google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Bisakah Kita Tulus Memuji Maudy?

Sudah hampir semingguan ini, jagat maya Indonesia dihebohkan dengan kelulusan artis muda beken nan cantik Maudy Ayunda dari kampus ternama dunia Stanford University, USA. Gak tanggung-tanggung, di belakang namanya tersemat tambahan dua gelar master sekaligus: Ayunda Faza Maudya, BA, MA, MBA.

Rupanya, kehebohan bukan hanya lantaran banyak orang memuji keberhasilan pemeran sekaligus pelantun lagu Perahu Kertas ini menyelesaikan studi magisternya, melainkan tersebarnya banyak tulisan yang bilang bahwa keberhasilan Maudy dalam kuliahnya itu, ya sesuatu yang biasa saja (baca: privilege).

Baiklah, kalau hanya bilang keberhasilan Maudy itu sesuatu yang biasa sih, nggak masalah. Tentu, itu bukan suatu kekeliruan dan orang bisa memaklumi pandangan semacam itu. Tapi, yang menjadi sedikit ganjelan adalah ketika mencoba menyandingkan keberhasilan Maudy dengan orang lain dalam hal ihwal akademik dll.

Ada yang mengajukan argumen begini: bahwa keberhasilan Maudy menamatkan studi di Stanford University hanyalah hal biasa dan tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan si A yang jauh lebih susah, berasal dari keluarga miskin, punya banyak tanggungan keluarga, namun berhasil menamatkan studi hingga level strata tiga (S3). Dan si A itulah the real orang hebat.

Gak cuma itu, yang lain pun menyodorkan argumen tambahan: Lagi pula, kalau Maudy ada pada posisi si A, belum tentu dia bakal sukses studi hingga S3. Maudy bisa seperti sekarang karena privilege.

Upi Talaohu, Penulis.

Sekilas, dua pandangan di atas bisa diterima. Dan nampaknya ndak perlu terlalu dipersoalkan. Tapi, kalau kita amati lagi, sungguh ini perbandingan yang tidak setara. Maksudnya piye?

Pertama, bagaimana bisa kita membandingkan pencapaian Maudy yang sejak SD-S1 sudah terbiasa dengan akses pendidikan serba bagus dan bertaraf internasional dengan seseorang dari kalangan susah, serba kurang, & terbatas dalam akses pendidikan. Lalu kita menyimpulkan si A lebih baik dari Maudy atau sebaliknya.

Baca Juga  Kebijakan-Kebijakan yang Kolot dan Kemunafikan Kita

Kalau mau, ya begini ngomongnya, “masih mending Maudy, meskipun kaya raya, banyak privilege, tapi punya girah belajar tinggi dan lulus dengan predikat terbaik di Stanford. Daripada si B, artis terkenal, kaya raya, banyak privilege, tapi belum juga lulus dari Stanford, padahal kuliahnya lebih dulu.” Nah, di sini jelas bahwa ada dua artis dengan segala macam privilege-nya, namun keduanya beda dalam pencapaian akademik.

Lagi pula, coba deh kita selami lebih jauh posisi Maudy & si A yang serba kurang itu. Kalau kita perhatikan dan telaah, ternyata baik Maudy maupun si A itu punya porsi perjuangannya masing-masing, dimana kalau kita paksa sanding-bandingkan, itu malah nampak aneh.

Misalkan begini, kita akan keliru kalau bilang perjuangan Maudy gak ada apa-apanya dibandingkan si A itu. Padahal, untuk menjadi Maudy dalam posisi studi pun, itu sudah perjuangan yang barangkali tak gampang. Mungkin, secara kebahasaan & akses pendidikan serba internasional, Maudy sudah tak bisa diragukan. Tapi di luar itu, pastilah Maudy bergelut pula dengan padatnya aktivitas keartisan yang mesti disinkronkan dengan jadwal kuliah, belum lagi tawaran pekerjaan yang mungkin saja ada yang dia tolak demi kuliahnya. Dan setumpuk masalah lainnya yang sesuai dengan porsi dirinya.

Ah, kalau hanya begitu sih gampang. Tinggal atur jadwal. Selesai. Eeiiitsss, sabar dulu. Kan Maudy bukan robot yang tak punya rasa lelah. Sebagai manusia, dia bisa sakit kapan aja, bisa sangat kelelahan, bisa depresi dll. Belum lagi, kalau harus meladeni ocehan netizen julid. Tentu, ini bukan perkara gampang.

