google.com, pub-1400615731964576, DIRECT, f08c47fec0942fa0
oleh

Kepala Sekolah Ribet dan Rumit Masalahmu

Kepala Sekolah Ribet dan Rumit Masalahmu

Heronimus Bani

Kemarin (24/02/20), pada salah satu dinding Grup FB Nadiem Makarim, di sana seseorang anggota bernama Neni Astaria, memposting satu artikel dengan judul, Tanggung Jawab Berat, Banyak Kepala Sekolah Pilih Jadi Guru Biasa. Selanjutnya dapat dibaca di sini[1].

Sampai dengan kurang dari 48 jam ketika saya menulis artikel pendek ini, sudah ada 291 respon, di antaranya 279 like, 6 super like, 1 wow, 2 laugh, 1 sad. Lalu, ada 60 komentar dan 62 kali dibagikan. Di antara komentar-komentar yang nampak bernas mendapat respon dan diskusi pula dari para anggota grup. Mereka yang dominan memberikan respon menyampaikan bahwa lebih nikmat menjadi guru biasa (guru kelas dan guru mata pelajaran) daripada menjadi kepala sekolah. Hal ini dikarenakan mereka merasa lebih tenang. Tanggung jawab ada pada pembelajaran (mengajar dan mendidik) termasuk menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan proses di kelas, tanpa gangguan untuk pergi ke sana ke mari dengan biaya yang dikeluarkan dari kantong pribadi.

Baca Juga  Domba yang memilih menjadi Unta: Masalahkah buat kalian?

Mereka yang mendukung agar jabatan itu tetap harus dapat dijalankan sebagai amanah, menyatakan, memang tugas itu harus dilaksanakan karena telah diembankan oleh negara kepada mereka.Hal itu terjadi oleh karena penilaian kinerja yang dibuat oleh para pengambil keputusan bahwa guru X dapat menjadi kepala sekolah, terlebih lagi masa ini seseorang menjadi kepala sekolah setelah memiliki sertifikat sebagai kepala sekolah, dan mempunyai nomor register kepala sekolah yang disebut Nomor Unik Kepala Sekolah.

Baca Juga  Daniel Kameo: Kemiskinan di NTT juga Tanggungjawab Gereja

Bahwa sehubungan dengan penunjukan sebagai kepala sekolah, hal itu menjadi kewenangan para kepala daerah (provinsi, kota dan kabupaten). Maka, tunjangan jabatan sebagai kepala sekolah diberikan oleh pemerintah daerah sesuai porsinya. Besar-kecilnya pendapatan asli daerah akan menjadi item pertimbagan untuk memberikan tunjangan kepada para ASN yang memangku jabatan tertentu di seluruh wilayah daerah itu (Provinsi, Kota dan Kabupaten), termasuk para kepala sekolah. Saya mengikuti diskusi para anggota dalam grup ini. Sungguh menarik. Bahwa ternyata di daerah lain di Indonesia ada oknum guru yang katanya berebutan untuk mendapatkan perhatian agar terpilih menjadi kepala sekolah.

Baca Juga  Keterbukaan Pemimpin Melahirkan Semangat Kerja Guru dan Karyawan

Sementara di daerah lain, justru terjadi pengunduran diri hingga banyak sekolah vacuum tanpa kepala sekolah.

Apakah ada yang salah dengan jabatan ini?

Mungkin perlu diskusi lanjutan.

 

Amarasi Selatan, 25 Februari 2020

 

[1] https://www.gurukuaan.com/2020/02/tanjungjawab-berat-banyak-kepala.html?m

Komentar

News Feed