google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Di Tepi Pantai Naikliu | Puisi Paulus Elliek

Di Tepi Pantai Naikliu

Di tepi pantai naikliu
angin melindap
menggeraikan panjang rambutmu
sesekali percik air laut 
menampar wajah lancip 
menitik di dagu

Orang-orang mendayung 
sampan mulus melaju 
di atas laut 
tiada gelombang
kecipak air mengisi 
hening nelayan

Awan putih menggayut di udara
lebih putih dari kapas 
di kebun petani amfoang
dipelihara alam dan manusia

Laut dan langit menyatu 
hamparkan kebesaran Illahi
tak seberapa jauh ke timur
daratan Kolabe menjorok ke laut 
seperti lukisan kanak-kanak 
teduh dan senyap

Di belakang kita 
berjajar barisan bukit 
memagari desa-desa dan kelurahan 
semak hutan tropis
berhiaskan padang-padang gundul
tempat orang tua kita dahulu
membuka hutan 
tebas bakar 
berkebun sesaat
jejak nyeri alam 
hingga lama sesudahnya

Senyum dikulum 
memandang ke barat 
ke dermaga-dermaga
di bibir pantai Afoan 
tempat kapal perintis 
kapal feri datang dan pergi 
melayarkan asa masyarakat 
sewaktu-waktu

Oh ya, 
aku masih menggenggam jemarimu 
di tepi pantai Naikliu
saling menatap 
tanpa kata 
tanpa suara 
cukup cahaya mata kita 
mengisaratkan cinta yang ada 
bagi kehidupan 
dan Amfoang yang damai

Sesekali 
burung camar 
melintas di kejauhan 
mengepakkan sayap tak kenal lelah
dan pada cakrawala yang membentang luas 
mataku mengerjap 
bayang-bayang kemajuan 
datang menyergap

Dalam semilir angin laut
isarat melintas 
di balik awan masa depan 
waktu yang terus bergulir 
merubah wajah desa dan kampung-kampung
menorehkan sejarah

Mungkin masih menjadi mimpi 
mengangan
tapi saatnya akan tiba 
di pesisir pantai ombak memecah 
jalan-jalan licin tandas 
dermaga kian ramai setiap hari
banyak homestay dibangun 
hotel megah berdiri kokoh
mobil rental berseliweran 
membawa wajah-wajah asing 
mengunjungi obnas dan lokus wisata
desa menjadi kota
hiruk pikuk tiada henti
Lalu satu dua orang mengawasi jeli 
tanah-tanah kita pun ditawari mahal
memicu sengketa lahan

Berharap kota dibangun 
di atas bukit
menghadap ke laut utara 
dari mana juga datang masa depan 
yang penuh kejutan

Masih menggenggam jemarimu 
pada akhirnya
kita berbalik pulang 
hari telah senja
matahari jingga menggurat langit
Tinggallah deru ombak 
di belakang kita
suarakan hempasan jaman
mendesahkan beribu makna


_Naikliu, 13 Maret 2021_

Baca Juga  Ike-Suti ma Panbuat

Komentar

News Feed