Selain itu, ada sebuah nasihat yang saya pikir ini relevan dengan bahasan, dimana kita tidak boleh menilai pencapaian satu dengan yang lainnya begitu saja tanpa tau lebih dalam tentang apa/siapa yang kita beri nilai. Untuk itu, langkah paling aman adalah berpegang pada kata-kata ini:

Baca Juga  Menata Sektor Pendidikan Dan Wisata Di TTS

Kesuksesan seseorang adalah mampu melewati rekor pribadinya sendiri. Adapun rekor orang lain, hanyalah satu acuan, bukan keharusan melewatinya.

Seorang atlet lompat jauh dinyatakan juara bukan hanya karena melewati rekor orang lain, melainkan ia berhasil melewati rekornya sendiri hingga tampil sebagai kampiun. Untuk menjadi juara, ia harus berlatih melewati adangan, mencapai target lomba, & mendorong dirinya sendiri untuk membuat kemajuan/progres setahap demi setaha, hingga akhirnya mejadi juara sejati.

Lantas, apakah Maudy & si A tak bisa dibandingkan? Jelas dalam kasus ini, perbandingannya belum setara. Lagi pula, untuk apa kita memeuji Maudy, tapi akhirnya membatalkan atau mengurangi bobot pujian itu sendiri.

“Maudy keren bisa lulus dari Stanford University, tapi B aja. Bagusan teman gue. Anak petani, miskin, serba susah, jadi tulang punggung keluarga, tapi bisa lulus dari Harvard.”

Ayolah, setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Kita, meski punya jatah 24 jam yang sama, studi di kampus yang sama, tapi subjektivitas hidup membuat kita merasakan dan mengalami pengalaman hidup yang amat personal.

Kita sama-sama duduk di taman, tapi konteks taman itu boleh jadi sangat berbeda bagi setiap kita yang ada di sana. Bagi seorang pengamen, taman adalah ladang rejeki karena banyak orang baik di sana. Bagi anak kecil, taman adalah tempat rekreasi. Bagi petugas kebersihan, taman adalah tempat kerja dll.

Begitupun perkara studi. Mungkin semua dari kita bisa sekolah di Stanford University, mengikuti jejak Maudy. Tapi jalan menuju ke sana, adangan selama memperjuangkannya, hingga air mata yang kita teteskan, punya nilai subjektif yang mungkin hanya kita sendiri yang tau arti semua itu. Rasanya, orang lain begitu amat sok tau jika menilai perjuangan kita dengan kesimpulan-kesimpulan yang prematur, atau dengan perbandingan-perbandingan yang tak setara.

Baca Juga  Martha Olin Kuliah Sambil Jualan, Bantu Ringankan Beban Ortu

Sekarang kita kembali ke argumen lain yang sebelumnya sudah dimensyen di atas: kalau Maudy ada pada posisi si A, belum tentu dia bakal sukses studi hingga S3. Maudy bisa seperti sekarang karena privilege.

Tunggu dulu, rasanya ini berlebihan dan terkesan mendahului atau bisa jadi menyalahi takdir. Lah kok bisa? Ya, sebab kita gak tau nasib Maudy maupun si A apabila mereka bertukar posisi. Boleh jadi, Maudy akan tetap melejit hingga menjadi artis, meski dia berasal dari keluarga miskin. Probabilitas itu tetap ada. Pun sebaliknya, boleh jadi si A malah lupa ihwal girah studi karena terlanjur punya banyak kenyamanan atau malah melejit melebihi pencapaian Maudy saat ini.

Untuk itu, saya hanya ingin bilang: kalau mau memuji Maudy, pujilah dengan lebih tulus tanpa embel-embel “tapi” atau membandingkan. Begitupun dengan si A, dia adalah orang hebat dengan segala pencapaiannya, tanpa embel-embel perbandingan dengan siapapun. Biarkan Maudy dan si A melewati rekor pribadi mereka sendiri dari waktu ke waktu yang menjadikan mereka hebat dan patut kita contoh.

Tugas kita sekarang, memecahkan rekor pribadi kita sendiri, syukuri setiap apa yang mampu kita lakukan saat ini. Dan tentu mensyukuri pula bahwa kita punya sosok Maudy dan si A yang menjadi teladan. Mungkin nanti, giliran kita yang menginspirasi orang lain.

Gimana, siap menaklukkan kampus-kampus ternama dunia? Break a leg!

Komentar

News Feed