Ikuti Perayaan HUT PGRI dan HGN: Guru SMAN 2 Amfoang Timur Tekankan, Butuh Ketulusan Mengabdi di Daerah 3T

Alif Yanus Taosus, S.Pd.,Gr. dan Johanis Romanti Naimasus, S.Pd.,Gr., dua orang guru dari SMA Negeri 2 Amfoang Timur, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang ikut hadir dalam perayaan HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 yang digelar di Auditorium Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada Kamis (27/11/2025).

Dalam acara yang mempertemukan ribuan guru dari Kota Kupang dan Kabupaten Kupang itu, keduanya secara khusus mengungkapkan tantangan sekaligus panggilan moral untuk mengabdi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) seperti di wilayah Amfoang Timur maupun daerah lainnya.

Menurut keduanya, mengajar di daerah 3T membutuhkan kesiapan mental yang kuat, komitmen yang kuat, serta ketulusan untuk melayani masyarakat. Sebab, kondisi geografis Amfoang Timur dan wilayah lain yang sejenis akan menghadapkan guru pada situasi yang jauh berbeda dari perkotaan.

Jauhnya jarak dari keluarga, jelas mereka, menjadi tantangan yang paling sering dirasakan para guru yang ditempatkan di pedalaman. Kisah keduanya, banyak dari rekan guru mereka harus tinggal berbulan-bulan di lokasi tugas tanpa kesempatan mudah untuk pulang, terlebih ketika musim penghujan yang kadang membuat akses transportasi relatif terputus.

Selain keterpisahan dari keluarga, ungkap mereka, persoalan jaringan komunikasi juga menjadi hambatan utama. Beberapa titik di Amfoang Timur dan wilayah sekitarnya kadang masih berada dalam kategori blank spot sehingga kondisi tanpa sinyal ini membuat para guru kesulitan berkomunikasi dengan orang tua dan kerabat, sekaligus menantang ketika harus mengakses sumber belajar daring atau mengikuti pengembangan kompetensi berbasis digital.

Keduanya juga menyampaikan, ketiadaan fasilitas komunikasi dan keterbatasan teknologi membuat para guru di daerah 3T dituntut untuk lebih kreatif dalam merancang pembelajaran. Baik Johanis maupun Alif menilai bahwa guru di 3T tidak harus selalu mengandalkan perangkat digital seperti yang digunakan di kota sehingga mereka harus menyesuaikan metode mengajar dengan kondisi lingkungan, memanfaatkan sumber belajar lokal, menggali potensi sekitar, serta menghasilkan pendekatan yang relevan sesuai kebutuhan belajar siswa.

Menghadapi semua tantangan tersebut, keduanya menegaskan bahwa mengabdi di daerah 3T bukan hanya soal menjalankan profesi, tetapi juga soal ketulusan, keteguhan hati, dan komitmen jangka panjang. Keduanya melihat bahwa guru yang mampu bertahan dalam kondisi seperti di daerah 3T biasanya memiliki motivasi yang kuat, karena mereka juga ingin memastikan bahwa anak-anak di wilayah paling jauh dari pusat perkembangan tetap mendapat hak yang sama dalam pendidikan.

Bagi Alif dan Johanis, mengikuti perayaan HUT PGRI dan HGN di Kupang menjadi kesempatan untuk bertemu dengan para pendidik dari berbagai sekolah di Kota dan Kabupaten Kupang untuk berbagi pengalaman, serta memperkuat kembali semangat mengabdi.

Alif dan Johanis menilai, kehadiran ribuan guru dalam acara itu menunjukkan bahwa semangat kolektif pendidikan tetap kuat, meski tantangan yang dihadapi berbeda antara satu daerah dengan lainnya.  Dengan semangat HUT PGRI dan HGN tahun ini, keduanya mengajak seluruh pendidik untuk terus menjaga komitmen dalam menjalankan tugas pengabdian, terutama di wilayah 3T yang membutuhkan perhatian besar.

Alif dan Johanis meyakini bahwa perubahan besar dalam kualitas pendidikan NTT akan dimulai dari ketulusan untuk melayani, meski di tengah kondisi serba terbatas.

 

(Simon Seffi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *