akal, tapi jika jawabannya adalah Tuhan, maka pertanyaannya sekadar bergeser menjadi siapa yang menciptakan Tuhan. Dalam pandangan demikian, diakui bahwa ada sesuatu yang tak perlu pencipta, dan sesuatu disebut Tuhan. Tapi kami nyatakan bahwa pertanyaanpertanyaan itu semuanya bisa dijawab dalam ranah sains saja, tanpa perlu membawa-bawa sosok ilahi.

Berdasarkan pernyataan Hawking, seolah-olah proses evolusi alam semesta tidak perlu campur tangan Allah. Seolah-olah evolusi alam semesta hanya semata-mata peristiwa natural, bukan peristiwa supranatural. Apakah penjelasan evolusi alam semesta dengan Teori Big Bang tidak memerlukan keterlibatan Allah? Apakah dengan teori evolusi alam semesta, peran Allah sebagai pencipta telah dikuburkan. Demikian juga, apakah setelah pasca Penyusutan Besar alam semesta (a Big Crunch), sejarah dunia berakhir tanpa bekas dan sejarah manusia berakhir tanpa makna.

 

KESIMPULAN

Berkaitan dengan Teori kreasionisme (Penciptaan) dan Teori Evolusi yang saling melengkapi, ada dua hal yang perlu ditegaskan. Dari satu pihak, evolusi kosmos memuncak dalam kehadiran manusia di alam semesta. Hal ini dikatakan bahwa manusia adalah tujuan dari evolusi. Seluruh proses alam yang sedemikian rupa memuncak kepada penciptaan dan kehadiran manusia di tengah-tengah alam semesta ini.  Brandon Carter sebagai ahli fisika menyatakan: “Demikianlah terjadi bahwa antara seluruh dunia mungkin terwujud jika tampilnya kehidupan dan karena itu, eksistensi tentang apa pun organisme, yang dapat dilukiskan, menjadi sebagai “penilai dari alam semesta”.

Karena itu, gambaran sempurna, harmonis, dan yang dapat memahami dalam keberadaan alam semesta bahwa kebijaksanaan Ilahi mampu menentukan, hanyalah kepada manusia”. Kebenaran ini menegaskan apa yang dikatakan oleh Kitab Kejadian bahwa manusia menjadi tujuan penciptaan sebagai imago Dei (Kej 1:27). Sebagai imago Dei, manusia memiliki akal budi yang mampu memanusiawikan alam semesta dan jiwa rohani yang mampu hidup kekal.

Secara sderhana mau dikatakan bahwa semuanya bertujuan pada manusia dan manusia sebagai ciptaan yang sempurna haruslah mengelola ala mini dengan baik. Bahwasannya tidak perlu adanya pertentangan antara kedua teori ini. Karena semua tujuannya ialah pada manusia.

Komentar

News Feed